Cari disini...
Seputar Kaltim
Pelantikan pengurus Forum Berau Sehat (FBS) periode 2025-2028, di Ruang Rapat Sangalaki Kantor Bupati Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Permasalahan buang air besar sembarangan di Kabupaten Berau masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum tuntas di tangani hingga saat ini. Hal itu, disampaikan Ketua Forum Berau Sehat (FBS), Sultan usai dirinya dilantik oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas di Ruang Rapat Sangalaki Kantor Bupati Berau, Senin (17/3/2025).
Tidak Buang Air Besar Sembarangan atau sering disebut juga Open Defecation Free (ODF) adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan.
Sedangkan, FBS merupakan salah satu mitra pemerintah daerah. Dimana komitmen Pemkab Berau yaitu mewujudkan tempat yang layak dan sehat bagi masyarakat.
Ketua FBS, Sultan menyebut bahwa Kabupaten Berau sendiri mengalami peningkatan dalam penanganan ODF. pada tahun 2024 penyelenggaraan kabupaten/kota sehat di Berau menunjukkan peningkatan, terutama pilar pertama dari lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
"Dari pengurus FBS yang baru dilantik, kami pun optimis dapat melanjutkan program yang sudah ada yang berjalan sejak tiga tahun belakangan ini," kata Sultan.
Ia juga menyampaikan, pada tahun 2025 ini, akan ada penilaian kabupaten/kota sehat se-Indonesia dan Kabupaten Berau masuk dalam kategori penilaian. Dirinya berkomitmen, akan menjalankan program kerja FBS dari tingkat kabupaten hingga kampung. Sehingga, bisa mengikuti penilaian nasional dan meningkatkan status penghargaan Swastisaba.
"Saat ini, Berau baru mendapatkan tingkatan pertama dalam penghargaan Swastisaba," ujarnya.
Sultan berharap, dengan sinergi dan dukungan dari berbagai pihak, status penghargaan tersebut bisa meningkat kedepannya.
"Kami terus memberikan perhatian agar fungsi dan tugas FBS bisa mendukung peningkatan sektor kesehatan di Berau," tungkasnya.
Sementara itu, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas mengatakan, keberadaan FBS di Kabupaten Berau sebagai wujud nyata Pemerintah Daerah (Pemda) dalam menuntaskan permasalahan di sektor kesehatan dan lingkungan. Salah satunya, dengan mewujudkan Kabupaten Berau bebas ODF dan menurunkan angka stunting.
"Ke depan, saya harap dari FBS ada gerakan-gerakan yang lebih nyata. Dengan melakukan sinergitas yang baik dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah kampung termasuk pihak ketiga seperti perusahaan," kata Bupati Berau.
Selain itu, ia mengatakan, FBS harus lebih aktif turun ke lapangan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat.
"Saya ingin FBS bisa menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan edukasi dan pendampingan, terutama dalam penurunan angka stunting yang masih cukup tinggi di Bumi Batiwakkal," tuturnya.
Dirinya menyampaikan, meskipun indeks kesehatan di Berau terus mengalami peningkatan, namun masih ada beberapa aspek yang perlu dorongan ekstra agar target yang telah ditetapkan bisa tercapai.
"Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada FBS agar lebih optimal dalam menjalankan tugasnya," ujarnya.
Sri berharap FBS tidak hanya terfokus pada penanganan ODF saja, tetapi juga bisa lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan program kesehatan lainnya yang berdampak luas bagi masyarakat.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pelantikan pengurus Forum Berau Sehat (FBS) periode 2025-2028, di Ruang Rapat Sangalaki Kantor Bupati Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Permasalahan buang air besar sembarangan di Kabupaten Berau masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang belum tuntas di tangani hingga saat ini. Hal itu, disampaikan Ketua Forum Berau Sehat (FBS), Sultan usai dirinya dilantik oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas di Ruang Rapat Sangalaki Kantor Bupati Berau, Senin (17/3/2025).
Tidak Buang Air Besar Sembarangan atau sering disebut juga Open Defecation Free (ODF) adalah kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada penyebaran penyakit berbasis lingkungan.
Sedangkan, FBS merupakan salah satu mitra pemerintah daerah. Dimana komitmen Pemkab Berau yaitu mewujudkan tempat yang layak dan sehat bagi masyarakat.
Ketua FBS, Sultan menyebut bahwa Kabupaten Berau sendiri mengalami peningkatan dalam penanganan ODF. pada tahun 2024 penyelenggaraan kabupaten/kota sehat di Berau menunjukkan peningkatan, terutama pilar pertama dari lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
"Dari pengurus FBS yang baru dilantik, kami pun optimis dapat melanjutkan program yang sudah ada yang berjalan sejak tiga tahun belakangan ini," kata Sultan.
Ia juga menyampaikan, pada tahun 2025 ini, akan ada penilaian kabupaten/kota sehat se-Indonesia dan Kabupaten Berau masuk dalam kategori penilaian. Dirinya berkomitmen, akan menjalankan program kerja FBS dari tingkat kabupaten hingga kampung. Sehingga, bisa mengikuti penilaian nasional dan meningkatkan status penghargaan Swastisaba.
"Saat ini, Berau baru mendapatkan tingkatan pertama dalam penghargaan Swastisaba," ujarnya.
Sultan berharap, dengan sinergi dan dukungan dari berbagai pihak, status penghargaan tersebut bisa meningkat kedepannya.
"Kami terus memberikan perhatian agar fungsi dan tugas FBS bisa mendukung peningkatan sektor kesehatan di Berau," tungkasnya.
Sementara itu, Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas mengatakan, keberadaan FBS di Kabupaten Berau sebagai wujud nyata Pemerintah Daerah (Pemda) dalam menuntaskan permasalahan di sektor kesehatan dan lingkungan. Salah satunya, dengan mewujudkan Kabupaten Berau bebas ODF dan menurunkan angka stunting.
"Ke depan, saya harap dari FBS ada gerakan-gerakan yang lebih nyata. Dengan melakukan sinergitas yang baik dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah kampung termasuk pihak ketiga seperti perusahaan," kata Bupati Berau.
Selain itu, ia mengatakan, FBS harus lebih aktif turun ke lapangan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam memberikan edukasi mengenai pola hidup sehat.
"Saya ingin FBS bisa menjadi salah satu garda terdepan dalam memberikan edukasi dan pendampingan, terutama dalam penurunan angka stunting yang masih cukup tinggi di Bumi Batiwakkal," tuturnya.
Dirinya menyampaikan, meskipun indeks kesehatan di Berau terus mengalami peningkatan, namun masih ada beberapa aspek yang perlu dorongan ekstra agar target yang telah ditetapkan bisa tercapai.
"Kami berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada FBS agar lebih optimal dalam menjalankan tugasnya," ujarnya.
Sri berharap FBS tidak hanya terfokus pada penanganan ODF saja, tetapi juga bisa lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan program kesehatan lainnya yang berdampak luas bagi masyarakat.
(Sf/Rs)