Cari disini...
Seputar Kaltim
Wali Kota Samarinda, Andi Harun (Foto : Umar Daud/Seputarfakta.com)
Samarinda - Wali Kota Samarinda, Andi Harun menekankan pentingnya pembenanahan dalam realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda. Hal jni agar mencegah aegala masalah di tengah kasus keracunan yang mrak dibeberapa daerah belakangan ini.
Ia menilai, salah satu faktor penting adalah penyediaan fasilitas penyimpanan bahan makanan yang memadai guna menghindari kerusakan pada bahan yang tersedia di dapur penyelenggaraan MBG.
"Yang terpenting itu semua dapur yang menangai MBG punya cold storega, jika ada alat penyimpanan yang memadai tentu tidak akan cepat merjsak bahan pangan yang digunakan nanti," ujar Andi Harun, Jumt (3/10/2025).
Meski demikian, diakuinya, banyak tantangan besar yang dihadapi dalam pelaksanaan program tersebut. Terutama setiap penyelengara harus menyediakan ribuan porsi setiap harinya.
Oleh karena itu, sistem pengelolaan dan penyimpaanan bahan pangan harus diperketat dan dilakukan secara berkelanjutan.
"Makanya kita perlu melakukan langkah pencegahan. Satgas bersama Forkopimda dan BGN akan terus berkoordinasi agar menghindari hal yang tida diinginkan," tegasnya.
Selain itu, kasus yang kerap disebut sebagai keracunan makanan umumnya bukan berasal dari zat berbahaya tertentu, melainkan akibat bahan makanan yang sudah basi karena penyimpanan terlalu lama.
"Barang itu kalau terlalu lama disimpan, itu pasti akan terjangkit dengan virus, bakteri, atau mikroba tertentu. Dan itu yang menyebabkan gangguan pencernaan pada siswa penerima bantuan," paparnya.
Untuk itu, ia menekankan bahwa solusi tidak bisa dicapai hanya dengan memperhatikan satu atau dua variabel saja. Melainkan harus melalui kolaborasi antar pihak dalam menentukan model mitigasi yang tepat.
"Hari ini misalnya kita datang, periksa makanan, kalau dapurnya belum punya freezer, besok beli makanan lagi. Jadi bicara ini tidak bisa hanya dengan satu dua variabel. Itu tidak menyelesaikan masalah, tapi harus kolaborasi untuk menentukan model mitigasi yang paling cocok," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Wali Kota Samarinda, Andi Harun (Foto : Umar Daud/Seputarfakta.com)
Samarinda - Wali Kota Samarinda, Andi Harun menekankan pentingnya pembenanahan dalam realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Samarinda. Hal jni agar mencegah aegala masalah di tengah kasus keracunan yang mrak dibeberapa daerah belakangan ini.
Ia menilai, salah satu faktor penting adalah penyediaan fasilitas penyimpanan bahan makanan yang memadai guna menghindari kerusakan pada bahan yang tersedia di dapur penyelenggaraan MBG.
"Yang terpenting itu semua dapur yang menangai MBG punya cold storega, jika ada alat penyimpanan yang memadai tentu tidak akan cepat merjsak bahan pangan yang digunakan nanti," ujar Andi Harun, Jumt (3/10/2025).
Meski demikian, diakuinya, banyak tantangan besar yang dihadapi dalam pelaksanaan program tersebut. Terutama setiap penyelengara harus menyediakan ribuan porsi setiap harinya.
Oleh karena itu, sistem pengelolaan dan penyimpaanan bahan pangan harus diperketat dan dilakukan secara berkelanjutan.
"Makanya kita perlu melakukan langkah pencegahan. Satgas bersama Forkopimda dan BGN akan terus berkoordinasi agar menghindari hal yang tida diinginkan," tegasnya.
Selain itu, kasus yang kerap disebut sebagai keracunan makanan umumnya bukan berasal dari zat berbahaya tertentu, melainkan akibat bahan makanan yang sudah basi karena penyimpanan terlalu lama.
"Barang itu kalau terlalu lama disimpan, itu pasti akan terjangkit dengan virus, bakteri, atau mikroba tertentu. Dan itu yang menyebabkan gangguan pencernaan pada siswa penerima bantuan," paparnya.
Untuk itu, ia menekankan bahwa solusi tidak bisa dicapai hanya dengan memperhatikan satu atau dua variabel saja. Melainkan harus melalui kolaborasi antar pihak dalam menentukan model mitigasi yang tepat.
"Hari ini misalnya kita datang, periksa makanan, kalau dapurnya belum punya freezer, besok beli makanan lagi. Jadi bicara ini tidak bisa hanya dengan satu dua variabel. Itu tidak menyelesaikan masalah, tapi harus kolaborasi untuk menentukan model mitigasi yang paling cocok," tutupnya.
(Sf/Rs)