Seputar Kaltim

    Manutung Jukut Ditiadakan, Pemkab Berau Tetap Salurkan Ikan ke 13 Kecamatan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    19 Agustus 2026 pukul 10:20 WITA

    Festival Manutung Jukut atau tradisi membakar ikan bersama di Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau meniadakan kegiatan pembakaran ikan secara massal dalam tradisi Manutung Jukut 2026 yang semulanya dijadwalkan pada bulan September mendatang. Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kebakaran di tengah kondisi cuaca panas ekstrem yang terjadi.

    Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan perubahan konsep tersebut tidak berarti pemberian ikan kepada masyarakat ikut dihentikan. Pemkab Berau pun tetap memastikan masyarakat agar mendapatkan ikan yang telah disiapkan.

    "Dibatalkan, tetapi bukan berarti kita tidak memberikan ikan. Jadi ikan ini akan disebarkan di 13 kecamatan, tetapi masak di rumah masing-masing," ujar Sri Juniarsih.

    Ia menjelaskan bahwa kondisi suhu udara yang tinggi saat ini menjadi salah satu pertimbangan utama. Kegiatan yang melibatkan pembakaran secara massal perlu dihindari untuk mengurangi potensi terjadinya kebakaran.

    "Karena ini cuaca panas, tidak ada membakar-bakar saja sudah panas, apalagi tambah bakar ikan. Kita juga mengantisipasi resiko cuaca ekstrem ini," katanya.

    Meski demikian, ia menyebut dengan konsep pembagian ikan tersebut, masyarakat tetap dapat menikmati hasil perikanan yang disediakan Pemkab Berau. Masyarakat dapat mengolah ikan tersebut di rumah masing-masing bersama keluarga. 

    "Selain lebih aman, cara ini juga bisa mengurangi risiko penggunaan api secara bersamaan dalam jumlah besar," tuturnya.

    Ia juga menegaskan, keputusan tersebut diambil bukan untuk menghilangkan kegiatan berbagi ikan kepada masyarakat, melainkan menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi yang ada. Sebab, kondisi panas yang terjadi membuat penggunaan api di ruang terbuka harus diminimalkan. 

    Sehingga, Pemkab Berau tidak ingin kegiatan yang bertujuan menghadirkan kebersamaan justru menimbulkan persoalan baru.

    "Keputusan ini diambil berdasarkan beberapa pertimbangan yang matang. Mulai dari suhu udara ekstrem, pencegahan risiko kebakaran dan juga upaya mitigasi. Saya tidak mau ada unsur ketidaksengajaan, membuat hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi," tandasnya.

    Terakhir, Bupati Berau pun berharap masyarakat dapat memahami perubahan pelaksanaan Manutung Jukut sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan bersama. Terlebih, kondisi cuaca panas membutuhkan kewaspadaan lebih untuk mencegah terjadinya kebakaran.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Manutung Jukut Ditiadakan, Pemkab Berau Tetap Salurkan Ikan ke 13 Kecamatan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    19 Agustus 2026 pukul 10:20 WITA

    Festival Manutung Jukut atau tradisi membakar ikan bersama di Kabupaten Berau. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau meniadakan kegiatan pembakaran ikan secara massal dalam tradisi Manutung Jukut 2026 yang semulanya dijadwalkan pada bulan September mendatang. Keputusan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi terhadap potensi kebakaran di tengah kondisi cuaca panas ekstrem yang terjadi.

    Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, mengatakan perubahan konsep tersebut tidak berarti pemberian ikan kepada masyarakat ikut dihentikan. Pemkab Berau pun tetap memastikan masyarakat agar mendapatkan ikan yang telah disiapkan.

    "Dibatalkan, tetapi bukan berarti kita tidak memberikan ikan. Jadi ikan ini akan disebarkan di 13 kecamatan, tetapi masak di rumah masing-masing," ujar Sri Juniarsih.

    Ia menjelaskan bahwa kondisi suhu udara yang tinggi saat ini menjadi salah satu pertimbangan utama. Kegiatan yang melibatkan pembakaran secara massal perlu dihindari untuk mengurangi potensi terjadinya kebakaran.

    "Karena ini cuaca panas, tidak ada membakar-bakar saja sudah panas, apalagi tambah bakar ikan. Kita juga mengantisipasi resiko cuaca ekstrem ini," katanya.

    Meski demikian, ia menyebut dengan konsep pembagian ikan tersebut, masyarakat tetap dapat menikmati hasil perikanan yang disediakan Pemkab Berau. Masyarakat dapat mengolah ikan tersebut di rumah masing-masing bersama keluarga. 

    "Selain lebih aman, cara ini juga bisa mengurangi risiko penggunaan api secara bersamaan dalam jumlah besar," tuturnya.

    Ia juga menegaskan, keputusan tersebut diambil bukan untuk menghilangkan kegiatan berbagi ikan kepada masyarakat, melainkan menyesuaikan pelaksanaannya dengan kondisi yang ada. Sebab, kondisi panas yang terjadi membuat penggunaan api di ruang terbuka harus diminimalkan. 

    Sehingga, Pemkab Berau tidak ingin kegiatan yang bertujuan menghadirkan kebersamaan justru menimbulkan persoalan baru.

    "Keputusan ini diambil berdasarkan beberapa pertimbangan yang matang. Mulai dari suhu udara ekstrem, pencegahan risiko kebakaran dan juga upaya mitigasi. Saya tidak mau ada unsur ketidaksengajaan, membuat hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi," tandasnya.

    Terakhir, Bupati Berau pun berharap masyarakat dapat memahami perubahan pelaksanaan Manutung Jukut sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan bersama. Terlebih, kondisi cuaca panas membutuhkan kewaspadaan lebih untuk mencegah terjadinya kebakaran.

    (Sf/Lo)