Seputar Kaltim

    Mangrove Kampung Baru Dilirik Pusat, PPU Buka Peluang Kolaborasi

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    07 Mei 2026 pukul 11:57 WITA

    Kunjungan Sekretariat Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi (PDASRH) Kementerian Kehutanan, Zsinal Arifin ke Ekowisata Mangrove Kampung Baru, didampingi Bupati PPU, Mudyat Noor. (Dok: Humas Setkab PPU).

    Penajam - Kawasan ekowisata mangrove di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam mulai dilirik pemerintah pusat. Hal ini ditandai dengan kunjungan Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan, Muhammad Zainal Arifin, Rabu (6/5/2026).

    Kunjungan yang didampingi Bupati PPU, Mudyat Noor tersebut bukan sekadar peninjauan, melainkan langkah awal untuk menjajaki peluang kolaborasi pengembangan kawasan mangrove.

    Mudyat mengungkap, kawasan mangrove di PPU memiliki potensi yang belum tergarap maksimal. Padahal, selain menjaga lingkungan pesisir, mangrove juga bisa didorong jadi sumber ekonomi masyarakat.

    "Ekosistem mangrove ini merupakan salah satu aset penting daerah, perannya tidak hanya dari sisi lingkungan, tapi juga bisa dikembangkan menjadi ekowisata" ujarnya. 

    Ia mengatakan pihaknya siap berkolaborasi untuk mengembangkan kawasan mangrove di Kampung Baru, termasuk menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat. 

    Menurutnya, pengembangan tidak hanya berfokus pada fisik, tapi juga penguatan masyarakatnya, terutama pokdarwis. 

    “Ke depan kita coba kolaborasikan. Fokus kita tidak hanya pembangunan fisik, namun mencakup pendampingan pokdarwis agar bisa mengelola kawasan ini secara berkelanjutan," katanya.

    Dukungan pendanaan akan didorong untuk membantu penyediaan fasilitas penunjang, sehingga kawasan dapat berkembang menjadi destinasi unggulan. 

    Sementara peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove juga menjadi bagian penting dalam pengembangan. 

    Pengembangan kawasan mangrove dipilih karena PPU dinilai memiliki potensi mangrove yang cukup besar, tetapi belum tergarap maksimal. Posisi wilayah yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi salah satu pertimbangan.

    "Ini juga bagian dari dukungan rehabilitasi mangrove di kawasan IKN, karena PPU merupakan wilayah penyangga," imbuhnya. 

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Mangrove Kampung Baru Dilirik Pusat, PPU Buka Peluang Kolaborasi

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    07 Mei 2026 pukul 11:57 WITA

    Kunjungan Sekretariat Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi (PDASRH) Kementerian Kehutanan, Zsinal Arifin ke Ekowisata Mangrove Kampung Baru, didampingi Bupati PPU, Mudyat Noor. (Dok: Humas Setkab PPU).

    Penajam - Kawasan ekowisata mangrove di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Penajam mulai dilirik pemerintah pusat. Hal ini ditandai dengan kunjungan Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kementerian Kehutanan, Muhammad Zainal Arifin, Rabu (6/5/2026).

    Kunjungan yang didampingi Bupati PPU, Mudyat Noor tersebut bukan sekadar peninjauan, melainkan langkah awal untuk menjajaki peluang kolaborasi pengembangan kawasan mangrove.

    Mudyat mengungkap, kawasan mangrove di PPU memiliki potensi yang belum tergarap maksimal. Padahal, selain menjaga lingkungan pesisir, mangrove juga bisa didorong jadi sumber ekonomi masyarakat.

    "Ekosistem mangrove ini merupakan salah satu aset penting daerah, perannya tidak hanya dari sisi lingkungan, tapi juga bisa dikembangkan menjadi ekowisata" ujarnya. 

    Ia mengatakan pihaknya siap berkolaborasi untuk mengembangkan kawasan mangrove di Kampung Baru, termasuk menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat. 

    Menurutnya, pengembangan tidak hanya berfokus pada fisik, tapi juga penguatan masyarakatnya, terutama pokdarwis. 

    “Ke depan kita coba kolaborasikan. Fokus kita tidak hanya pembangunan fisik, namun mencakup pendampingan pokdarwis agar bisa mengelola kawasan ini secara berkelanjutan," katanya.

    Dukungan pendanaan akan didorong untuk membantu penyediaan fasilitas penunjang, sehingga kawasan dapat berkembang menjadi destinasi unggulan. 

    Sementara peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove juga menjadi bagian penting dalam pengembangan. 

    Pengembangan kawasan mangrove dipilih karena PPU dinilai memiliki potensi mangrove yang cukup besar, tetapi belum tergarap maksimal. Posisi wilayah yang berdekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi salah satu pertimbangan.

    "Ini juga bagian dari dukungan rehabilitasi mangrove di kawasan IKN, karena PPU merupakan wilayah penyangga," imbuhnya. 

    (Sf/Lo)