Seputar Kaltim

    Malaria di Kutim Tembus 125 Kasus, Sangatta Selatan Masuk Tiga Wilayah Tertinggi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    24 September 2026 pukul 11:17 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kasus malaria di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini tidak hanya banyak ditemukan di wilayah yang selama ini dikenal sebagai daerah rawan seperti Sandaran dan Sangkulirang. Peningkatan kasus juga terlihat di Sangatta Selatan.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kutim, tercatat 125 kasus positif malaria hingga Agustus 2026. Wilayah kerja Puskesmas Sandaran menjadi yang tertinggi dengan 32 kasus, disusul Kaliorang 25 kasus, Sangatta Selatan 21 kasus dan Sangkulirang 13 kasus.

    Kasus lainnya tercatat di Puskesmas Teluk Lingga sebanyak 8 kasus, Karangan Dalam 6 kasus, Kaubun 5 kasus, Muara Wahau I 4 kasus, Teluk Pandan 3 kasus, serta Sepaso dan Kongbeng masing-masing 2 kasus.

    Sementara Puskesmas Sangatta Utara, Telen, Busang dan Muara Wahau masing-masing mencatat satu kasus.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, menyebut kasus malaria yang sebelumnya banyak ditemukan di Sandaran dan Sangkulirang kini juga meningkat di Sangatta Selatan.

    “Dulu malaria ini yang ada kan misalnya di Sandaran, Sangkulirang yang memang daerah-daerah hutan begitu ya. Nah, ternyata ini Sangatta Selatan pun sudah banyak juga kasus malaria,” ujar Yuwana.

    Menurutnya, pembukaan lahan, baik untuk perkebunan maupun permukiman, dapat membuat nyamuk berpindah sehingga masyarakat di sekitar lokasi berisiko tergigit.

    “Kalau ada pembukaan lahan, sawit misalnya atau memang hutan yang dibuka untuk perumahan, apalagi itu kan pasti nyamuknya lari semua dan orang yang di situ tadi akan tergigit,” katanya.

    Ia meminta masyarakat yang melakukan pembukaan lahan, baik secara mandiri, kelompok tani maupun melalui perusahaan, berkoordinasi dengan Puskesmas terdekat.

    “Siapapun itu kalau melakukan pembukaan lahan, baik itu secara mandiri, biasanya kelompok tani atau yang lewat perusahaan, mohon bisa selalu berkoordinasi dengan Puskesmas setempat,” tambahnya.

    Koordinasi itu diperlukan agar petugas bisa melakukan pemeriksaan malaria, termasuk mengambil sampel darah masyarakat yang beraktivitas di lokasi. Jika ditemukan kasus positif, pasien akan mendapat pengobatan dan langkah pencegahan, termasuk pemberian kelambu berinsektisida.

    Yuwana juga mengingatkan malaria bukan penyakit yang bisa dianggap ringan. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles yang membawa parasit malaria.

    Salah satu kondisi yang paling berbahaya adalah malaria serebral ketika infeksi menyerang otak dan dapat menyebabkan kematian.

    “Ada yang memang paling berbahaya namanya malaria serebral. Jadi sampai ke otak. Kalau sudah menyerang otak ya akhirnya pasiennya bisa meninggal,” tegasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Malaria di Kutim Tembus 125 Kasus, Sangatta Selatan Masuk Tiga Wilayah Tertinggi

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    24 September 2026 pukul 11:17 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Kasus malaria di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini tidak hanya banyak ditemukan di wilayah yang selama ini dikenal sebagai daerah rawan seperti Sandaran dan Sangkulirang. Peningkatan kasus juga terlihat di Sangatta Selatan.

    Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kutim, tercatat 125 kasus positif malaria hingga Agustus 2026. Wilayah kerja Puskesmas Sandaran menjadi yang tertinggi dengan 32 kasus, disusul Kaliorang 25 kasus, Sangatta Selatan 21 kasus dan Sangkulirang 13 kasus.

    Kasus lainnya tercatat di Puskesmas Teluk Lingga sebanyak 8 kasus, Karangan Dalam 6 kasus, Kaubun 5 kasus, Muara Wahau I 4 kasus, Teluk Pandan 3 kasus, serta Sepaso dan Kongbeng masing-masing 2 kasus.

    Sementara Puskesmas Sangatta Utara, Telen, Busang dan Muara Wahau masing-masing mencatat satu kasus.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, menyebut kasus malaria yang sebelumnya banyak ditemukan di Sandaran dan Sangkulirang kini juga meningkat di Sangatta Selatan.

    “Dulu malaria ini yang ada kan misalnya di Sandaran, Sangkulirang yang memang daerah-daerah hutan begitu ya. Nah, ternyata ini Sangatta Selatan pun sudah banyak juga kasus malaria,” ujar Yuwana.

    Menurutnya, pembukaan lahan, baik untuk perkebunan maupun permukiman, dapat membuat nyamuk berpindah sehingga masyarakat di sekitar lokasi berisiko tergigit.

    “Kalau ada pembukaan lahan, sawit misalnya atau memang hutan yang dibuka untuk perumahan, apalagi itu kan pasti nyamuknya lari semua dan orang yang di situ tadi akan tergigit,” katanya.

    Ia meminta masyarakat yang melakukan pembukaan lahan, baik secara mandiri, kelompok tani maupun melalui perusahaan, berkoordinasi dengan Puskesmas terdekat.

    “Siapapun itu kalau melakukan pembukaan lahan, baik itu secara mandiri, biasanya kelompok tani atau yang lewat perusahaan, mohon bisa selalu berkoordinasi dengan Puskesmas setempat,” tambahnya.

    Koordinasi itu diperlukan agar petugas bisa melakukan pemeriksaan malaria, termasuk mengambil sampel darah masyarakat yang beraktivitas di lokasi. Jika ditemukan kasus positif, pasien akan mendapat pengobatan dan langkah pencegahan, termasuk pemberian kelambu berinsektisida.

    Yuwana juga mengingatkan malaria bukan penyakit yang bisa dianggap ringan. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles yang membawa parasit malaria.

    Salah satu kondisi yang paling berbahaya adalah malaria serebral ketika infeksi menyerang otak dan dapat menyebabkan kematian.

    “Ada yang memang paling berbahaya namanya malaria serebral. Jadi sampai ke otak. Kalau sudah menyerang otak ya akhirnya pasiennya bisa meninggal,” tegasnya.

    (Sf/Rs)