Seputar Kaltim

    Makna 81 Tahun Kemerdekaan di Mata Penyapu Jalan, Antara Perjuangan Ekonomi dan Penjajahan Mental

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    17 Agustus 2026 pukul 19:07 WITA

    Penyapu jalan yang memaknai kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Semarak perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia terasa di berbagai sudut daerah. 

    Namun, di balik kemeriahan dan deretan bendera merah putih yang berkibar, terselip pandangan berbeda dari para pahlawan kebersihan yang setiap hari merawat wajah kota. 

    Bagi mereka, kemerdekaan bukanlah sekadar kebebasan fisik dari belenggu masa lalu, melainkan sebuah perjuangan yang hingga detik ini masih terus berjalan.

    Jamalia, seorang penyapu jalan, memandang kemerdekaan dari realitas ekonomi yang ia hadapi sehari-hari. 

    Baginya, bangsa ini memang sudah terbebas dari penjajahan asing secara fisik, namun beban ekonomi yang menghimpit membuatnya merasa seolah masyarakat kecil masih berjuang di negeri sendiri.

    "Merdeka karena enggak ada yang jajah, cuma masalah ekonomi aja kayaknya kita dijajah," ungkap Jamalia diwawancarai di pinggir Jalan Gadjah Mada, Senin (17/8/2026).

    Ia juga menyoroti pemerataan kesejahteraan dan bantuan yang menurutnya belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara adil. 

    Harapan untuk merasakan kemerdekaan yang utuh terkadang masih terbentur pada kenyataan di lapangan.

    "Maunya kita ini merata gitu. Masalah bantuan pemerintah atau apa itu merata, tapi kayaknya ya kadang ada yang dapat, kadang ada enggak gitu aja," tambahnya.

    Pandangan yang lebih mendalam diutarakan oleh Siti, yang telah mengabdi sebagai penyapu jalan sejak awal 2013. 

    Siti mengamini bahwa secara fisik, masyarakat kini telah bebas untuk bekerja, berkarya, dan bertindak tanpa hambatan. 

    Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai kemerdekaan dari dalam diri manusia Indonesia.

    "Kalau merdeka secara fisik, artinya kita sudah diberi kebebasan untuk berkarya, berpikir, bertindak. Tapi merdeka secara mental kayaknya masih dalam proses," tutur Siti.

    Lebih lanjut, ia merasa bahwa peperangan masa kini tidak lagi berwujud serangan dari luar, melainkan kendali tak kasatmata yang memengaruhi pola pikir dan pengetahuan masyarakat. Ketidaksadaran akan hal ini membuat bangsa rentan dikendalikan tanpa terasa.

    "Kalau dulu secara fisik kita yang dipekerjakan. Sekarang otak kita yang dipakai. Nah, akhirnya kita enggak sadar kalau kita sedang dikondisikan, dikendalikan. Oleh siapa? Oleh para penjajah yang masuk ke dalam," jelasnya.

    Pada akhirnya, Siti menyadari bahwa kesejahteraan dan kemerdekaan sejati tidak bisa diraih secara instan atau sekadar menuntut perbaikan tanpa henti. 

    Kemerdekaan di usia ke-81 ini adalah proses panjang yang membutuhkan sinergi dari seluruh elemen masyarakat.

    "Ya itu tadi, karena berproses enggak bisa kita instan. Harus ada kerja sama. Harus ada saling membantu, saling membangun, baru bisa dicapai yang namanya kesejahteraan," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Makna 81 Tahun Kemerdekaan di Mata Penyapu Jalan, Antara Perjuangan Ekonomi dan Penjajahan Mental

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    17 Agustus 2026 pukul 19:07 WITA

    Penyapu jalan yang memaknai kemerdekaan dari sudut pandang yang berbeda. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - Semarak perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia terasa di berbagai sudut daerah. 

    Namun, di balik kemeriahan dan deretan bendera merah putih yang berkibar, terselip pandangan berbeda dari para pahlawan kebersihan yang setiap hari merawat wajah kota. 

    Bagi mereka, kemerdekaan bukanlah sekadar kebebasan fisik dari belenggu masa lalu, melainkan sebuah perjuangan yang hingga detik ini masih terus berjalan.

    Jamalia, seorang penyapu jalan, memandang kemerdekaan dari realitas ekonomi yang ia hadapi sehari-hari. 

    Baginya, bangsa ini memang sudah terbebas dari penjajahan asing secara fisik, namun beban ekonomi yang menghimpit membuatnya merasa seolah masyarakat kecil masih berjuang di negeri sendiri.

    "Merdeka karena enggak ada yang jajah, cuma masalah ekonomi aja kayaknya kita dijajah," ungkap Jamalia diwawancarai di pinggir Jalan Gadjah Mada, Senin (17/8/2026).

    Ia juga menyoroti pemerataan kesejahteraan dan bantuan yang menurutnya belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara adil. 

    Harapan untuk merasakan kemerdekaan yang utuh terkadang masih terbentur pada kenyataan di lapangan.

    "Maunya kita ini merata gitu. Masalah bantuan pemerintah atau apa itu merata, tapi kayaknya ya kadang ada yang dapat, kadang ada enggak gitu aja," tambahnya.

    Pandangan yang lebih mendalam diutarakan oleh Siti, yang telah mengabdi sebagai penyapu jalan sejak awal 2013. 

    Siti mengamini bahwa secara fisik, masyarakat kini telah bebas untuk bekerja, berkarya, dan bertindak tanpa hambatan. 

    Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai kemerdekaan dari dalam diri manusia Indonesia.

    "Kalau merdeka secara fisik, artinya kita sudah diberi kebebasan untuk berkarya, berpikir, bertindak. Tapi merdeka secara mental kayaknya masih dalam proses," tutur Siti.

    Lebih lanjut, ia merasa bahwa peperangan masa kini tidak lagi berwujud serangan dari luar, melainkan kendali tak kasatmata yang memengaruhi pola pikir dan pengetahuan masyarakat. Ketidaksadaran akan hal ini membuat bangsa rentan dikendalikan tanpa terasa.

    "Kalau dulu secara fisik kita yang dipekerjakan. Sekarang otak kita yang dipakai. Nah, akhirnya kita enggak sadar kalau kita sedang dikondisikan, dikendalikan. Oleh siapa? Oleh para penjajah yang masuk ke dalam," jelasnya.

    Pada akhirnya, Siti menyadari bahwa kesejahteraan dan kemerdekaan sejati tidak bisa diraih secara instan atau sekadar menuntut perbaikan tanpa henti. 

    Kemerdekaan di usia ke-81 ini adalah proses panjang yang membutuhkan sinergi dari seluruh elemen masyarakat.

    "Ya itu tadi, karena berproses enggak bisa kita instan. Harus ada kerja sama. Harus ada saling membantu, saling membangun, baru bisa dicapai yang namanya kesejahteraan," pungkasnya.

    (Sf/Rs)