Seputar Kaltim

    Mahyunadi Soroti Beratnya Perjuangan Bidan di Pelosok Kutim, Jauh dari Keluarga Demi Bertugas

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    03 Agustus 2026 pukul 13:01 WITA

    Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyampaikan sambutan pada peringatan HUT Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-75 di Sangatta, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi menyoroti besarnya pengorbanan para bidan yang bertugas di wilayah pedalaman.

    Selain menghadapi sulitnya akses menuju desa-desa terpencil, sebagian bidan juga harus berpisah dengan keluarga demi tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

    Menurutnya, luasnya wilayah Kutim dengan bentang alam yang beragam membuat akses pelayanan kesehatan di sejumlah desa masih menjadi tantangan. Beberapa wilayah bahkan hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai atau menggunakan perahu.

    "Di desa-desa terpencil, masyarakat lebih mengenal bidan. Jarang ke dokter karena bidanlah yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan," ujar Mahyunadi saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

    Ia mengatakan, di tengah keterbatasan akses tersebut, para bidan tetap hadir memberikan pelayanan. Bahkan, menurutnya, ada daerah yang belum memiliki akses jalan darat, namun tenaga bidan tetap menjalankan tugas di sana.

    "Hebatnya, di daerah-daerah yang sulit itu bidan selalu ada," katanya.

    Sebagai gambaran, Mahyunadi menceritakan seorang bidan yang baru diangkat menjadi aparatur sipil negara. Setelah menikah dan hamil, bidan tersebut justru ditempatkan di Kecamatan Muara Bengkal, sehingga harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya.

    Setelah melahirkan, tantangan kembali muncul karena harus menentukan apakah membawa bayinya ke tempat tugas atau meninggalkannya bersama keluarga. Sementara itu, aturan penempatan pegawai membuatnya belum dapat mengajukan perpindahan.

    "Pengabdian seperti inilah yang harus kita hargai. Mereka tetap menjalankan tugas di tengah berbagai keterbatasan," ucapnya.

    Mahyunadi menegaskan, bidan bukan hanya memberikan pelayanan kebidanan, tetapi juga menjadi pendamping masyarakat melalui edukasi kesehatan, pendampingan keluarga, serta mendorong perubahan perilaku hidup sehat.

    Untuk mendukung peran tersebut, kata dia, pemerintah daerah akan terus mendorong pemerataan tenaga bidan, peningkatan kompetensi, serta perbaikan fasilitas pelayanan kesehatan agar masyarakat di wilayah pedalaman memperoleh layanan yang setara.

    "Pengabdian para bidan harus kita hargai. Mereka tetap menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat hingga ke pelosok desa," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Mahyunadi Soroti Beratnya Perjuangan Bidan di Pelosok Kutim, Jauh dari Keluarga Demi Bertugas

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    03 Agustus 2026 pukul 13:01 WITA

    Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menyampaikan sambutan pada peringatan HUT Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-75 di Sangatta, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi menyoroti besarnya pengorbanan para bidan yang bertugas di wilayah pedalaman.

    Selain menghadapi sulitnya akses menuju desa-desa terpencil, sebagian bidan juga harus berpisah dengan keluarga demi tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

    Menurutnya, luasnya wilayah Kutim dengan bentang alam yang beragam membuat akses pelayanan kesehatan di sejumlah desa masih menjadi tantangan. Beberapa wilayah bahkan hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai atau menggunakan perahu.

    "Di desa-desa terpencil, masyarakat lebih mengenal bidan. Jarang ke dokter karena bidanlah yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan," ujar Mahyunadi saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI).

    Ia mengatakan, di tengah keterbatasan akses tersebut, para bidan tetap hadir memberikan pelayanan. Bahkan, menurutnya, ada daerah yang belum memiliki akses jalan darat, namun tenaga bidan tetap menjalankan tugas di sana.

    "Hebatnya, di daerah-daerah yang sulit itu bidan selalu ada," katanya.

    Sebagai gambaran, Mahyunadi menceritakan seorang bidan yang baru diangkat menjadi aparatur sipil negara. Setelah menikah dan hamil, bidan tersebut justru ditempatkan di Kecamatan Muara Bengkal, sehingga harus menjalani hubungan jarak jauh dengan suaminya.

    Setelah melahirkan, tantangan kembali muncul karena harus menentukan apakah membawa bayinya ke tempat tugas atau meninggalkannya bersama keluarga. Sementara itu, aturan penempatan pegawai membuatnya belum dapat mengajukan perpindahan.

    "Pengabdian seperti inilah yang harus kita hargai. Mereka tetap menjalankan tugas di tengah berbagai keterbatasan," ucapnya.

    Mahyunadi menegaskan, bidan bukan hanya memberikan pelayanan kebidanan, tetapi juga menjadi pendamping masyarakat melalui edukasi kesehatan, pendampingan keluarga, serta mendorong perubahan perilaku hidup sehat.

    Untuk mendukung peran tersebut, kata dia, pemerintah daerah akan terus mendorong pemerataan tenaga bidan, peningkatan kompetensi, serta perbaikan fasilitas pelayanan kesehatan agar masyarakat di wilayah pedalaman memperoleh layanan yang setara.

    "Pengabdian para bidan harus kita hargai. Mereka tetap menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan bagi masyarakat hingga ke pelosok desa," pungkasnya.

    (Sf/Lo)