Seputar Kaltim

    Mahyunadi Sebut KPAD Kutim Harus Ubah Strategi, Target Tak Ada Kasus Baru HIV

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    29 Juli 2026 pukul 21:44 WITA

    Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanggulangan HIV dan AIDS Kabupaten Kutim di Ruang Meranti, Sangatta. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi meminta Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutim menyusun strategi baru dalam upaya menekan penyebaran HIV/AIDS. 

    Menurutnya, pendekatan yang selama ini dilakukan perlu diperkuat agar tidak hanya berfokus pada sosialisasi, tetapi juga mampu mencegah munculnya kasus baru.

    Mahyunadi mengaku belum puas dengan capaian penanggulangan HIV/AIDS di Kutim. Berdasarkan data yang dipaparkan kepadanya, jumlah kasus yang teridentifikasi terus meningkat.

    Ia menyebut pada 2004 hanya terdapat empat orang yang teridentifikasi mengidap HIV/AIDS di Kutim. Namun pada 2025 jumlah kasus yang teridentifikasi mencapai 168 orang.

    "Ini angka yang mengkhawatirkan. Di satu sisi kami bangga karena kemampuan identifikasi semakin baik, masyarakat mulai mau memeriksakan diri, bahkan ada yang berhasil dijangkau meski sebelumnya enggan datang ke rumah sakit. Tetapi di balik itu muncul kekhawatiran kalau tren ini terus berlanjut," ujar Mahyunadi saat membuka Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanggulangan HIV dan AIDS Kabupaten Kutim di Ruang Meranti, Sangatta. 

    Ia menambahkan, peningkatan kasus dipengaruhi bertambahnya jumlah penduduk, perubahan perilaku masyarakat, serta semakin luasnya ruang interaksi yang kini berlangsung baik secara langsung maupun melalui media daring.

    Karena itu, Mahyunadi meminta KPAD tidak hanya menjalankan program sosialisasi penggunaan alat kontrasepsi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan.

    "Kalau hanya sosialisasi dan bagi kondom, itu tidak cukup. Kita harus menyusun rumusan baru agar setelah didata, mereka juga diarahkan ke kehidupan yang lebih baik sehingga tidak terjadi penularan baru," tegasnya.

    Ia juga menilai identifikasi terhadap kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular HIV perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan. Ia menegaskan upaya tersebut tidak boleh berhenti pada pendataan, tetapi harus dilanjutkan dengan pembinaan untuk mencegah penularan baru.

    Mahyunadi menyampaikan perilaku seksual berisiko, termasuk pada kelompok LGBT, menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengendalian HIV. Ia mendorong agar kelompok yang telah teridentifikasi diberikan pendampingan dan pembinaan sehingga dapat mengurangi perilaku yang berisiko menularkan HIV kepada orang lain.

    Selain itu, ia mengajak seluruh pihak tidak bersikap acuh terhadap persoalan tersebut. Ia mengibaratkan pentingnya melakukan pencegahan sejak dini. 

    Di sisi lain, Mahyunadi menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara upaya menghilangkan stigma agar orang dengan HIV mau memeriksakan diri dan menjalani pengobatan, sekaligus memperkuat edukasi agar masyarakat menghindari perilaku yang berisiko tertular HIV.

    "Kita ingin tidak ada lagi penambahan kasus baru. Itu yang harus menjadi tujuan bersama," pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Mahyunadi Sebut KPAD Kutim Harus Ubah Strategi, Target Tak Ada Kasus Baru HIV

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    29 Juli 2026 pukul 21:44 WITA

    Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanggulangan HIV dan AIDS Kabupaten Kutim di Ruang Meranti, Sangatta. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi meminta Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kutim menyusun strategi baru dalam upaya menekan penyebaran HIV/AIDS. 

    Menurutnya, pendekatan yang selama ini dilakukan perlu diperkuat agar tidak hanya berfokus pada sosialisasi, tetapi juga mampu mencegah munculnya kasus baru.

    Mahyunadi mengaku belum puas dengan capaian penanggulangan HIV/AIDS di Kutim. Berdasarkan data yang dipaparkan kepadanya, jumlah kasus yang teridentifikasi terus meningkat.

    Ia menyebut pada 2004 hanya terdapat empat orang yang teridentifikasi mengidap HIV/AIDS di Kutim. Namun pada 2025 jumlah kasus yang teridentifikasi mencapai 168 orang.

    "Ini angka yang mengkhawatirkan. Di satu sisi kami bangga karena kemampuan identifikasi semakin baik, masyarakat mulai mau memeriksakan diri, bahkan ada yang berhasil dijangkau meski sebelumnya enggan datang ke rumah sakit. Tetapi di balik itu muncul kekhawatiran kalau tren ini terus berlanjut," ujar Mahyunadi saat membuka Rapat Koordinasi dan Evaluasi Penanggulangan HIV dan AIDS Kabupaten Kutim di Ruang Meranti, Sangatta. 

    Ia menambahkan, peningkatan kasus dipengaruhi bertambahnya jumlah penduduk, perubahan perilaku masyarakat, serta semakin luasnya ruang interaksi yang kini berlangsung baik secara langsung maupun melalui media daring.

    Karena itu, Mahyunadi meminta KPAD tidak hanya menjalankan program sosialisasi penggunaan alat kontrasepsi, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan.

    "Kalau hanya sosialisasi dan bagi kondom, itu tidak cukup. Kita harus menyusun rumusan baru agar setelah didata, mereka juga diarahkan ke kehidupan yang lebih baik sehingga tidak terjadi penularan baru," tegasnya.

    Ia juga menilai identifikasi terhadap kelompok yang memiliki risiko tinggi tertular HIV perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan. Ia menegaskan upaya tersebut tidak boleh berhenti pada pendataan, tetapi harus dilanjutkan dengan pembinaan untuk mencegah penularan baru.

    Mahyunadi menyampaikan perilaku seksual berisiko, termasuk pada kelompok LGBT, menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengendalian HIV. Ia mendorong agar kelompok yang telah teridentifikasi diberikan pendampingan dan pembinaan sehingga dapat mengurangi perilaku yang berisiko menularkan HIV kepada orang lain.

    Selain itu, ia mengajak seluruh pihak tidak bersikap acuh terhadap persoalan tersebut. Ia mengibaratkan pentingnya melakukan pencegahan sejak dini. 

    Di sisi lain, Mahyunadi menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara upaya menghilangkan stigma agar orang dengan HIV mau memeriksakan diri dan menjalani pengobatan, sekaligus memperkuat edukasi agar masyarakat menghindari perilaku yang berisiko tertular HIV.

    "Kita ingin tidak ada lagi penambahan kasus baru. Itu yang harus menjadi tujuan bersama," pungkasnya.

    (Sf/Lo)