Seputar Kaltim

    Mahyunadi Ingatkan Sekolah di Kutim: Anak Pintar Saja Tak Cukup, Akhlak Jadi Prioritas

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    14 Juli 2026 pukul 20:31 WITA

    Wabup Kutim Mahyunadi menyampaikan sambutan pada kegiatan MPLS Ramah di SD Negeri 006 Sangatta. (Foto:Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi meminta sekolah tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter dan akhlak siswa sejak dini. 
    Menurutnya, kecerdasan tanpa dibarengi moral yang baik tidak cukup untuk membentuk generasi masa depan. Ia menyebut pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak bisa dilihat secara instan, melainkan melalui proses bertahun-tahun.
    “Kita menerima input, input itu adalah masukan. Masukan dari anak-anak kita yang baru. Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan atau sumber daya manusia adalah investasi jangka panjang,” ujar Mahyunadi saat menghadiri kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ramah di SD Negeri 006 Kutim.
    Ia menjelaskan, anak-anak yang saat ini mulai menempuh pendidikan membutuhkan waktu panjang hingga terlihat hasil dari proses pembelajaran yang diberikan. Bahkan, dengan program Wajib Belajar 13 Tahun yang mencakup pendidikan prasekolah hingga jenjang menengah, hasil pendidikan baru akan terlihat ketika mereka menyelesaikan jenjang SMA.
    “Kalau kita masukkan anak kita sekarang TK atau PAUD, 13 tahun yang akan datang lulus SMA baru kelihatan hasilnya dari apa yang kita tanamkan itu,” katanya.
    Menurut Mahyunadi, untuk menghasilkan generasi berkualitas, pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Peran orang tua dan wali murid juga sangat penting dalam mendukung perkembangan anak.
    Ia menilai, kerja sama antara guru dan keluarga menjadi kunci agar proses pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan, daya saing, serta karakter yang baik.
    “Membuat input kita ini menjadi output yang baik, kuncinya adalah kerja sama baik dari guru maupun orang tua, wali murid harus kerja sama yang baik agar tercipta output yang baik,” jelasnya.
    Selain menghasilkan lulusan yang cerdas, Mahyunadi juga menyoroti pentingnya outcome atau hasil akhir dari pendidikan. Ia berharap generasi Kutim ke depan mampu memiliki kompetensi yang dapat membawa mereka mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai bidang masing-masing.
    “Anak-anak kita nanti setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan yang layak bagi kehidupan mereka masing-masing. Di mana pun berada dan apa pun profesinya,” ungkapnya.
    Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik. Pembentukan mental, spiritual, serta nilai keimanan dan ketakwaan juga menjadi bagian penting dalam membangun karakter anak.
    Mahyunadi menyebut hal tersebut sejalan dengan visi-misi Kabupaten Kutim, khususnya dalam peningkatan dan pemerataan daya saing daerah melalui pembangunan sumber daya manusia yang berakhlak mulia, sehat, cerdas dan berprestasi.
    “Kenapa kita dulukan akhlak mulia? Karena akhlak mulia inilah yang paling penting untuk menciptakan mental anak-anak kita. Kita tidak guna punya anak yang pintar tapi kalau tidak berakhlak mulia,” tegasnya.
    Ia juga mendorong agar pembangunan fasilitas pendidikan ke depan turut memperhatikan aspek pembinaan spiritual. Salah satunya dengan menempatkan fasilitas ibadah sebagai bagian penting dalam lingkungan sekolah.
    “Kalau nanti kita bangun sekolahan, jangan musala di ujung. Musala harus paling depan. Itu agar kita mengutamakan akhlak mulia bagi anak-anak kita,” pungkasnya.
    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Mahyunadi Ingatkan Sekolah di Kutim: Anak Pintar Saja Tak Cukup, Akhlak Jadi Prioritas

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    14 Juli 2026 pukul 20:31 WITA

    Wabup Kutim Mahyunadi menyampaikan sambutan pada kegiatan MPLS Ramah di SD Negeri 006 Sangatta. (Foto:Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi meminta sekolah tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter dan akhlak siswa sejak dini. 
    Menurutnya, kecerdasan tanpa dibarengi moral yang baik tidak cukup untuk membentuk generasi masa depan. Ia menyebut pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak bisa dilihat secara instan, melainkan melalui proses bertahun-tahun.
    “Kita menerima input, input itu adalah masukan. Masukan dari anak-anak kita yang baru. Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan atau sumber daya manusia adalah investasi jangka panjang,” ujar Mahyunadi saat menghadiri kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ramah di SD Negeri 006 Kutim.
    Ia menjelaskan, anak-anak yang saat ini mulai menempuh pendidikan membutuhkan waktu panjang hingga terlihat hasil dari proses pembelajaran yang diberikan. Bahkan, dengan program Wajib Belajar 13 Tahun yang mencakup pendidikan prasekolah hingga jenjang menengah, hasil pendidikan baru akan terlihat ketika mereka menyelesaikan jenjang SMA.
    “Kalau kita masukkan anak kita sekarang TK atau PAUD, 13 tahun yang akan datang lulus SMA baru kelihatan hasilnya dari apa yang kita tanamkan itu,” katanya.
    Menurut Mahyunadi, untuk menghasilkan generasi berkualitas, pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Peran orang tua dan wali murid juga sangat penting dalam mendukung perkembangan anak.
    Ia menilai, kerja sama antara guru dan keluarga menjadi kunci agar proses pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan, daya saing, serta karakter yang baik.
    “Membuat input kita ini menjadi output yang baik, kuncinya adalah kerja sama baik dari guru maupun orang tua, wali murid harus kerja sama yang baik agar tercipta output yang baik,” jelasnya.
    Selain menghasilkan lulusan yang cerdas, Mahyunadi juga menyoroti pentingnya outcome atau hasil akhir dari pendidikan. Ia berharap generasi Kutim ke depan mampu memiliki kompetensi yang dapat membawa mereka mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai bidang masing-masing.
    “Anak-anak kita nanti setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan yang layak bagi kehidupan mereka masing-masing. Di mana pun berada dan apa pun profesinya,” ungkapnya.
    Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan akademik. Pembentukan mental, spiritual, serta nilai keimanan dan ketakwaan juga menjadi bagian penting dalam membangun karakter anak.
    Mahyunadi menyebut hal tersebut sejalan dengan visi-misi Kabupaten Kutim, khususnya dalam peningkatan dan pemerataan daya saing daerah melalui pembangunan sumber daya manusia yang berakhlak mulia, sehat, cerdas dan berprestasi.
    “Kenapa kita dulukan akhlak mulia? Karena akhlak mulia inilah yang paling penting untuk menciptakan mental anak-anak kita. Kita tidak guna punya anak yang pintar tapi kalau tidak berakhlak mulia,” tegasnya.
    Ia juga mendorong agar pembangunan fasilitas pendidikan ke depan turut memperhatikan aspek pembinaan spiritual. Salah satunya dengan menempatkan fasilitas ibadah sebagai bagian penting dalam lingkungan sekolah.
    “Kalau nanti kita bangun sekolahan, jangan musala di ujung. Musala harus paling depan. Itu agar kita mengutamakan akhlak mulia bagi anak-anak kita,” pungkasnya.
    (Sf/Lo)