Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Seputar Kaltim
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, saat membuka secara resmi ajang olahraga SMADA Cup XIII di SMAN 2 Sangatta Utara. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, membuka ajang olahraga tahunan SMADA Cup ke-13 yang digelar di SMAN 2 Sangatta Utara beberapa waktu lalu. Kegiatan ini diikuti oleh pelajar dari berbagai sekolah di Kutim sebagai ajang kompetisi dan pengembangan minat bakat, khususnya di bidang olahraga.
Ia menyampaikan Pemerintah Kabupaten Kutim mendukung penuh kegiatan olahraga di sekolah. Ia berharap acara seperti SMADA Cup bisa diadakan lebih sering dan melibatkan lebih banyak sekolah.
"Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Kalau bisa, acara seperti ini bisa diadakan lebih sering dan diikuti oleh lebih banyak sekolah," ujar Mahyunadi.
Ia juga mengingatkan bahwa sekolah perlu memiliki cara untuk mengukur kemampuan siswa, tidak hanya dalam hal akademik, tetapi juga dalam seni, budaya, dan olahraga. Ia mengajak sekolah-sekolah lain untuk mengadakan acara serupa untuk menilai kemampuan siswa di luar akademik.
"Sekolah-sekolah lain harus memiliki momen-momen tertentu untuk menilai kemampuan anak didik kita, bukan hanya dalam akademik, tapi juga di bidang yang lain," tambahnya.
Mahyunadi juga membahas perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih, dan bagaimana teknologi ini bisa membantu pekerjaan manusia, termasuk di bidang pendidikan. Namun, ia menekankan ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh AI, seperti olahraga.
"AI saat ini sudah sangat berkembang dan bisa membantu pekerjaan kita. tapi ada banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh AI, salah satunya adalah olahraga," katanya.
Menurutnya, tantangan ke depan akan semakin berat, sehingga diperlukan mental yang kuat. Ia menilai kegiatan olahraga seperti SMADA Cup dapat membentuk mental dan jiwa juara pada para peserta.
"Kedepan, kita akan menghadapi tantangan yang sangat besar. Yang kuat akan bertahan, yang lemah akan tersingkir. Kegiatan seperti ini yang bisa membentuk mental juara," tegasnya.
Mahyunadi juga menekankan pentingnya keadilan dalam kompetisi. Ia mengatakan semangat siswa bisa terganggu jika ada ketidakadilan, seperti penjurian yang tidak jujur.
"Jiwa bertarung siswa bisa lemah jika ada ketidakadilan dalam kompetisi. Kita perlu memastikan setiap perlombaan berlangsung secara adil," tutupnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com-Lisda -
Seputar Kaltim

Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, saat membuka secara resmi ajang olahraga SMADA Cup XIII di SMAN 2 Sangatta Utara. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, membuka ajang olahraga tahunan SMADA Cup ke-13 yang digelar di SMAN 2 Sangatta Utara beberapa waktu lalu. Kegiatan ini diikuti oleh pelajar dari berbagai sekolah di Kutim sebagai ajang kompetisi dan pengembangan minat bakat, khususnya di bidang olahraga.
Ia menyampaikan Pemerintah Kabupaten Kutim mendukung penuh kegiatan olahraga di sekolah. Ia berharap acara seperti SMADA Cup bisa diadakan lebih sering dan melibatkan lebih banyak sekolah.
"Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini. Kalau bisa, acara seperti ini bisa diadakan lebih sering dan diikuti oleh lebih banyak sekolah," ujar Mahyunadi.
Ia juga mengingatkan bahwa sekolah perlu memiliki cara untuk mengukur kemampuan siswa, tidak hanya dalam hal akademik, tetapi juga dalam seni, budaya, dan olahraga. Ia mengajak sekolah-sekolah lain untuk mengadakan acara serupa untuk menilai kemampuan siswa di luar akademik.
"Sekolah-sekolah lain harus memiliki momen-momen tertentu untuk menilai kemampuan anak didik kita, bukan hanya dalam akademik, tapi juga di bidang yang lain," tambahnya.
Mahyunadi juga membahas perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih, dan bagaimana teknologi ini bisa membantu pekerjaan manusia, termasuk di bidang pendidikan. Namun, ia menekankan ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh AI, seperti olahraga.
"AI saat ini sudah sangat berkembang dan bisa membantu pekerjaan kita. tapi ada banyak hal yang tidak bisa digantikan oleh AI, salah satunya adalah olahraga," katanya.
Menurutnya, tantangan ke depan akan semakin berat, sehingga diperlukan mental yang kuat. Ia menilai kegiatan olahraga seperti SMADA Cup dapat membentuk mental dan jiwa juara pada para peserta.
"Kedepan, kita akan menghadapi tantangan yang sangat besar. Yang kuat akan bertahan, yang lemah akan tersingkir. Kegiatan seperti ini yang bisa membentuk mental juara," tegasnya.
Mahyunadi juga menekankan pentingnya keadilan dalam kompetisi. Ia mengatakan semangat siswa bisa terganggu jika ada ketidakadilan, seperti penjurian yang tidak jujur.
"Jiwa bertarung siswa bisa lemah jika ada ketidakadilan dalam kompetisi. Kita perlu memastikan setiap perlombaan berlangsung secara adil," tutupnya.
(Sf/Rs)