Seputar Kaltim

    Mahyunadi Bilang, Pembinaan Atlet Kutim Harus Berdasarkan Data, Bukan Politik

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    22 September 2026 pukul 16:40 WITA

    Wakil Bupati Kutim Mahyunadi saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan Bimtek Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, meminta penentuan program dan anggaran pembinaan olahraga menggunakan data prestasi atlet. Ia mengingatkan pembinaan jangan sampai dipengaruhi pertimbangan politik.

    Mahyunadi mengatakan, salah satu persoalan pembinaan olahraga selama ini adalah data yang masih tersebar. Data atlet berada di masing-masing cabang olahraga, sedangkan data prestasi, pelatih, hasil kejuaraan, usia dan perkembangan atlet juga belum berada dalam satu sistem.

    Karena itu, ia berharap aplikasi yang dibuat tidak hanya menyimpan nama dan biodata atlet.

    “Kita kembangkan menjadi database prestasi atlet Kabupaten Kutai Timur. Setiap atlet harus mempunyai rekam jejak mulai dari usia, cabang olahraga, klubnya, pelatihnya, kejuaraan yang diikuti, medali yang diperoleh hingga perkembangan prestasinya dari tahun ke tahun,” ujar Mahyunadi saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim.

    Menurutnya, data tersebut diperlukan saat pemerintah daerah bersama KONI menyusun program dan anggaran pembinaan olahraga.

    Mahyunadi kemudian menyinggung kemungkinan kepentingan politik masuk dalam penentuan atlet atau cabang olahraga yang mendapat anggaran.

    “Betul-betul dasar prestasi, bukan dasar pertimbangan politik,” tegasnya.

    Ia mencontohkan ketika dua atlet memiliki nilai berbeda, tetapi atlet dengan nilai lebih rendah justru dipilih karena pertimbangan kedekatan atau kepentingan tertentu.

    “Kalau atlet lima sama enam nilainya, yang dipilih nomor yang nilai lima itu salah. Karena pertimbangan nepotisme, itu salah,” katanya.

    Sistem scoring dalam aplikasi dapat menjadi dasar untuk melihat kemampuan atlet secara lebih jelas. Data tersebut nantinya dapat digunakan ketika ada usulan atlet yang masuk dalam program pembinaan.

    Dengan sistem tersebut, Mahyunadi berharap penentuan atlet yang mendapat pembinaan maupun dukungan anggaran dapat dilihat berdasarkan rekam prestasi dan nilai yang tercatat dalam sistem.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Mahyunadi Bilang, Pembinaan Atlet Kutim Harus Berdasarkan Data, Bukan Politik

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    22 September 2026 pukul 16:40 WITA

    Wakil Bupati Kutim Mahyunadi saat menyampaikan sambutan dalam kegiatan Bimtek Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com

    Sangatta – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim), Mahyunadi, meminta penentuan program dan anggaran pembinaan olahraga menggunakan data prestasi atlet. Ia mengingatkan pembinaan jangan sampai dipengaruhi pertimbangan politik.

    Mahyunadi mengatakan, salah satu persoalan pembinaan olahraga selama ini adalah data yang masih tersebar. Data atlet berada di masing-masing cabang olahraga, sedangkan data prestasi, pelatih, hasil kejuaraan, usia dan perkembangan atlet juga belum berada dalam satu sistem.

    Karena itu, ia berharap aplikasi yang dibuat tidak hanya menyimpan nama dan biodata atlet.

    “Kita kembangkan menjadi database prestasi atlet Kabupaten Kutai Timur. Setiap atlet harus mempunyai rekam jejak mulai dari usia, cabang olahraga, klubnya, pelatihnya, kejuaraan yang diikuti, medali yang diperoleh hingga perkembangan prestasinya dari tahun ke tahun,” ujar Mahyunadi saat Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim.

    Menurutnya, data tersebut diperlukan saat pemerintah daerah bersama KONI menyusun program dan anggaran pembinaan olahraga.

    Mahyunadi kemudian menyinggung kemungkinan kepentingan politik masuk dalam penentuan atlet atau cabang olahraga yang mendapat anggaran.

    “Betul-betul dasar prestasi, bukan dasar pertimbangan politik,” tegasnya.

    Ia mencontohkan ketika dua atlet memiliki nilai berbeda, tetapi atlet dengan nilai lebih rendah justru dipilih karena pertimbangan kedekatan atau kepentingan tertentu.

    “Kalau atlet lima sama enam nilainya, yang dipilih nomor yang nilai lima itu salah. Karena pertimbangan nepotisme, itu salah,” katanya.

    Sistem scoring dalam aplikasi dapat menjadi dasar untuk melihat kemampuan atlet secara lebih jelas. Data tersebut nantinya dapat digunakan ketika ada usulan atlet yang masuk dalam program pembinaan.

    Dengan sistem tersebut, Mahyunadi berharap penentuan atlet yang mendapat pembinaan maupun dukungan anggaran dapat dilihat berdasarkan rekam prestasi dan nilai yang tercatat dalam sistem.

    (Sf/Rs)