Seputar Kaltim

    Mahasiswa Samarinda Demo Tolak UU TNI, Tabur Bunga Simbol Matinya Demokrasi

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    21 Maret 2025 pukul 21:08 WITA

    Ratusan massa aksi yang menggeruduk DPRD Kaltim menyuarakan perihal pengesahan RUU TNI. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Samarinda menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) pada Jum’at (21/3/2025).

    Seluruh mahasiswa tersebut menyuarakan penolakan terhadap Revisi Undang-Undang (RUU) TNI yang baru saja disahkan oleh DPR RI. 

    Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekhawatiran mahasiswa terhadap potensi kembalinya dwifungsi ABRI dan ancaman terhadap supremasi sipil.

    Perwakilan dari BEM Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul), Fathur Rahman, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan gabungan dari berbagai gerakan mahasiswa yang peduli terhadap masa depan demokrasi di Indonesia. 

    "Kami menilai bahwa revisi UU TNI ini sangat berpotensi mengancam supremasi sipil dan demokrasi. Pemberian ruang yang lebih besar bagi TNI untuk terlibat dalam ranah sipil adalah langkah mundur bagi demokrasi kita," tegas Fathur.

    Para mahasiswa menolak segala bentuk upaya yang memungkinkan personel aktif TNI menduduki jabatan sipil di luar Kementerian Pertahanan. Mereka menuntut pemerintah untuk segera menarik personel TNI aktif dari jabatan-jabatan tersebut. 

    "Kami tidak ingin dwifungsi ABRI terulang kembali dalam bentuk yang baru. Ini adalah bentuk kepedulian kami sebagai rakyat terhadap masa depan demokrasi di Indonesia," ujar Fathur.

    Dalam aksi tersebut, mahasiswa melakukan aksi simbolis dengan menaburkan bunga di depan pintu gerbang DPRD Kaltim. Aksi ini sebagai simbol matinya demokrasi akibat pengesahan RUU TNI. 

    Selain itu, mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan "Kaltim Tolak RUU TNI" sebagai bentuk protes terhadap keputusan DPR RI.

    Perwakilan dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda, Rifki, dalam orasinya menyerukan persatuan di antara mahasiswa. 

    "Tunjukkan persatuan di antara kalian, kita semua satu, memperjuangkan rakyat. Kita di sini untuk mereka yang tertindas. Hak-hak sipil diambil alih oleh RUU TNI ini, diambil oleh militer-militer itu," tambah Rifki.

    Aksi ini berlangsung damai, namun penuh dengan semangat perlawanan. Mahasiswa bertekad untuk terus menyuarakan penolakan terhadap UU TNI hingga tuntutan mereka dipenuhi.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Mahasiswa Samarinda Demo Tolak UU TNI, Tabur Bunga Simbol Matinya Demokrasi

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    21 Maret 2025 pukul 21:08 WITA

    Ratusan massa aksi yang menggeruduk DPRD Kaltim menyuarakan perihal pengesahan RUU TNI. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Samarinda menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) pada Jum’at (21/3/2025).

    Seluruh mahasiswa tersebut menyuarakan penolakan terhadap Revisi Undang-Undang (RUU) TNI yang baru saja disahkan oleh DPR RI. 

    Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekhawatiran mahasiswa terhadap potensi kembalinya dwifungsi ABRI dan ancaman terhadap supremasi sipil.

    Perwakilan dari BEM Fakultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul), Fathur Rahman, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan gabungan dari berbagai gerakan mahasiswa yang peduli terhadap masa depan demokrasi di Indonesia. 

    "Kami menilai bahwa revisi UU TNI ini sangat berpotensi mengancam supremasi sipil dan demokrasi. Pemberian ruang yang lebih besar bagi TNI untuk terlibat dalam ranah sipil adalah langkah mundur bagi demokrasi kita," tegas Fathur.

    Para mahasiswa menolak segala bentuk upaya yang memungkinkan personel aktif TNI menduduki jabatan sipil di luar Kementerian Pertahanan. Mereka menuntut pemerintah untuk segera menarik personel TNI aktif dari jabatan-jabatan tersebut. 

    "Kami tidak ingin dwifungsi ABRI terulang kembali dalam bentuk yang baru. Ini adalah bentuk kepedulian kami sebagai rakyat terhadap masa depan demokrasi di Indonesia," ujar Fathur.

    Dalam aksi tersebut, mahasiswa melakukan aksi simbolis dengan menaburkan bunga di depan pintu gerbang DPRD Kaltim. Aksi ini sebagai simbol matinya demokrasi akibat pengesahan RUU TNI. 

    Selain itu, mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan "Kaltim Tolak RUU TNI" sebagai bentuk protes terhadap keputusan DPR RI.

    Perwakilan dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda, Rifki, dalam orasinya menyerukan persatuan di antara mahasiswa. 

    "Tunjukkan persatuan di antara kalian, kita semua satu, memperjuangkan rakyat. Kita di sini untuk mereka yang tertindas. Hak-hak sipil diambil alih oleh RUU TNI ini, diambil oleh militer-militer itu," tambah Rifki.

    Aksi ini berlangsung damai, namun penuh dengan semangat perlawanan. Mahasiswa bertekad untuk terus menyuarakan penolakan terhadap UU TNI hingga tuntutan mereka dipenuhi.

    (Sf/Rs)