Seputar Kaltim

    Mahakam Kemasukan Air Laut, Dinkes Samarinda Ingatkan Air PDAM Sementara Cuma Boleh Buat MCK

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    18 September 2026 pukul 13:22 WITA

    Gedung Dinkes Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/ seputarfakta.com)

    Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengimbau masyarakat untuk sementara menggunakan air PDAM yang didistribusikan ke rumah warga hanya untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK), menyusul gangguan kualitas dan distribusi air akibat intrusi air laut yang masuk ke Sungai Mahakam. 

    Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi peningkatan penyakit berbasis lingkungan, termasuk diare.

    Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan kondisi air bersih menjadi salah satu perhatian Dinkes selain peningkatan kasus ISPA dan penyakit kulit di tengah kondisi kekeringan.

    “Yang jelas sekarang air PDAM yang didistribusikan ini kita harapkan paling tidak hanya untuk MCK,” ujar Ismed,  Kamis (17/9/2026).

    Menurutnya, gangguan distribusi air PDAM terjadi karena adanya intrusi air laut ke Sungai Mahakam. Kondisi tersebut masih terus dipantau karena kualitas air dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

    “Karena sekarang kan kita ketahui air bersih yang didistribusikan dari PDAM mengalami sedikit gangguan distribusi karena intrusi air laut kan yang masuk ke Sungai Mahakam,” katanya.

    Untuk memastikan kualitas air yang digunakan masyarakat, Dinkes melakukan pemantauan melalui 26 Puskesmas. 

    Tim sanitarian tidak hanya memeriksa kualitas udara, tetapi juga melakukan pemeriksaan terhadap kualitas air minum dan air bersih.

    “Tapi perlu diketahui, di 26 Puskesmas juga tadi selain kita melakukan pemantauan terhadap kualitas udara, itu teman-teman sanitarian juga melakukan pemeriksaan kualitas air bersih,” jelas Ismed.

    Pemeriksaan tersebut mencakup air minum dan air bersih. Hasil pemantauan dari Puskesmas kemudian disampaikan kepada Dinkes untuk menjadi bahan masukan kepada Perumdam Tirta Kencana Samarinda.

    “Kualitas air minum dan air bersih, itu akan disampaikan ke Dinas Kesehatan untuk memberi masukan kepada PDAM,” ungkapnya.

    Selain kualitas air, Dinkes juga memantau perkembangan kasus diare yang berpotensi meningkat akibat kondisi lingkungan dan gangguan akses air bersih.

    Ismed mengatakan terdapat indikasi peningkatan kasus, namun sejauh ini belum menunjukkan kenaikan yang signifikan. “Yang jelas mungkin ada peningkatan, tapi masih belum signifikan,” katanya.

    Karena itu, Dinkes mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menggunakan air PDAM sebagai air minum tanpa melalui proses pengolahan yang sesuai.

    “Kalaupun mau digunakan sebagai air minum itu ada prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dilakukan,” jelas Ismed.

    Imbauan penggunaan air PDAM hanya untuk MCK dilakukan sembari Dinkes bersama tim sanitarian terus memantau kualitas air di lapangan. 

    Pengawasan tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi agar gangguan air bersih tidak berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang lebih luas.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Mahakam Kemasukan Air Laut, Dinkes Samarinda Ingatkan Air PDAM Sementara Cuma Boleh Buat MCK

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Lodya A
    18 September 2026 pukul 13:22 WITA

    Gedung Dinkes Kota Samarinda. (Foto: Arsensia Serlyani/ seputarfakta.com)

    Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengimbau masyarakat untuk sementara menggunakan air PDAM yang didistribusikan ke rumah warga hanya untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus (MCK), menyusul gangguan kualitas dan distribusi air akibat intrusi air laut yang masuk ke Sungai Mahakam. 

    Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi peningkatan penyakit berbasis lingkungan, termasuk diare.

    Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan kondisi air bersih menjadi salah satu perhatian Dinkes selain peningkatan kasus ISPA dan penyakit kulit di tengah kondisi kekeringan.

    “Yang jelas sekarang air PDAM yang didistribusikan ini kita harapkan paling tidak hanya untuk MCK,” ujar Ismed,  Kamis (17/9/2026).

    Menurutnya, gangguan distribusi air PDAM terjadi karena adanya intrusi air laut ke Sungai Mahakam. Kondisi tersebut masih terus dipantau karena kualitas air dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

    “Karena sekarang kan kita ketahui air bersih yang didistribusikan dari PDAM mengalami sedikit gangguan distribusi karena intrusi air laut kan yang masuk ke Sungai Mahakam,” katanya.

    Untuk memastikan kualitas air yang digunakan masyarakat, Dinkes melakukan pemantauan melalui 26 Puskesmas. 

    Tim sanitarian tidak hanya memeriksa kualitas udara, tetapi juga melakukan pemeriksaan terhadap kualitas air minum dan air bersih.

    “Tapi perlu diketahui, di 26 Puskesmas juga tadi selain kita melakukan pemantauan terhadap kualitas udara, itu teman-teman sanitarian juga melakukan pemeriksaan kualitas air bersih,” jelas Ismed.

    Pemeriksaan tersebut mencakup air minum dan air bersih. Hasil pemantauan dari Puskesmas kemudian disampaikan kepada Dinkes untuk menjadi bahan masukan kepada Perumdam Tirta Kencana Samarinda.

    “Kualitas air minum dan air bersih, itu akan disampaikan ke Dinas Kesehatan untuk memberi masukan kepada PDAM,” ungkapnya.

    Selain kualitas air, Dinkes juga memantau perkembangan kasus diare yang berpotensi meningkat akibat kondisi lingkungan dan gangguan akses air bersih.

    Ismed mengatakan terdapat indikasi peningkatan kasus, namun sejauh ini belum menunjukkan kenaikan yang signifikan. “Yang jelas mungkin ada peningkatan, tapi masih belum signifikan,” katanya.

    Karena itu, Dinkes mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menggunakan air PDAM sebagai air minum tanpa melalui proses pengolahan yang sesuai.

    “Kalaupun mau digunakan sebagai air minum itu ada prasyarat-prasyarat tertentu yang harus dilakukan,” jelas Ismed.

    Imbauan penggunaan air PDAM hanya untuk MCK dilakukan sembari Dinkes bersama tim sanitarian terus memantau kualitas air di lapangan. 

    Pengawasan tersebut menjadi bagian dari langkah antisipasi agar gangguan air bersih tidak berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat yang lebih luas.

    (Sf/Lo)