Seputar Kaltim

    Longsor yang Kembali Terjadi di Gunung Manggah Bikin Tambah Macet

    Penulis:Tria|Redaktur:RUSDIANTO
    13 Februari 2025 pukul 15:26 WITA

    Longsor yang terjadi di gunung manggah Jalan Otto Iskandardinata, Selasa (11/2/2025). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Longsor di kawasan Gunung Manggah, Jalan Otto Iskandardinata (Otista), kembali terjadi akibat curah hujan tinggi. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menurunkan ekskavator guna membersihkan material longsor, Selasa (11/2/2025).

    Akibat pengerjaan itu, jalan menjadi macet terutama di waktu-waktu sibuk seperti pagi dan sore hari. 

    Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, mengungkapkan bahwa upaya penanganan sebenarnya telah dilakukan sejak sepekan lalu oleh PUPR. Namun, hujan deras yang terus mengguyur menyebabkan tanah kembali turun, memperburuk kondisi jalan.

    "Ini sebenarnya seminggu lalu sudah dikerjakan oleh teman-teman PUPR, tapi karena curah hujan tinggi, tanah kembali mengalami penurunan," ujar Suwarso.

    Akibat longsor tersebut, badan jalan mengalami penyempitan dan permukaannya menjadi licin, sehingga berpotensi mengganggu arus lalu lintas di jalur yang dikenal padat kendaraan itu.

    “Kami bersama PUPR turun lagi untuk mengurangi longsoran. Selain itu, ada juga penanganan pohon tumang yang berisiko mengganggu pengguna jalan,” tambahnya.

    Penanganan longsor di titik ini sempat tertunda karena alat berat milik BPBD dan PUPR lebih dulu difokuskan ke lokasi lain yang juga mengalami longsor, salah satunya di Jalan Magelang.

    "Sejak seminggu lalu kami menangani longsor di beberapa titik lain. Sekarang karena kondisi di sana sudah lebih baik, ekskavator kami alihkan ke Gunung Mangga," jelas Suwarso.

    Berdasarkan kajian risiko, ia menyebut wilayah Gunung Manggah tergolong zona rawan longsor dengan tingkat sedang hingga tinggi. Struktur tanah yang berpasir semakin meningkatkan risiko pergerakan tanah, terutama saat musim hujan.

    Untuk solusi jangka panjang, Suwarso menilai diperlukan pembangunan konstruksi penahan tanah di lokasi ini.

    "Penurapan atau sejenisnya harus dipertimbangkan. Biasanya ada kajian dulu dari konsultan untuk menentukan apakah menggunakan retaining wall atau bronjong," tuturnya.

    Dijelaskan, bronjong atau gabion, merupakan metode konstruksi yang menggunakan anyaman kawat baja berisi batu-batu besar untuk menahan tanah agar tidak mudah longsor.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Longsor yang Kembali Terjadi di Gunung Manggah Bikin Tambah Macet

    Penulis:Tria|Redaktur:RUSDIANTO
    13 Februari 2025 pukul 15:26 WITA

    Longsor yang terjadi di gunung manggah Jalan Otto Iskandardinata, Selasa (11/2/2025). (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Longsor di kawasan Gunung Manggah, Jalan Otto Iskandardinata (Otista), kembali terjadi akibat curah hujan tinggi. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menurunkan ekskavator guna membersihkan material longsor, Selasa (11/2/2025).

    Akibat pengerjaan itu, jalan menjadi macet terutama di waktu-waktu sibuk seperti pagi dan sore hari. 

    Kepala BPBD Samarinda, Suwarso, mengungkapkan bahwa upaya penanganan sebenarnya telah dilakukan sejak sepekan lalu oleh PUPR. Namun, hujan deras yang terus mengguyur menyebabkan tanah kembali turun, memperburuk kondisi jalan.

    "Ini sebenarnya seminggu lalu sudah dikerjakan oleh teman-teman PUPR, tapi karena curah hujan tinggi, tanah kembali mengalami penurunan," ujar Suwarso.

    Akibat longsor tersebut, badan jalan mengalami penyempitan dan permukaannya menjadi licin, sehingga berpotensi mengganggu arus lalu lintas di jalur yang dikenal padat kendaraan itu.

    “Kami bersama PUPR turun lagi untuk mengurangi longsoran. Selain itu, ada juga penanganan pohon tumang yang berisiko mengganggu pengguna jalan,” tambahnya.

    Penanganan longsor di titik ini sempat tertunda karena alat berat milik BPBD dan PUPR lebih dulu difokuskan ke lokasi lain yang juga mengalami longsor, salah satunya di Jalan Magelang.

    "Sejak seminggu lalu kami menangani longsor di beberapa titik lain. Sekarang karena kondisi di sana sudah lebih baik, ekskavator kami alihkan ke Gunung Mangga," jelas Suwarso.

    Berdasarkan kajian risiko, ia menyebut wilayah Gunung Manggah tergolong zona rawan longsor dengan tingkat sedang hingga tinggi. Struktur tanah yang berpasir semakin meningkatkan risiko pergerakan tanah, terutama saat musim hujan.

    Untuk solusi jangka panjang, Suwarso menilai diperlukan pembangunan konstruksi penahan tanah di lokasi ini.

    "Penurapan atau sejenisnya harus dipertimbangkan. Biasanya ada kajian dulu dari konsultan untuk menentukan apakah menggunakan retaining wall atau bronjong," tuturnya.

    Dijelaskan, bronjong atau gabion, merupakan metode konstruksi yang menggunakan anyaman kawat baja berisi batu-batu besar untuk menahan tanah agar tidak mudah longsor.

    (Sf/Rs)