Cari disini...
Seputar Kaltim
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah (Setda) Paser, Romif Erwinadi (Istimewa)
Tanah Grogot - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser kembali menentukan lokus stunting yang awalnya 20 desa di tahun lalu, menjadi 47 desa pada 2024 ini.
Upaya Pemkab Paser dalam menangani persoalan stunting sudah dibahas di awal tahun ini dalam Rembuk Stunting pada 26 Maret 2024 lalu.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Paser, Romif Erwanadi mengatakan persoalan stunting memang menjadi persoalan yang diharapkan bisa terus turun.
Menilik dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, data stunting di Paser sebesar 24,9 persen.
Sementara pada 2023 berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dari data yang didapatkan berdasarkan provinsi, untuk di Kaltim sebesar 22,9 persen.
"Perlu upaya ekstra bagi kita semua, mengingat target prevalensi stunting nasional di 2024 adalah 14 persen," kata Romif.
Romif mengharapkan peran aktif seluruh perangkat daerah melalui kebijakan masing-masing, terkhusus juga bagi yang menjadi bapak asuh stunting.
Selain perangkat daerah, pelaku usaha atau perusahan besar yang tengah eksis di Paser harus turut mendukung program penanganan stunting.
"Kami harap seluruhnya memiliki program yang bisa mendukung lokus penanganan stunting di Kabupaten Paser, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting," pungkasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah (Setda) Paser, Romif Erwinadi (Istimewa)
Tanah Grogot - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser kembali menentukan lokus stunting yang awalnya 20 desa di tahun lalu, menjadi 47 desa pada 2024 ini.
Upaya Pemkab Paser dalam menangani persoalan stunting sudah dibahas di awal tahun ini dalam Rembuk Stunting pada 26 Maret 2024 lalu.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Paser, Romif Erwanadi mengatakan persoalan stunting memang menjadi persoalan yang diharapkan bisa terus turun.
Menilik dari Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, data stunting di Paser sebesar 24,9 persen.
Sementara pada 2023 berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dari data yang didapatkan berdasarkan provinsi, untuk di Kaltim sebesar 22,9 persen.
"Perlu upaya ekstra bagi kita semua, mengingat target prevalensi stunting nasional di 2024 adalah 14 persen," kata Romif.
Romif mengharapkan peran aktif seluruh perangkat daerah melalui kebijakan masing-masing, terkhusus juga bagi yang menjadi bapak asuh stunting.
Selain perangkat daerah, pelaku usaha atau perusahan besar yang tengah eksis di Paser harus turut mendukung program penanganan stunting.
"Kami harap seluruhnya memiliki program yang bisa mendukung lokus penanganan stunting di Kabupaten Paser, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting," pungkasnya.
(Sf/By)