Cari disini...
Seputar Kaltim
Salah satu pedagang pernak-pernik di area Museum Mulawarman (Foto; Agus Saputa/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Pedagang pernak-pernik di area Museum Mulawarman yang terletak di Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) mengeluhkan penurunan omzet dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu pedagang yang kerap dipanggil Mama Sidik mengatakan pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan hanya bekisar Rp500 ribu per hari. Biasanya, kata dia, omzet yang diraup cukup besar, terutama ketika momentum hari besar seperti Idulfitri.
Penurunan omzet ini terjadi dikarenakan lokasi lapak yang ditempatinya berada di belakang bangunan Museum Mulawarman.
Secara tata letak, posisi lapak tersebut dianggap kurang strategis karena terhalang pandangan dari jalur utama pengunjung, sehingga banyak wisatawan yang tidak mengetahui keberadaan lapak-lapak pedagang tersebut.
“Saya berjualan sejak 2003 dan beberapa kali sudah dipindahkan, mulai dari dalam, parkiran hingga di belakang bangunan Museum Mulawarman yang kini kami tempati,” ujar Sidik, Senin (30/3/2026).
Selain terhalang bangunan, keberadaan fasilitas umum seperti taman serta minimnya pelang penunjuk arah juga turut membatasi akses dan pandangan para pengunjung terhadap area lapak, sehingga dianggap mengurangi peluang pedagang untuk menarik perhatian wisatawan.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi terkait penataan kawasan, termasuk pembukaan akses dan area kuliner yang dapat mengarahkan pengunjung ke lokasi pedagang.
“Kalau aksesnya jelas dan terbuka agar pengunjung pasti lebih banyak ke sini,” tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Salah satu pedagang pernak-pernik di area Museum Mulawarman (Foto; Agus Saputa/Seputarfakta.com)
Tenggarong - Pedagang pernak-pernik di area Museum Mulawarman yang terletak di Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar) mengeluhkan penurunan omzet dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu pedagang yang kerap dipanggil Mama Sidik mengatakan pendapatan yang diperoleh dari hasil penjualan hanya bekisar Rp500 ribu per hari. Biasanya, kata dia, omzet yang diraup cukup besar, terutama ketika momentum hari besar seperti Idulfitri.
Penurunan omzet ini terjadi dikarenakan lokasi lapak yang ditempatinya berada di belakang bangunan Museum Mulawarman.
Secara tata letak, posisi lapak tersebut dianggap kurang strategis karena terhalang pandangan dari jalur utama pengunjung, sehingga banyak wisatawan yang tidak mengetahui keberadaan lapak-lapak pedagang tersebut.
“Saya berjualan sejak 2003 dan beberapa kali sudah dipindahkan, mulai dari dalam, parkiran hingga di belakang bangunan Museum Mulawarman yang kini kami tempati,” ujar Sidik, Senin (30/3/2026).
Selain terhalang bangunan, keberadaan fasilitas umum seperti taman serta minimnya pelang penunjuk arah juga turut membatasi akses dan pandangan para pengunjung terhadap area lapak, sehingga dianggap mengurangi peluang pedagang untuk menarik perhatian wisatawan.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi terkait penataan kawasan, termasuk pembukaan akses dan area kuliner yang dapat mengarahkan pengunjung ke lokasi pedagang.
“Kalau aksesnya jelas dan terbuka agar pengunjung pasti lebih banyak ke sini,” tandasnya.
(Sf/Rs)