Cari disini...
Seputar Kaltim
Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah PPU, Rini Wedhayanti. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusip) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) membawa inovasi baru dalam lomba inovasi daerah tahun ini. Bernama Literia (Literasi Interaktif Riset dan Arsip Nusantara), inovasi tersebut menggabungkan literasi, riset, seminar hingga penyusunan bahan kebijakan.
Pustakawan Madya Dispusip PPU, Rini Wedhayanti, mengatakan Literia dikembangkan dari inovasi sebelumnya, Misbaper (Menulis Bersama Perpustakaan). Jika Misbaper berfokus pada proses menulis hingga menerbitkan buku, Literia memperluas prosesnya dengan riset dan pembahasan lintas pihak.
"Misbaper kemarin hanya proses menulis dan menerbitkan buku. Di Literia ada proses seminarnya, ada narasumber yang berbicara, kemudian topiknya kita riset terlebih dahulu," kata Rini, Kamis (10/9/2026).
Topik yang dibahas tidak langsung dibawa ke seminar. Dispusip lebih dulu mencari isu yang sedang berkembang, kemudian melakukan riset menggunakan teknik penulisan ilmiah dan systematic literature review (SLR) untuk menemukan celah atau kebaruan pembahasan.
Hasil riset itu kemudian dipertemukan dengan berbagai pihak. Akademisi, pelaku usaha, pemerintah dan masyarakat sipil dilibatkan dalam pembahasan.
Dari forum tersebut, persoalan yang muncul dapat dibahas bersama. Akademisi memberikan masukan berdasarkan hasil riset, sementara anggota DPRD yang terlibat dapat membawa temuan tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.
"Jadi dari topik itu dibahas, muncul masalah, kemudian akademisi memberi masukan kepada DPRD. Ada transfer pengetahuan, sampai penyelesaiannya bisa melalui regulasi atau perda," jelasnya.
Salah satu tema yang sudah dijalankan berkaitan dengan UMKM. Pembahasannya mencakup budaya kuliner dan bentuk dukungan pemerintah terhadap pelaku usaha.
Dalam diskusi itu, muncul masukan akademisi mengenai perlunya regulasi yang dapat memberi ruang lebih besar bagi UMKM. Salah satu contoh yang dibahas ialah pengaturan bagi hotel tertentu agar menyediakan menu tradisional pada hari tertentu, sehingga produk UMKM lokal mendapat ruang pemasaran.
Literia tahun ini baru berjalan pada episode pertama. Tema yang diangkat mencakup kuliner, bahasa dan cerita rakyat.
Dispusip menyiapkan empat hingga lima episode. Pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan ketersediaan pemateri.
Setiap seminar tidak berhenti setelah forum selesai. Transkrip pembahasan akan dihimpun menjadi korpus data untuk diolah kembali dalam bentuk karya tulis ilmiah.
Target berikutnya bahkan diarahkan pada publikasi jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal yang terindeks Scopus Q1 dan Q2. Hasilnya kemudian akan diolah lagi menjadi buku yang dapat dibaca masyarakat umum.
"Ekosistemnya hidup. Berbicara ada, menulis ada, penelitian dan riset juga ada. Output akhirnya bisa menjadi buku," ujar dia.
Rini mengatakan Literia diharapkan mampu mengulang keberhasilan Misbaper yang sebelumnya diikutkan dalam lomba inovasi daerah. Dispusip PPU kembali berharap inovasi yang diusung dapat meraih hasil terbaik di tahun ini.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah PPU, Rini Wedhayanti. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)
Penajam - Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusip) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) membawa inovasi baru dalam lomba inovasi daerah tahun ini. Bernama Literia (Literasi Interaktif Riset dan Arsip Nusantara), inovasi tersebut menggabungkan literasi, riset, seminar hingga penyusunan bahan kebijakan.
Pustakawan Madya Dispusip PPU, Rini Wedhayanti, mengatakan Literia dikembangkan dari inovasi sebelumnya, Misbaper (Menulis Bersama Perpustakaan). Jika Misbaper berfokus pada proses menulis hingga menerbitkan buku, Literia memperluas prosesnya dengan riset dan pembahasan lintas pihak.
"Misbaper kemarin hanya proses menulis dan menerbitkan buku. Di Literia ada proses seminarnya, ada narasumber yang berbicara, kemudian topiknya kita riset terlebih dahulu," kata Rini, Kamis (10/9/2026).
Topik yang dibahas tidak langsung dibawa ke seminar. Dispusip lebih dulu mencari isu yang sedang berkembang, kemudian melakukan riset menggunakan teknik penulisan ilmiah dan systematic literature review (SLR) untuk menemukan celah atau kebaruan pembahasan.
Hasil riset itu kemudian dipertemukan dengan berbagai pihak. Akademisi, pelaku usaha, pemerintah dan masyarakat sipil dilibatkan dalam pembahasan.
Dari forum tersebut, persoalan yang muncul dapat dibahas bersama. Akademisi memberikan masukan berdasarkan hasil riset, sementara anggota DPRD yang terlibat dapat membawa temuan tersebut sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan.
"Jadi dari topik itu dibahas, muncul masalah, kemudian akademisi memberi masukan kepada DPRD. Ada transfer pengetahuan, sampai penyelesaiannya bisa melalui regulasi atau perda," jelasnya.
Salah satu tema yang sudah dijalankan berkaitan dengan UMKM. Pembahasannya mencakup budaya kuliner dan bentuk dukungan pemerintah terhadap pelaku usaha.
Dalam diskusi itu, muncul masukan akademisi mengenai perlunya regulasi yang dapat memberi ruang lebih besar bagi UMKM. Salah satu contoh yang dibahas ialah pengaturan bagi hotel tertentu agar menyediakan menu tradisional pada hari tertentu, sehingga produk UMKM lokal mendapat ruang pemasaran.
Literia tahun ini baru berjalan pada episode pertama. Tema yang diangkat mencakup kuliner, bahasa dan cerita rakyat.
Dispusip menyiapkan empat hingga lima episode. Pelaksanaannya tetap disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan ketersediaan pemateri.
Setiap seminar tidak berhenti setelah forum selesai. Transkrip pembahasan akan dihimpun menjadi korpus data untuk diolah kembali dalam bentuk karya tulis ilmiah.
Target berikutnya bahkan diarahkan pada publikasi jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal yang terindeks Scopus Q1 dan Q2. Hasilnya kemudian akan diolah lagi menjadi buku yang dapat dibaca masyarakat umum.
"Ekosistemnya hidup. Berbicara ada, menulis ada, penelitian dan riset juga ada. Output akhirnya bisa menjadi buku," ujar dia.
Rini mengatakan Literia diharapkan mampu mengulang keberhasilan Misbaper yang sebelumnya diikutkan dalam lomba inovasi daerah. Dispusip PPU kembali berharap inovasi yang diusung dapat meraih hasil terbaik di tahun ini.
(Sf/Rs)