Seputar Kaltim

    Listrik Jadi Tantangan Wisata, Diskominfo Berau Siap Kolaborasi dengan PLN

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    29 Desember 2025 pukul 19:24 WITA

    Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi. (Foto:Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Berau menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan PT PLN dalam memperkuat jaringan listrik di kawasan destinasi wisata yang belum terlayani sinyal provider. Sebagai upaya Diskominfo juga akan melakukan pendataan ulang kawasan wisata untuk menentukan lokasi yang memungkinkan dialiri listrik.

    Langkah ini merupakan tindak lanjut rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Kalimantan Timur terkait Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) kinerja pembangunan kepariwisataan Tahun Anggaran 2023 hingga Semester I 2025.

    Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi, mengatakan pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Inspektorat, Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang), serta PLN. Dimana, hasilnya menunjukkan sebagian kawasan wisata sudah teraliri listrik, namun masih ada lokasi yang belum terjangkau, terutama yang berada di tengah hutan.

    "PLN siap mendukung. Namun sebagian destinasi wisata sudah memiliki listrik dan sebagian lain belum, terutama yang lokasinya cukup jauh dari akses utama," kata Didi.

    Ia pun menyebut, penambahan jaringan listrik memerlukan investasi besar. Contohnya seperti objek wisata Tambalang yang berada di tengah hutan. 

    "Dari pihak PLN menyampaikan untuk satu kilometer jaringan listrik dibutuhkan biaya minimal Rp6,5 miliar. Sehingga di kawasan hutan, belum bisa dilakukan karena investasinya sangat besar dan perlu kajian lebih lanjut," jelasnya.

    Sebagai alternatif, Diskominfo mempertimbangkan pemanfaatan energi terbarukan seperti solar cell. Namun opsi ini juga memiliki kendala, seperti biaya baterai yang mahal dan risiko kehilangan. 

    "Solar cell menjadi opsi, tetapi baterainya mahal dan harus ada pengamanan karena rawan hilang," ujarnya.

    Sementara itu, ia menyampaikan bahwa pihaknya di Diskominfo akan melakukan pendataan ulang kawasan wisata untuk menentukan lokasi yang memungkinkan dialiri listrik atau memerlukan solusi alternatif. 

    "Kalau memungkinkan, akan dikolaborasikan dengan PLN. Kalau investasi terlalu besar, akan dicari solusi lain yang paling tepat," katanya.

    Selain listrik, Diskominfo juga fokus pada penguatan jaringan internet di kawasan wisata terpencil agar mendukung pengembangan pariwisata dan kenyamanan pengunjung.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Listrik Jadi Tantangan Wisata, Diskominfo Berau Siap Kolaborasi dengan PLN

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    29 Desember 2025 pukul 19:24 WITA

    Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi. (Foto:Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Berau menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan PT PLN dalam memperkuat jaringan listrik di kawasan destinasi wisata yang belum terlayani sinyal provider. Sebagai upaya Diskominfo juga akan melakukan pendataan ulang kawasan wisata untuk menentukan lokasi yang memungkinkan dialiri listrik.

    Langkah ini merupakan tindak lanjut rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Kalimantan Timur terkait Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) kinerja pembangunan kepariwisataan Tahun Anggaran 2023 hingga Semester I 2025.

    Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi, mengatakan pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Inspektorat, Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapelitbang), serta PLN. Dimana, hasilnya menunjukkan sebagian kawasan wisata sudah teraliri listrik, namun masih ada lokasi yang belum terjangkau, terutama yang berada di tengah hutan.

    "PLN siap mendukung. Namun sebagian destinasi wisata sudah memiliki listrik dan sebagian lain belum, terutama yang lokasinya cukup jauh dari akses utama," kata Didi.

    Ia pun menyebut, penambahan jaringan listrik memerlukan investasi besar. Contohnya seperti objek wisata Tambalang yang berada di tengah hutan. 

    "Dari pihak PLN menyampaikan untuk satu kilometer jaringan listrik dibutuhkan biaya minimal Rp6,5 miliar. Sehingga di kawasan hutan, belum bisa dilakukan karena investasinya sangat besar dan perlu kajian lebih lanjut," jelasnya.

    Sebagai alternatif, Diskominfo mempertimbangkan pemanfaatan energi terbarukan seperti solar cell. Namun opsi ini juga memiliki kendala, seperti biaya baterai yang mahal dan risiko kehilangan. 

    "Solar cell menjadi opsi, tetapi baterainya mahal dan harus ada pengamanan karena rawan hilang," ujarnya.

    Sementara itu, ia menyampaikan bahwa pihaknya di Diskominfo akan melakukan pendataan ulang kawasan wisata untuk menentukan lokasi yang memungkinkan dialiri listrik atau memerlukan solusi alternatif. 

    "Kalau memungkinkan, akan dikolaborasikan dengan PLN. Kalau investasi terlalu besar, akan dicari solusi lain yang paling tepat," katanya.

    Selain listrik, Diskominfo juga fokus pada penguatan jaringan internet di kawasan wisata terpencil agar mendukung pengembangan pariwisata dan kenyamanan pengunjung.

    (Sf/Rs)