Cari disini...
Seputar Kaltim
Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Perekonomian Setda Berau, Andi Marawangeng. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Limbah abu batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) atau Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dinilai memiliki peluang besar untuk diolah menjadi material alternatif dalam pembangunan di Kabupaten Berau.
Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Perekonomian Setda Berau, Andi Marawangeng, mengatakan pemanfaatan FABA dapat menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan semen murni, sekaligus menekan biaya konstruksi.
"Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, FABA dapat dikomposisikan sebagai bahan campuran, sehingga mengurangi penggunaan semen murni sebesar 40 persen," kata Andi Marawangeng.
Menurutnya, pemanfaatan limbah tersebut juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Pengurangan penggunaan semen murni dinilai dapat menekan pencemaran yang dihasilkan dari proses produksi semen.
"Satu ton semen yang diproduksi secara normal dapat menghasilkan pencemaran udara hingga satu ton juga. Dengan mencampurkan fly ash sebanyak 40 persen, kebutuhan semen berkurang dan pencemaran udara otomatis bisa ditekan hingga 40 persen. Ini bisa menjadi semen ramah lingkungan," terangnya.
Sementara itu, dirinya menyampaikan bahwa FABA juga telah melalui pengujian untuk menghasilkan Self Compacting Concrete (SCC) atau beton yang dapat memadat sendiri. Kualitas material tersebut disebut mampu mencapai tingkat kekerasan yang setara hingga melampaui beton mutu menengah ke atas.
"Pengujian material tersebut telah menghasilkan Self Compacting Concrete atau beton yang dapat memadat sendiri, dengan tingkat kekerasan yang setara hingga melampaui beton mutu menengah ke atas, tergantung pada modifikasi campuran atau job mix design dan job mix formula," ujarnya.
Ia menilai potensi ekonomi dari pemanfaatan FABA juga cukup besar. Dengan mengganti sebagian penggunaan semen murni menggunakan bahan limbah, biaya material konstruksi dapat ditekan.
"Karena menggunakan bahan limbah, harga semen dari formulasi ini bisa ditekan dan paling tidak harganya turun hingga 40 persen dibandingkan semen murni," ungkapnya.
Untuk mengoptimalkan pemanfaatannya, pihaknya mendorong agar perusahaan pengelola PLTU dapat menyalurkan FABA melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Limbah tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran untuk kebutuhan pembangunan.
"Kami mendorong agar limbah dari PLTU dapat dialokasikan melalui program CSR untuk dimanfaatkan kembali sebagai campuran bahan bangunan," tuturnya.
Namun, Andi mengatakan pemanfaatan FABA masih menghadapi kendala regulasi karena saat ini material tersebut masih dikategorikan sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Kepastian regulasi menjadi salah satu hal yang dibutuhkan agar pemanfaatannya dapat diterapkan secara lebih luas.
"Jika regulasi sudah memperbolehkan untuk digunakan, insyaallah ini bisa langsung diaplikasikan di daerah," pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Perekonomian Setda Berau, Andi Marawangeng. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Limbah abu batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) atau Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dinilai memiliki peluang besar untuk diolah menjadi material alternatif dalam pembangunan di Kabupaten Berau.
Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Perekonomian Setda Berau, Andi Marawangeng, mengatakan pemanfaatan FABA dapat menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan semen murni, sekaligus menekan biaya konstruksi.
"Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, FABA dapat dikomposisikan sebagai bahan campuran, sehingga mengurangi penggunaan semen murni sebesar 40 persen," kata Andi Marawangeng.
Menurutnya, pemanfaatan limbah tersebut juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Pengurangan penggunaan semen murni dinilai dapat menekan pencemaran yang dihasilkan dari proses produksi semen.
"Satu ton semen yang diproduksi secara normal dapat menghasilkan pencemaran udara hingga satu ton juga. Dengan mencampurkan fly ash sebanyak 40 persen, kebutuhan semen berkurang dan pencemaran udara otomatis bisa ditekan hingga 40 persen. Ini bisa menjadi semen ramah lingkungan," terangnya.
Sementara itu, dirinya menyampaikan bahwa FABA juga telah melalui pengujian untuk menghasilkan Self Compacting Concrete (SCC) atau beton yang dapat memadat sendiri. Kualitas material tersebut disebut mampu mencapai tingkat kekerasan yang setara hingga melampaui beton mutu menengah ke atas.
"Pengujian material tersebut telah menghasilkan Self Compacting Concrete atau beton yang dapat memadat sendiri, dengan tingkat kekerasan yang setara hingga melampaui beton mutu menengah ke atas, tergantung pada modifikasi campuran atau job mix design dan job mix formula," ujarnya.
Ia menilai potensi ekonomi dari pemanfaatan FABA juga cukup besar. Dengan mengganti sebagian penggunaan semen murni menggunakan bahan limbah, biaya material konstruksi dapat ditekan.
"Karena menggunakan bahan limbah, harga semen dari formulasi ini bisa ditekan dan paling tidak harganya turun hingga 40 persen dibandingkan semen murni," ungkapnya.
Untuk mengoptimalkan pemanfaatannya, pihaknya mendorong agar perusahaan pengelola PLTU dapat menyalurkan FABA melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Limbah tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran untuk kebutuhan pembangunan.
"Kami mendorong agar limbah dari PLTU dapat dialokasikan melalui program CSR untuk dimanfaatkan kembali sebagai campuran bahan bangunan," tuturnya.
Namun, Andi mengatakan pemanfaatan FABA masih menghadapi kendala regulasi karena saat ini material tersebut masih dikategorikan sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Kepastian regulasi menjadi salah satu hal yang dibutuhkan agar pemanfaatannya dapat diterapkan secara lebih luas.
"Jika regulasi sudah memperbolehkan untuk digunakan, insyaallah ini bisa langsung diaplikasikan di daerah," pungkasnya.
(Sf/Lo)