Cari disini...
Seputar Kaltim
Suasana saat pelatihan limbah kelapa di Maratua menjadi produk kerajinan. (Foto: Istimewa)
Tanjung Redeb - Potensi limbah kelapa di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, kini mulai dilirik menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui pelatihan yang telah dilaksanakan oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, warga setempat didorong mengubah limbah kelapa menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan pelatihan ini merupakan upaya untuk menumbuhkan industri kreatif di wilayah kepulauan salah satunya Maratua. Menurutnya, selama ini, Maratua dikenal sebagai destinasi wisata unggulan, namun belum memiliki oleh-oleh khas yang mencerminkan identitas daerah.
"Maratua itu belum ada oleh-oleh khasnya. Padahal di sana potensi kelapa sangat melimpah. Karena itu kami adakan pelatihan agar limbah kelapa bisa diolah menjadi suvenir khas Maratua," ujar Eva, Kamis (16/10/2025).
Ia menilai potensi limbah kelapa jika bisa diolah dengan benar maka itu dapat menjadi peluang besar untuk menciptakan produk khas daerah yang bernilai seni dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir.
Sementara itu, dirinya menyampaikan dalam pelatihan yang telah diadakan dan berlangsung selama empat hari tersebut, sebanyak 15 peserta dilatih mengolah limbah kelapa menjadi berbagai produk menarik seperti tempat tisu, gantungan kunci, bros, kalung, hingga miniatur kapal layar.
Menurutnya, hasil karya para peserta tersebut cukup memuaskan dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi oleh-oleh khas daerah.
"Kami tidak ingin pelatihan ini berhenti di sini. Kami sudah sampaikan kepada camat, kepala kampung, dan stakeholder terkait agar mendampingi peserta agar bisa terus berproduksi," tambahnya.
Selain itu, Diskoperindag juga akan menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Berau serta pemilik resort di Maratua untuk membantu memasarkan hasil kerajinan warga.
"Kami akan ajak resort-resort di Maratua ikut membantu pemasaran. Misalnya dengan menyediakan ruang pajang atau membeli langsung produk mereka sebagai perlengkapan resort," tuturnya.
Sehingga, untuk mendukung keberlanjutan program, kelompok pengrajin di empat kampung di Maratua pun diminta segera mengurus legalitas kelompok agar bisa mengakses bantuan peralatan dari pemerintah.
"Saya berharap jika nantinya ada dukungan alat yang memadai, masyarakat bisa berproduksi secara berkelanjutan dan meningkatkan kapasitas usahanya," harapnya.
Eva menegaskan, pengembangan industri kreatif berbasis limbah kelapa ini tidak hanya ditujukan untuk menciptakan suvenir khas daerah, tetapi juga untuk memperkuat identitas wisata Maratua sebagai destinasi unggulan yang berdaya saing dan berkelanjutan.
"Kami ingin masyarakat Maratua tidak hanya jadi penonton, tapi juga bisa terlibat langsung dalam menggerakkan ekonomi wisata di daerahnya. Dengan begitu, mereka bisa merasakan manfaat langsung dari berkembangnya pariwisata," tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Suasana saat pelatihan limbah kelapa di Maratua menjadi produk kerajinan. (Foto: Istimewa)
Tanjung Redeb - Potensi limbah kelapa di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, kini mulai dilirik menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui pelatihan yang telah dilaksanakan oleh Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, warga setempat didorong mengubah limbah kelapa menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan pelatihan ini merupakan upaya untuk menumbuhkan industri kreatif di wilayah kepulauan salah satunya Maratua. Menurutnya, selama ini, Maratua dikenal sebagai destinasi wisata unggulan, namun belum memiliki oleh-oleh khas yang mencerminkan identitas daerah.
"Maratua itu belum ada oleh-oleh khasnya. Padahal di sana potensi kelapa sangat melimpah. Karena itu kami adakan pelatihan agar limbah kelapa bisa diolah menjadi suvenir khas Maratua," ujar Eva, Kamis (16/10/2025).
Ia menilai potensi limbah kelapa jika bisa diolah dengan benar maka itu dapat menjadi peluang besar untuk menciptakan produk khas daerah yang bernilai seni dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir.
Sementara itu, dirinya menyampaikan dalam pelatihan yang telah diadakan dan berlangsung selama empat hari tersebut, sebanyak 15 peserta dilatih mengolah limbah kelapa menjadi berbagai produk menarik seperti tempat tisu, gantungan kunci, bros, kalung, hingga miniatur kapal layar.
Menurutnya, hasil karya para peserta tersebut cukup memuaskan dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi oleh-oleh khas daerah.
"Kami tidak ingin pelatihan ini berhenti di sini. Kami sudah sampaikan kepada camat, kepala kampung, dan stakeholder terkait agar mendampingi peserta agar bisa terus berproduksi," tambahnya.
Selain itu, Diskoperindag juga akan menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Berau serta pemilik resort di Maratua untuk membantu memasarkan hasil kerajinan warga.
"Kami akan ajak resort-resort di Maratua ikut membantu pemasaran. Misalnya dengan menyediakan ruang pajang atau membeli langsung produk mereka sebagai perlengkapan resort," tuturnya.
Sehingga, untuk mendukung keberlanjutan program, kelompok pengrajin di empat kampung di Maratua pun diminta segera mengurus legalitas kelompok agar bisa mengakses bantuan peralatan dari pemerintah.
"Saya berharap jika nantinya ada dukungan alat yang memadai, masyarakat bisa berproduksi secara berkelanjutan dan meningkatkan kapasitas usahanya," harapnya.
Eva menegaskan, pengembangan industri kreatif berbasis limbah kelapa ini tidak hanya ditujukan untuk menciptakan suvenir khas daerah, tetapi juga untuk memperkuat identitas wisata Maratua sebagai destinasi unggulan yang berdaya saing dan berkelanjutan.
"Kami ingin masyarakat Maratua tidak hanya jadi penonton, tapi juga bisa terlibat langsung dalam menggerakkan ekonomi wisata di daerahnya. Dengan begitu, mereka bisa merasakan manfaat langsung dari berkembangnya pariwisata," tandasnya.
(Sf/Rs)