Cari disini...
Seputar Kaltim
Isran Noor dan Hadi Mulyadi saat di acara bincang santai bersama wartawan. Saat ini mencalonkan Gubernur dan Wakil Gubernur melalui koalisi partai. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Bakal Calon Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Hadi Mulyadi, mengungkapkan alasan strategis di balik keputusan untuk tidak menempuh jalur independen bersama Isran Noor dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2024.
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan dinamika politik dan respons masyarakat. Menurut Hadi, merupakan langkah Isran Noor untuk mengukur seberapa besar keinginan masyarakat agar ia kembali memimpin.
"Isran Noor ingin melihat sejauh mana animo masyarakat ingin meminta beliau kembali," kata Hadi Mulyadi saat ditemui usai penyerahan formulir pendaftaran di Rumah PAN Kaltim, Samarinda, Rabu (15/5/2024).
Sebelum Isran Noor dan Hadi Mulyadi memutuskan untuk lanjutkan di jalur partai. Perjalanan jauh sudah ditempuh, sejak Maret 2024 tim Kaltim berdaulat jilid kedua ini mulai digulirkan di publik.
Tim dari berbagai kabupaten Kota juga telah dibentuk untuk mencari surat dukungan. Melihat syarat utama, tim harus mengumpulkan 8,5 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang di Kaltim mencapai 2.778.644 orang. Yakni seminimal-minimalnya tim dapat mengumpulkan 236 ribu Surduk.
Meskipun tidak melanjutkan jalur independen, Hadi menegaskan bahwa timnya sudah menerima surat dukungan dari masyarakat Kaltim sebanyak 300 ribu. "Berkaca pada tahun 2014, kami menerima suara lebih dari 400 ribu. Saat ini, jumlah surat dukungan yang kami terima juga telah melebihi angka tersebut," ungkap Hadi.
Pendaftaran calon independen untuk Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur 2024 telah resmi ditutup pada 12 Mei 2024, tanpa satupun pendaftar. Pengamat politik dari Universitas Mulawarman, Jumansyah, mengungkapkan analisisnya terkait fenomena ini yang mencerminkan dinamika politik saat ini.
Menurut Jumansyah, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan bakal calon enggan mendaftar melalui jalur independen. "Keraguan menjadi faktor utama, ditambah dengan eksistensi partai politik yang masih kuat," ujar Jumansyah.
Ia menambahkan bahwa meskipun ada calon yang sempat menjadi perbincangan publik untuk maju secara independen, seperti Isran Noor dan Hadi Mulyadi, mereka akhirnya tidak jadi mendaftar. "Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 300 ribu surat dukungan, namun tidak ada yang membuktikan komitmen tersebut hingga akhir," katanya.
Jumansyah juga menilai bahwa syarat dukungan masyarakat bukanlah hal yang sulit untuk dipenuhi. "Yang lebih menantang adalah mendapatkan rekomendasi dari partai politik," tambahnya.
Pengamat politik ini menekankan bahwa setiap bakal calon memiliki pertimbangan tersendiri dalam memilih jalur politik yang akan ditempuh. "Pilkada bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana calon terpilih akan menjalankan pemerintahan selama lima tahun ke depan," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Isran Noor dan Hadi Mulyadi saat di acara bincang santai bersama wartawan. Saat ini mencalonkan Gubernur dan Wakil Gubernur melalui koalisi partai. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Bakal Calon Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Hadi Mulyadi, mengungkapkan alasan strategis di balik keputusan untuk tidak menempuh jalur independen bersama Isran Noor dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim 2024.
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan dinamika politik dan respons masyarakat. Menurut Hadi, merupakan langkah Isran Noor untuk mengukur seberapa besar keinginan masyarakat agar ia kembali memimpin.
"Isran Noor ingin melihat sejauh mana animo masyarakat ingin meminta beliau kembali," kata Hadi Mulyadi saat ditemui usai penyerahan formulir pendaftaran di Rumah PAN Kaltim, Samarinda, Rabu (15/5/2024).
Sebelum Isran Noor dan Hadi Mulyadi memutuskan untuk lanjutkan di jalur partai. Perjalanan jauh sudah ditempuh, sejak Maret 2024 tim Kaltim berdaulat jilid kedua ini mulai digulirkan di publik.
Tim dari berbagai kabupaten Kota juga telah dibentuk untuk mencari surat dukungan. Melihat syarat utama, tim harus mengumpulkan 8,5 persen dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang di Kaltim mencapai 2.778.644 orang. Yakni seminimal-minimalnya tim dapat mengumpulkan 236 ribu Surduk.
Meskipun tidak melanjutkan jalur independen, Hadi menegaskan bahwa timnya sudah menerima surat dukungan dari masyarakat Kaltim sebanyak 300 ribu. "Berkaca pada tahun 2014, kami menerima suara lebih dari 400 ribu. Saat ini, jumlah surat dukungan yang kami terima juga telah melebihi angka tersebut," ungkap Hadi.
Pendaftaran calon independen untuk Pemilihan Gubernur Kalimantan Timur 2024 telah resmi ditutup pada 12 Mei 2024, tanpa satupun pendaftar. Pengamat politik dari Universitas Mulawarman, Jumansyah, mengungkapkan analisisnya terkait fenomena ini yang mencerminkan dinamika politik saat ini.
Menurut Jumansyah, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan bakal calon enggan mendaftar melalui jalur independen. "Keraguan menjadi faktor utama, ditambah dengan eksistensi partai politik yang masih kuat," ujar Jumansyah.
Ia menambahkan bahwa meskipun ada calon yang sempat menjadi perbincangan publik untuk maju secara independen, seperti Isran Noor dan Hadi Mulyadi, mereka akhirnya tidak jadi mendaftar. "Mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 300 ribu surat dukungan, namun tidak ada yang membuktikan komitmen tersebut hingga akhir," katanya.
Jumansyah juga menilai bahwa syarat dukungan masyarakat bukanlah hal yang sulit untuk dipenuhi. "Yang lebih menantang adalah mendapatkan rekomendasi dari partai politik," tambahnya.
Pengamat politik ini menekankan bahwa setiap bakal calon memiliki pertimbangan tersendiri dalam memilih jalur politik yang akan ditempuh. "Pilkada bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana calon terpilih akan menjalankan pemerintahan selama lima tahun ke depan," tutupnya.
(Sf/Rs)