Seputar Kaltim

    Layanan Kanker Belum Tersedia di Kutim, Pasien Masih Dirujuk ke Samarinda

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    21 Agustus 2026 pukul 16:03 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati, (Foto: Lisda/seputarfakta.com

    Sangatta – Pelayanan kesehatan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus diperkuat, tetapi belum semua penyakit dapat ditangani di dalam daerah. Salah satunya kanker yang hingga kini masih membutuhkan rujukan ke Samarinda.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, RSUD Kudungga sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Kutim sudah didukung sejumlah dokter spesialis serta fasilitas dan alat kesehatan yang semakin lengkap.

    Namun, masih terdapat layanan tertentu yang belum tersedia. Salah satunya penanganan kanker karena Kutim belum memiliki dokter spesialis onkologi maupun dokter yang memiliki fellowship onkologi.

    Dokter spesialis onkologi memiliki kompetensi khusus dalam menangani kanker, sementara fellowship onkologi merupakan pendidikan atau pelatihan lanjutan untuk memperdalam keahlian di bidang onkologi.

    “Untuk penanganan onkologi, kanker ya. Kanker kita belum punya dokter spesialis onkologi, belum punya dokter yang fellowship onko dan juga kita belum punya alatnya radioterapi maupun apa yang lain sehingga kita masih harus mengirim ke Samarinda,” ujar dr Yuwana. 

    Selain layanan kanker, Kutim juga belum memiliki dokter spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular (BTKV) untuk menangani tindakan bedah jantung. Meski demikian, untuk tindakan kateterisasi jantung sudah dapat dilakukan di Kutim.

    “Kalau untuk tindakan kateterisasi jantung itu sudah bisa dilaksanakan di Kutim,” katanya.

    Untuk penyakit yang belum dapat ditangani di Kutim, pasien tetap akan dirujuk ke luar daerah. Sementara itu, layanan yang sudah tersedia terus diperkuat melalui RSUD Kudungga.

    Dalam proses rujukan tersebut, Kutim telah menerapkan Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrut). Namun, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi kendala jaringan internet di sejumlah puskesmas, terutama di daerah terpencil.

    Menurut dr Yuwana, ketika puskesmas mengalami gangguan sinyal, proses pengiriman rujukan secara daring ke rumah sakit dapat terganggu. Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika pasien membutuhkan penanganan segera.

    Ia mencontohkan, puskesmas yang hendak merujuk pasien ke RSUD Kudungga dapat mengalami kendala ketika jaringan tidak tersedia sehingga informasi rujukan belum diterima rumah sakit.

    Dalam kondisi seperti itu, petugas akan menggunakan komunikasi manual melalui telepon atau pesan untuk memastikan pasien tetap dapat dirujuk.

    “Sehingga biasanya nanti akan dibantu juga secara manual pakai telepon gitu ya. Telepon-teleponan, nge-chat gitu ya. Pokoknya mereka akan mengirim pasien ke Kudungga,” jelasnya.

    Menurutnya, mekanisme tersebut menjadi solusi sementara bagi puskesmas di wilayah yang mengalami kendala sinyal maupun gangguan jaringan saat proses rujukan dilakukan.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Layanan Kanker Belum Tersedia di Kutim, Pasien Masih Dirujuk ke Samarinda

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    21 Agustus 2026 pukul 16:03 WITA

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati, (Foto: Lisda/seputarfakta.com

    Sangatta – Pelayanan kesehatan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus diperkuat, tetapi belum semua penyakit dapat ditangani di dalam daerah. Salah satunya kanker yang hingga kini masih membutuhkan rujukan ke Samarinda.

    Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, RSUD Kudungga sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Kutim sudah didukung sejumlah dokter spesialis serta fasilitas dan alat kesehatan yang semakin lengkap.

    Namun, masih terdapat layanan tertentu yang belum tersedia. Salah satunya penanganan kanker karena Kutim belum memiliki dokter spesialis onkologi maupun dokter yang memiliki fellowship onkologi.

    Dokter spesialis onkologi memiliki kompetensi khusus dalam menangani kanker, sementara fellowship onkologi merupakan pendidikan atau pelatihan lanjutan untuk memperdalam keahlian di bidang onkologi.

    “Untuk penanganan onkologi, kanker ya. Kanker kita belum punya dokter spesialis onkologi, belum punya dokter yang fellowship onko dan juga kita belum punya alatnya radioterapi maupun apa yang lain sehingga kita masih harus mengirim ke Samarinda,” ujar dr Yuwana. 

    Selain layanan kanker, Kutim juga belum memiliki dokter spesialis Bedah Toraks, Kardiak dan Vaskular (BTKV) untuk menangani tindakan bedah jantung. Meski demikian, untuk tindakan kateterisasi jantung sudah dapat dilakukan di Kutim.

    “Kalau untuk tindakan kateterisasi jantung itu sudah bisa dilaksanakan di Kutim,” katanya.

    Untuk penyakit yang belum dapat ditangani di Kutim, pasien tetap akan dirujuk ke luar daerah. Sementara itu, layanan yang sudah tersedia terus diperkuat melalui RSUD Kudungga.

    Dalam proses rujukan tersebut, Kutim telah menerapkan Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrut). Namun, pelaksanaannya di lapangan masih menghadapi kendala jaringan internet di sejumlah puskesmas, terutama di daerah terpencil.

    Menurut dr Yuwana, ketika puskesmas mengalami gangguan sinyal, proses pengiriman rujukan secara daring ke rumah sakit dapat terganggu. Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika pasien membutuhkan penanganan segera.

    Ia mencontohkan, puskesmas yang hendak merujuk pasien ke RSUD Kudungga dapat mengalami kendala ketika jaringan tidak tersedia sehingga informasi rujukan belum diterima rumah sakit.

    Dalam kondisi seperti itu, petugas akan menggunakan komunikasi manual melalui telepon atau pesan untuk memastikan pasien tetap dapat dirujuk.

    “Sehingga biasanya nanti akan dibantu juga secara manual pakai telepon gitu ya. Telepon-teleponan, nge-chat gitu ya. Pokoknya mereka akan mengirim pasien ke Kudungga,” jelasnya.

    Menurutnya, mekanisme tersebut menjadi solusi sementara bagi puskesmas di wilayah yang mengalami kendala sinyal maupun gangguan jaringan saat proses rujukan dilakukan.

    (Sf/Lo)