Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Para siswa Sekolah Rakyat Terpadu 58 Samarinda sedang menggunakan laptop untuk pembelajaran. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Puluhan siswa di Sekolah Rakyat SRT 58 Samarinda sekarang sudah makin melek teknologi.
Cap gagap teknologi alias gaptek pelan-pelan hilang setelah mereka mulai rutin belajar menggunakan 61 unit laptop bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
Kepala Sekolah Rakyat SRT 58 Samarinda, Rabiatul Adawiyah, menyebutkan bahwa bantuan perangkat keras tersebut sudah diterima sejak akhir tahun lalu.
Kini, laptop-laptop itu bukan sekadar pajangan, melainkan medium utama siswa agar tak tertinggal laju digitalisasi.
"Kami telah menerima bantuan laptop untuk menunjang proses pembelajaran siswa. Perangkat tersebut digunakan secara rutin dalam kegiatan belajar mengajar," ungkap Rabiatul saat dikonfirmasi, Kamis (9/4/2026).
Mulai Mahir Microsoft Word hingga Browsing
Penggunaan laptop di sekolah ini diintensifkan terutama pada jam tambahan pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Intensitas praktiknya pun terbilang tinggi dan disesuaikan dengan tingkatan pendidikan masing-masing.
Rabiatul merincikan, untuk siswa tingkat SMA rata-rata menggunakan laptop sekitar lima hingga enam kali dalam seminggu.
Sementara untuk siswa tingkat SD, jadwal praktiknya berkisar tiga hingga empat kali dalam sepekan.
Berkat rutinitas ini, para siswa sukses gagal gaptek. Mereka yang tadinya belum terbiasa, kini mulai mahir mengoperasikan program dasar seperti Microsoft Word dan Excel, serta lincah melakukan pencarian tugas melalui browser.
Mengingat statusnya sebagai aset yang bernilai, pihak sekolah menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat pasca-pemakaian.
Usai jam pelajaran berbasis digital selesai, tak ada satu pun laptop yang dibiarkan menginap di laci meja siswa.
"Demi keamanan, laptop-laptop tersebut tidak disimpan di ruang kelas. Setelah digunakan, seluruh perangkat dikembalikan ke ruang kepala sekolah dan disimpan di dalam lemari," tegas Rabiatul.
Langkah antisipasi ini diambil lantaran ruang kepala sekolah dinilai sebagai area yang paling memadai.
Ruang kelas lainnya saat ini belum dilengkapi dengan teralis pelindung maupun sistem keamanan khusus barang elektronik.
Agar tertib administrasi dan melatih rasa tanggung jawab, sekolah juga menerapkan sistem inventaris presisi.
"Setiap laptop juga telah diberi nama dan nomor. Para siswa menggunakan perangkat yang sama setiap kali kegiatan pembelajaran berbasis laptop dilakukan," tutupnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Para siswa Sekolah Rakyat Terpadu 58 Samarinda sedang menggunakan laptop untuk pembelajaran. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Puluhan siswa di Sekolah Rakyat SRT 58 Samarinda sekarang sudah makin melek teknologi.
Cap gagap teknologi alias gaptek pelan-pelan hilang setelah mereka mulai rutin belajar menggunakan 61 unit laptop bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
Kepala Sekolah Rakyat SRT 58 Samarinda, Rabiatul Adawiyah, menyebutkan bahwa bantuan perangkat keras tersebut sudah diterima sejak akhir tahun lalu.
Kini, laptop-laptop itu bukan sekadar pajangan, melainkan medium utama siswa agar tak tertinggal laju digitalisasi.
"Kami telah menerima bantuan laptop untuk menunjang proses pembelajaran siswa. Perangkat tersebut digunakan secara rutin dalam kegiatan belajar mengajar," ungkap Rabiatul saat dikonfirmasi, Kamis (9/4/2026).
Mulai Mahir Microsoft Word hingga Browsing
Penggunaan laptop di sekolah ini diintensifkan terutama pada jam tambahan pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Intensitas praktiknya pun terbilang tinggi dan disesuaikan dengan tingkatan pendidikan masing-masing.
Rabiatul merincikan, untuk siswa tingkat SMA rata-rata menggunakan laptop sekitar lima hingga enam kali dalam seminggu.
Sementara untuk siswa tingkat SD, jadwal praktiknya berkisar tiga hingga empat kali dalam sepekan.
Berkat rutinitas ini, para siswa sukses gagal gaptek. Mereka yang tadinya belum terbiasa, kini mulai mahir mengoperasikan program dasar seperti Microsoft Word dan Excel, serta lincah melakukan pencarian tugas melalui browser.
Mengingat statusnya sebagai aset yang bernilai, pihak sekolah menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat pasca-pemakaian.
Usai jam pelajaran berbasis digital selesai, tak ada satu pun laptop yang dibiarkan menginap di laci meja siswa.
"Demi keamanan, laptop-laptop tersebut tidak disimpan di ruang kelas. Setelah digunakan, seluruh perangkat dikembalikan ke ruang kepala sekolah dan disimpan di dalam lemari," tegas Rabiatul.
Langkah antisipasi ini diambil lantaran ruang kepala sekolah dinilai sebagai area yang paling memadai.
Ruang kelas lainnya saat ini belum dilengkapi dengan teralis pelindung maupun sistem keamanan khusus barang elektronik.
Agar tertib administrasi dan melatih rasa tanggung jawab, sekolah juga menerapkan sistem inventaris presisi.
"Setiap laptop juga telah diberi nama dan nomor. Para siswa menggunakan perangkat yang sama setiap kali kegiatan pembelajaran berbasis laptop dilakukan," tutupnya.
(Sf/Rs)