Seputar Kaltim

    Lahan dan Pakan Melimpah, Kutim Masih Kekurangan Peternak

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    14 Juni 2026 pukul 09:45 WITA

    Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur (Kutim), Dyah Ratnaningrum, menilai tantangan pengembangan sektor peternakan di Kutim saat ini bukan pada ketersediaan lahan maupun pakan, melainkan masih minimnya jumlah pelaku usaha peternakan.

    Ia menyampaikan berdasarkan data statistik, populasi sapi di Kutim saat ini sekitar 19.286 ekor. Namun, jumlah tersebut masih jauh di bawah sejumlah daerah di Pulau Jawa yang memiliki lebih banyak pelaku usaha peternakan.

    "Kalau kita bandingkan dengan di Jawa, sebenarnya yang kita hadapi bukan peternak miskin, tetapi miskin peternak. Pelaku peternakan kita masih sedikit," ujar Dyah.

    Ia mencontohkan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang memiliki wilayah lebih kecil dibanding Kutim, namun mampu mencatat populasi sapi sekitar 40 ribu ekor. Sementara Kabupaten Jember memiliki populasi sapi mencapai sekitar 97.500 ekor.

    Menurutnya, tingginya populasi ternak di daerah tersebut didukung banyaknya masyarakat yang menjadikan peternakan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi rumah tangga.

    "Di sana hampir setiap rumah tangga menjadi pelaku peternakan. Itu yang membuat populasi ternaknya berkembang pesat," katanya.

    Untuk mendorong lahirnya generasi peternak baru, Dyah mengajak mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan peternakan.

    Ia menilai pembelajaran peternakan tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas, tetapi perlu dibarengi praktik lapangan agar mahasiswa memahami pengelolaan ternak secara langsung.

    "Jangan hanya wacana dan rencana, tetapi harus ada aksi. Mahasiswa perlu terlibat langsung sehingga memiliki pengalaman dan ketertarikan terhadap dunia peternakan," jelasnya.

    Dyah juga menyoroti besarnya potensi peternakan yang dimiliki Kutim. Selain memiliki lahan yang luas, daerah ini juga didukung ketersediaan pakan ternak, seperti jagung dan berbagai jenis hijauan pakan ternak (HPT) unggul.

    Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan sektor peternakan di masa mendatang.

    "Potensi pakan kita luar biasa. Ada jagung dan berbagai jenis rumput unggul yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan peternakan. Tinggal bagaimana kita menyiapkan sumber daya manusia yang mau menekuni sektor ini," pungkasnya.

    (Sf/RS)

    Seputar Kaltim

    Lahan dan Pakan Melimpah, Kutim Masih Kekurangan Peternak

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    14 Juni 2026 pukul 09:45 WITA

    Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur (Kutim), Dyah Ratnaningrum, menilai tantangan pengembangan sektor peternakan di Kutim saat ini bukan pada ketersediaan lahan maupun pakan, melainkan masih minimnya jumlah pelaku usaha peternakan.

    Ia menyampaikan berdasarkan data statistik, populasi sapi di Kutim saat ini sekitar 19.286 ekor. Namun, jumlah tersebut masih jauh di bawah sejumlah daerah di Pulau Jawa yang memiliki lebih banyak pelaku usaha peternakan.

    "Kalau kita bandingkan dengan di Jawa, sebenarnya yang kita hadapi bukan peternak miskin, tetapi miskin peternak. Pelaku peternakan kita masih sedikit," ujar Dyah.

    Ia mencontohkan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, yang memiliki wilayah lebih kecil dibanding Kutim, namun mampu mencatat populasi sapi sekitar 40 ribu ekor. Sementara Kabupaten Jember memiliki populasi sapi mencapai sekitar 97.500 ekor.

    Menurutnya, tingginya populasi ternak di daerah tersebut didukung banyaknya masyarakat yang menjadikan peternakan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi rumah tangga.

    "Di sana hampir setiap rumah tangga menjadi pelaku peternakan. Itu yang membuat populasi ternaknya berkembang pesat," katanya.

    Untuk mendorong lahirnya generasi peternak baru, Dyah mengajak mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan peternakan.

    Ia menilai pembelajaran peternakan tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas, tetapi perlu dibarengi praktik lapangan agar mahasiswa memahami pengelolaan ternak secara langsung.

    "Jangan hanya wacana dan rencana, tetapi harus ada aksi. Mahasiswa perlu terlibat langsung sehingga memiliki pengalaman dan ketertarikan terhadap dunia peternakan," jelasnya.

    Dyah juga menyoroti besarnya potensi peternakan yang dimiliki Kutim. Selain memiliki lahan yang luas, daerah ini juga didukung ketersediaan pakan ternak, seperti jagung dan berbagai jenis hijauan pakan ternak (HPT) unggul.

    Menurutnya, potensi tersebut dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan sektor peternakan di masa mendatang.

    "Potensi pakan kita luar biasa. Ada jagung dan berbagai jenis rumput unggul yang bisa dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan peternakan. Tinggal bagaimana kita menyiapkan sumber daya manusia yang mau menekuni sektor ini," pungkasnya.

    (Sf/RS)