Seputar Kaltim

    Kutim Ubah Arah Ekonomi, Pertanian Disiapkan jadi Penopang Utama dengan Libatkan Pemuda

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    07 Januari 2026 pukul 14:08 WITA

    Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (P2EP) Bappeda Kutim, Marhadyn. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mempercepat perubahan arah ekonomi daerah agar tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan. Ke depan, sektor pertanian dipersiapkan menjadi penopang utama pembangunan ekonomi jangka panjang, dengan melibatkan generasi muda sebagai penggeraknya.

    Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (P2EP) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim, Marhadyn, menyampaikan ketergantungan pada sektor tambang membuat ekonomi daerah rentan terhadap perubahan pasar dan kebijakan global.

    Meski selama ini Kutim mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan menjadi salah satu yang terbesar di Kalimantan Timur dan berada di peringkat kedua setelah wilayah Penajam Paser Utara. Menurutnya kondisi tersebut tidak boleh membuat daerah terlena.

    “Struktur ekonomi kita perlu diperkuat dengan sektor yang berkelanjutan. Pertanian memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi pembangunan ke depan,” ujar Marhadyn.

    Ia menambahkan, sektor pertanian dalam arti luas telah memberi kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Kutim, meski masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Untuk itu, pemerintah daerah kini memfokuskan pembangunan pada sektor pertanian, perkebunan, dan industri turunannya.

     

     

    Marhadyn menegaskan, keberhasilan perubahan arah ekonomi ini sangat bergantung pada peran generasi muda. Menurutnya, pertanian masa depan harus berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, bukan lagi mengandalkan cara-cara tradisional.

    “Regenerasi petani sangat penting. Anak muda harus melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan dan modern,” tambahnya.

    Ia mengatakan, Pemkab Kutim mulai membangun kerja sama dengan kelompok tani muda, termasuk melalui kemitraan dengan komunitas dan lembaga pendidikan seperti STIPER Kutim.

    Selain itu, pemerintah daerah membuka ruang seluas-luasnya bagi pemuda untuk terlibat langsung dalam perencanaan pembangunan.

    “Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus berani masuk ke ruang perencanaan dan ikut menentukan arah pembangunan daerah,” tegasnya.

    Ia mengungkapkan, kolaborasi antara pemerintah dan kelompok tani muda mulai dibangun. Bahkan, Bappeda Kutim telah menggandeng komite petani muda untuk bersama-sama mengembangkan sektor pertanian di daerah.

    “Ini bukan lagi wacana awal. Kita sudah mulai bergerak dan melihat potensi besar dari kelompok tani muda untuk berkolaborasi dengan pemerintah,” ungkapnya.

    Marhadyn berharap transformasi ekonomi Kutim benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

    “Pertanian bukan masa lalu, tapi masa depan Kutim,” pungkasnya. 

    (Sf/Rs)


    Seputar Kaltim

    Kutim Ubah Arah Ekonomi, Pertanian Disiapkan jadi Penopang Utama dengan Libatkan Pemuda

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    07 Januari 2026 pukul 14:08 WITA

    Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (P2EP) Bappeda Kutim, Marhadyn. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mempercepat perubahan arah ekonomi daerah agar tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan. Ke depan, sektor pertanian dipersiapkan menjadi penopang utama pembangunan ekonomi jangka panjang, dengan melibatkan generasi muda sebagai penggeraknya.

    Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (P2EP) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim, Marhadyn, menyampaikan ketergantungan pada sektor tambang membuat ekonomi daerah rentan terhadap perubahan pasar dan kebijakan global.

    Meski selama ini Kutim mencatat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan menjadi salah satu yang terbesar di Kalimantan Timur dan berada di peringkat kedua setelah wilayah Penajam Paser Utara. Menurutnya kondisi tersebut tidak boleh membuat daerah terlena.

    “Struktur ekonomi kita perlu diperkuat dengan sektor yang berkelanjutan. Pertanian memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi pembangunan ke depan,” ujar Marhadyn.

    Ia menambahkan, sektor pertanian dalam arti luas telah memberi kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Kutim, meski masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Untuk itu, pemerintah daerah kini memfokuskan pembangunan pada sektor pertanian, perkebunan, dan industri turunannya.

     

     

    Marhadyn menegaskan, keberhasilan perubahan arah ekonomi ini sangat bergantung pada peran generasi muda. Menurutnya, pertanian masa depan harus berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi, bukan lagi mengandalkan cara-cara tradisional.

    “Regenerasi petani sangat penting. Anak muda harus melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan dan modern,” tambahnya.

    Ia mengatakan, Pemkab Kutim mulai membangun kerja sama dengan kelompok tani muda, termasuk melalui kemitraan dengan komunitas dan lembaga pendidikan seperti STIPER Kutim.

    Selain itu, pemerintah daerah membuka ruang seluas-luasnya bagi pemuda untuk terlibat langsung dalam perencanaan pembangunan.

    “Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka harus berani masuk ke ruang perencanaan dan ikut menentukan arah pembangunan daerah,” tegasnya.

    Ia mengungkapkan, kolaborasi antara pemerintah dan kelompok tani muda mulai dibangun. Bahkan, Bappeda Kutim telah menggandeng komite petani muda untuk bersama-sama mengembangkan sektor pertanian di daerah.

    “Ini bukan lagi wacana awal. Kita sudah mulai bergerak dan melihat potensi besar dari kelompok tani muda untuk berkolaborasi dengan pemerintah,” ungkapnya.

    Marhadyn berharap transformasi ekonomi Kutim benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

    “Pertanian bukan masa lalu, tapi masa depan Kutim,” pungkasnya. 

    (Sf/Rs)