Seputar Kaltim

    Kutim Pakai Pendekatan Genetika dan Kepemimpinan Tim untuk Cegah Stunting

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Suasana seminar podcast “Kepemimpinan Kolaboratif dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting” yang diadakan DPPKB Kutim, memperingati Hari Keluarga Nasional ke-32. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta - Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 tingkat Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim menggelar seminar podcast yang mengusung tema "Kepemimpinan Kolaboratif Dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting Dari Sudut Pandang Genetika Darah," Rabu (3/9/2025).

    Kegiatan yang berlangsung di Ruang Multimedia Bangga Kencana DPPKB ini membahas pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menurunkan angka stunting di Kutim.

    Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten Kutim, Sudirman Latif, menekankan pentingnya peran pemimpin sebagai penggerak tim yang solid. keberhasilan sebuah instansi tidak bisa hanya bergantung pada satu orang,  dalam upaya menurunkan angka stunting di daerah.

    “Yang dibutuhkan bukan Superman, melainkan super team. Pemimpin harus mampu menyatukan potensi tiap individu menjadi energi positif,” ujar Sudirman.

    Di kesempatan yang sama, Direktur Golda Institut Indonesia, Eva Dipanti Tumba, mengaitkan karakter golongan darah dengan pola kepemimpinan dan kondisi psikologis. Ia menjelaskan bahwa golongan darah bukan hanya identitas biologis, tetapi juga memengaruhi cara seseorang merespons informasi dan berinteraksi dengan lingkungan

    “Golongan darah O cenderung memiliki karakter pemburu, A sebagai petani, B sebagai penggembala, dan AB yang kompleks serta rasional. Pemahaman ini penting bagi pemimpin untuk menyeimbangkan kekuatan dalam tim,” jelas Eva.

    Selain itu, Eva menyoroti pentingnya kondisi psikologis ibu hamil terhadap risiko stunting. Ia mengingatkan bahwa stres dapat menghambat penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan janin.

    “Pendidikan pranikah yang berbasis genetika dan golongan darah perlu dikembangkan. Kami bahkan sedang menyiapkan aplikasi khusus untuk membantu calon pasangan memahami faktor genetika sebelum menikah,” tambahnya.

    Kepala Pusat Kajian SDM dan Pengembangan Kepemimpinan (Pusjar SKPP) LAN Samarinda, Rahmat Suparman, menyebut kegiatan ini sebagai terobosan komunikasi yang efektif dalam mempercepat penurunan stunting. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antarinstansi dan masyarakat sangat penting.

    “Tidak ada Superman dalam kolaborasi, yang ada adalah super team. Semua harus bergerak bersama dinas kesehatan, sosial, pendidikan, termasuk tokoh masyarakat.  Semua pihak harus bergerak bersama agar program penurunan stunting berhasil,” tegas Rahmat.

    Sementara itu, Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menambahkan bahwa kunci keberhasilan terletak pada penyatuan visi dan pemanfaatan data yang akurat.

    “Kita mengandalkan tiga data utama: anak stunting dari Dinas Kesehatan, keluarga berisiko stunting, dan keluarga miskin ekstrem dari Dinas Sosial. Semua OPD harus sepakat untuk jemput bola berdasarkan data ini agar intervensi tepat sasaran,” jelas Achmad.

    Dia menegaskan bahwa meski warna dan metode berbeda-beda, tujuan utama semua pihak adalah sama, yakni menurunkan angka stunting di Kutim secara signifikan.

    “Gerak serentak, berbeda warna boleh, tapi tujuannya sama, menurunkan angka anak stunting di Kutim” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kutim Pakai Pendekatan Genetika dan Kepemimpinan Tim untuk Cegah Stunting

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Suasana seminar podcast “Kepemimpinan Kolaboratif dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting” yang diadakan DPPKB Kutim, memperingati Hari Keluarga Nasional ke-32. (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)

    Sangatta - Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 tingkat Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim menggelar seminar podcast yang mengusung tema "Kepemimpinan Kolaboratif Dalam Rangka Percepatan Penurunan Stunting Dari Sudut Pandang Genetika Darah," Rabu (3/9/2025).

    Kegiatan yang berlangsung di Ruang Multimedia Bangga Kencana DPPKB ini membahas pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menurunkan angka stunting di Kutim.

    Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten Kutim, Sudirman Latif, menekankan pentingnya peran pemimpin sebagai penggerak tim yang solid. keberhasilan sebuah instansi tidak bisa hanya bergantung pada satu orang,  dalam upaya menurunkan angka stunting di daerah.

    “Yang dibutuhkan bukan Superman, melainkan super team. Pemimpin harus mampu menyatukan potensi tiap individu menjadi energi positif,” ujar Sudirman.

    Di kesempatan yang sama, Direktur Golda Institut Indonesia, Eva Dipanti Tumba, mengaitkan karakter golongan darah dengan pola kepemimpinan dan kondisi psikologis. Ia menjelaskan bahwa golongan darah bukan hanya identitas biologis, tetapi juga memengaruhi cara seseorang merespons informasi dan berinteraksi dengan lingkungan

    “Golongan darah O cenderung memiliki karakter pemburu, A sebagai petani, B sebagai penggembala, dan AB yang kompleks serta rasional. Pemahaman ini penting bagi pemimpin untuk menyeimbangkan kekuatan dalam tim,” jelas Eva.

    Selain itu, Eva menyoroti pentingnya kondisi psikologis ibu hamil terhadap risiko stunting. Ia mengingatkan bahwa stres dapat menghambat penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan janin.

    “Pendidikan pranikah yang berbasis genetika dan golongan darah perlu dikembangkan. Kami bahkan sedang menyiapkan aplikasi khusus untuk membantu calon pasangan memahami faktor genetika sebelum menikah,” tambahnya.

    Kepala Pusat Kajian SDM dan Pengembangan Kepemimpinan (Pusjar SKPP) LAN Samarinda, Rahmat Suparman, menyebut kegiatan ini sebagai terobosan komunikasi yang efektif dalam mempercepat penurunan stunting. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antarinstansi dan masyarakat sangat penting.

    “Tidak ada Superman dalam kolaborasi, yang ada adalah super team. Semua harus bergerak bersama dinas kesehatan, sosial, pendidikan, termasuk tokoh masyarakat.  Semua pihak harus bergerak bersama agar program penurunan stunting berhasil,” tegas Rahmat.

    Sementara itu, Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, menambahkan bahwa kunci keberhasilan terletak pada penyatuan visi dan pemanfaatan data yang akurat.

    “Kita mengandalkan tiga data utama: anak stunting dari Dinas Kesehatan, keluarga berisiko stunting, dan keluarga miskin ekstrem dari Dinas Sosial. Semua OPD harus sepakat untuk jemput bola berdasarkan data ini agar intervensi tepat sasaran,” jelas Achmad.

    Dia menegaskan bahwa meski warna dan metode berbeda-beda, tujuan utama semua pihak adalah sama, yakni menurunkan angka stunting di Kutim secara signifikan.

    “Gerak serentak, berbeda warna boleh, tapi tujuannya sama, menurunkan angka anak stunting di Kutim” pungkasnya.

    (Sf/Rs)