Seputar Kaltim

    Kutim Mulai Susun 3 Buku Sejarah, Bahas Budaya, Jejak Islam hingga Dayak Kenyah

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    23 September 2026 pukul 11:58 WITA

    Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham saat menyampaikan laporan panitia dalam Seminar Kajian Penulisan Sejarah Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com

    Sangatta – Tiga sisi sejarah Kutai Timur (Kutim), mulai dari budaya dan tradisi masyarakat, perkembangan Islam hingga masyarakat adat Dayak Kenyah Lepo Jalan, akan dituangkan dalam tiga buku sejarah yang tengah disiapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).

    Rencana penulisan tersebut dibahas dalam Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Penulisan Sejarah Kabupaten Kutim. Kajian ini dilaksanakan dengan mekanisme swakelola tipe 2 dan melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman.

    Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, mengatakan tiga buku tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah, budaya, tradisi serta perkembangan kehidupan masyarakat di Kutim.

    “Penulisan sejarah yang akan dilaksanakan meliputi tiga karya,” ujar Ilham.

    Buku pertama berjudul Kisah-kisah dari Kutai Timur. Budaya, Tradisi dan Kehidupan. Buku ini mengangkat budaya, tradisi dan kehidupan masyarakat di Kutim.

    Buku kedua berjudul Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur, yang membahas sejarah perkembangan Islam di wilayah Kutim.

    Sementara buku ketiga berjudul Sejarah Perkembangan Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepo Jalan. Buku ini secara khusus mengangkat perkembangan masyarakat adat Dayak Kenyah Lepo Jalan.

    Ilham mengatakan ketiga karya tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah daerah, tetapi juga menjadi sumber informasi dan referensi bagi pemerintah daerah, masyarakat, dunia pendidikan serta generasi mendatang.

    “Harapannya, tiga karya ini bisa menjadi sumber informasi dan referensi, tidak hanya untuk pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat, dunia pendidikan dan generasi mendatang,” katanya.

    Menurutnya, kajian tersebut dilakukan melalui upaya penggalian, pendokumentasian, pelestarian dan pemanfaatan sejarah serta kebudayaan daerah.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kutim Mulai Susun 3 Buku Sejarah, Bahas Budaya, Jejak Islam hingga Dayak Kenyah

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    23 September 2026 pukul 11:58 WITA

    Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham saat menyampaikan laporan panitia dalam Seminar Kajian Penulisan Sejarah Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com

    Sangatta – Tiga sisi sejarah Kutai Timur (Kutim), mulai dari budaya dan tradisi masyarakat, perkembangan Islam hingga masyarakat adat Dayak Kenyah Lepo Jalan, akan dituangkan dalam tiga buku sejarah yang tengah disiapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).

    Rencana penulisan tersebut dibahas dalam Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Penulisan Sejarah Kabupaten Kutim. Kajian ini dilaksanakan dengan mekanisme swakelola tipe 2 dan melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman.

    Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, mengatakan tiga buku tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah, budaya, tradisi serta perkembangan kehidupan masyarakat di Kutim.

    “Penulisan sejarah yang akan dilaksanakan meliputi tiga karya,” ujar Ilham.

    Buku pertama berjudul Kisah-kisah dari Kutai Timur. Budaya, Tradisi dan Kehidupan. Buku ini mengangkat budaya, tradisi dan kehidupan masyarakat di Kutim.

    Buku kedua berjudul Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur, yang membahas sejarah perkembangan Islam di wilayah Kutim.

    Sementara buku ketiga berjudul Sejarah Perkembangan Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepo Jalan. Buku ini secara khusus mengangkat perkembangan masyarakat adat Dayak Kenyah Lepo Jalan.

    Ilham mengatakan ketiga karya tersebut diharapkan tidak hanya menjadi dokumentasi sejarah daerah, tetapi juga menjadi sumber informasi dan referensi bagi pemerintah daerah, masyarakat, dunia pendidikan serta generasi mendatang.

    “Harapannya, tiga karya ini bisa menjadi sumber informasi dan referensi, tidak hanya untuk pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat, dunia pendidikan dan generasi mendatang,” katanya.

    Menurutnya, kajian tersebut dilakukan melalui upaya penggalian, pendokumentasian, pelestarian dan pemanfaatan sejarah serta kebudayaan daerah.

    (Sf/Rs)