Seputar Kaltim

    Kutim Mulai Arahkan Pembangunan ke Ekonomi Hijau, DPRD Ingatkan Risiko Jika Salah Kelola

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    06 Januari 2026 pukul 20:28 WITA

    Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi menegaskan pengembangan ekonomi hijau harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

    Menurut Jimmi, konsep ekonomi hijau sebenarnya membawa banyak manfaat. Tapi jika tak dikelola dengan baik dan tidak berdasarkan kajian ilmiah, justru bisa menimbulkan dampak negatif.

    “Kalau tidak diterapkan dengan benar, dampaknya bisa merugikan lingkungan dan masyarakat. Karena itu perencanaan menjadi hal yang paling penting,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).

    Ekonomi hijau bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, seperti pengembangan energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil.

    “Ke depan kita harus mulai beralih dari bahan bakar yang tidak bisa diperbarui ke energi yang lebih ramah lingkungan, seperti bahan bakar nabati,” jelasnya.

    Jimmi mengatakan setiap kebijakan ekonomi hijau harus menyesuaikan dengan kondisi lingkungan daerah agar pembangunan tetap berjalan tanpa merusak alam.

    “Perencanaannya harus sesuai dengan kondisi lingkungan. Itu tantangan kita ke depan,” katanya.

    Ia juga mengakui perekonomian kini masih sangat bergantung pada sektor pertambangan dan batu bara. Untuk itu, peralihan menuju ekonomi hijau perlu dilakukan secara bertahap dan terencana.

    Upaya transisi ini sejalan dengan arah pembangunan daerah yang mulai mendorong pemanfaatan energi terbarukan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

    “Selama ini ekonomi kita masih banyak ditopang dari tambang dan batu bara. Jadi perubahannya tidak bisa instan, harus bertahap,” tutupnya.

    Sebagai informasi, ekonomi hijau adalah konsep pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Kegiatan ekonomi diarahkan agar tidak merusak alam, memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan, serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui penggunaan energi terbarukan. Konsep ini juga diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kutim Mulai Arahkan Pembangunan ke Ekonomi Hijau, DPRD Ingatkan Risiko Jika Salah Kelola

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    06 Januari 2026 pukul 20:28 WITA

    Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (foto:lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta – Ketua DPRD Kutai Timur (Kutim), Jimmi menegaskan pengembangan ekonomi hijau harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

    Menurut Jimmi, konsep ekonomi hijau sebenarnya membawa banyak manfaat. Tapi jika tak dikelola dengan baik dan tidak berdasarkan kajian ilmiah, justru bisa menimbulkan dampak negatif.

    “Kalau tidak diterapkan dengan benar, dampaknya bisa merugikan lingkungan dan masyarakat. Karena itu perencanaan menjadi hal yang paling penting,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).

    Ekonomi hijau bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, seperti pengembangan energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil.

    “Ke depan kita harus mulai beralih dari bahan bakar yang tidak bisa diperbarui ke energi yang lebih ramah lingkungan, seperti bahan bakar nabati,” jelasnya.

    Jimmi mengatakan setiap kebijakan ekonomi hijau harus menyesuaikan dengan kondisi lingkungan daerah agar pembangunan tetap berjalan tanpa merusak alam.

    “Perencanaannya harus sesuai dengan kondisi lingkungan. Itu tantangan kita ke depan,” katanya.

    Ia juga mengakui perekonomian kini masih sangat bergantung pada sektor pertambangan dan batu bara. Untuk itu, peralihan menuju ekonomi hijau perlu dilakukan secara bertahap dan terencana.

    Upaya transisi ini sejalan dengan arah pembangunan daerah yang mulai mendorong pemanfaatan energi terbarukan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

    “Selama ini ekonomi kita masih banyak ditopang dari tambang dan batu bara. Jadi perubahannya tidak bisa instan, harus bertahap,” tutupnya.

    Sebagai informasi, ekonomi hijau adalah konsep pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. Kegiatan ekonomi diarahkan agar tidak merusak alam, memanfaatkan sumber daya secara berkelanjutan, serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui penggunaan energi terbarukan. Konsep ini juga diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

    (Sf/Lo)