Cari disini...
Seputar Kaltim
Noviari Noor menyampaikan sambutan pada pembukaan Lomba Inovasi Daerah Sanga Belida 2026 di Sangatta, (Foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Pemerintah Kabupaten (Pemkot) Kutai Timur (Kutim) membuka Lomba Inovasi Daerah Sanga Belida 2026 di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Rabu (18/2/2026) dengan menekankan pentingnya penguatan budaya inovasi untuk meningkatkan daya saing daerah.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kutim, Noviari Noor mengatakan inovasi menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian perencanaan pembangunan daerah.
“Setiap tahun dalam proses perencanaan di kabupaten, kita selalu dinilai. Salah satu poin penting itu adalah inovasi apa yang sudah dilaksanakan oleh Kabupaten Kutim. Di situ kita mungkin mendapat nilai yang agak rendah, karena belum ada inovasi daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Noviari.
Melalui lomba ini, pemerintah berharap lahir terobosan baru, terutama dalam pelayanan kepada masyarakat. Noviari menegaskan inovasi tidak harus selalu berupa aplikasi baru. Saat ini pemerintah sudah memiliki sistem untuk perencanaan, penganggaran dan pengadaan barang dan jasa.
“Sistem yang ada sudah cukup mewakili keuangan dan administrasi. Yang kita perlukan sekarang adalah inovasi layanan," tambahnya.
Ia mencontohkan penggunaan tanda tangan elektronik sebagai bentuk inovasi birokrasi yang mempermudah pelayanan tanpa perlu membuat aplikasi baru.
“Dulu tanda tangan harus manual, sekarang bisa dilakukan secara elektronik di mana saja. Itu bagian dari inovasi sistem birokrasi kita,” katanya.
Noviari mengatakan, inovasi harus fokus pada penyederhanaan prosedur dan hasil yang jelas. Ia juga meminta agar setiap perangkat daerah membuat SOP yang tidak rumit dan langsung pada inti pelayanan.
“Kita biasakan berorientasi pada hasil. SOP yang dibuat jangan berbelit-belit, langsung pada poinnya,” jelasnya.
Ia berharap inovasi tidak hanya lahir dari perangkat daerah, tetapi juga melibatkan masyarakat, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya. Saat ini, masing-masing sektor seperti pertanian, perkebunan dan sosial telah memiliki kelompok kerja (pokja) yang diharapkan mampu melahirkan gagasan pembaruan sesuai bidangnya.
“Ini bagian dari sistem birokrasi kita. Kita ditantang untuk berpikir dan menciptakan inovasi. Kita berharap inovasi-inovasi yang lahir dari perangkat daerah juga melibatkan masyarakat, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya," tutupnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Noviari Noor menyampaikan sambutan pada pembukaan Lomba Inovasi Daerah Sanga Belida 2026 di Sangatta, (Foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Pemerintah Kabupaten (Pemkot) Kutai Timur (Kutim) membuka Lomba Inovasi Daerah Sanga Belida 2026 di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Rabu (18/2/2026) dengan menekankan pentingnya penguatan budaya inovasi untuk meningkatkan daya saing daerah.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkab Kutim, Noviari Noor mengatakan inovasi menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian perencanaan pembangunan daerah.
“Setiap tahun dalam proses perencanaan di kabupaten, kita selalu dinilai. Salah satu poin penting itu adalah inovasi apa yang sudah dilaksanakan oleh Kabupaten Kutim. Di situ kita mungkin mendapat nilai yang agak rendah, karena belum ada inovasi daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional,” ujar Noviari.
Melalui lomba ini, pemerintah berharap lahir terobosan baru, terutama dalam pelayanan kepada masyarakat. Noviari menegaskan inovasi tidak harus selalu berupa aplikasi baru. Saat ini pemerintah sudah memiliki sistem untuk perencanaan, penganggaran dan pengadaan barang dan jasa.
“Sistem yang ada sudah cukup mewakili keuangan dan administrasi. Yang kita perlukan sekarang adalah inovasi layanan," tambahnya.
Ia mencontohkan penggunaan tanda tangan elektronik sebagai bentuk inovasi birokrasi yang mempermudah pelayanan tanpa perlu membuat aplikasi baru.
“Dulu tanda tangan harus manual, sekarang bisa dilakukan secara elektronik di mana saja. Itu bagian dari inovasi sistem birokrasi kita,” katanya.
Noviari mengatakan, inovasi harus fokus pada penyederhanaan prosedur dan hasil yang jelas. Ia juga meminta agar setiap perangkat daerah membuat SOP yang tidak rumit dan langsung pada inti pelayanan.
“Kita biasakan berorientasi pada hasil. SOP yang dibuat jangan berbelit-belit, langsung pada poinnya,” jelasnya.
Ia berharap inovasi tidak hanya lahir dari perangkat daerah, tetapi juga melibatkan masyarakat, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya. Saat ini, masing-masing sektor seperti pertanian, perkebunan dan sosial telah memiliki kelompok kerja (pokja) yang diharapkan mampu melahirkan gagasan pembaruan sesuai bidangnya.
“Ini bagian dari sistem birokrasi kita. Kita ditantang untuk berpikir dan menciptakan inovasi. Kita berharap inovasi-inovasi yang lahir dari perangkat daerah juga melibatkan masyarakat, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya," tutupnya.
(Sf/Lo)