Cari disini...
Seputar Kaltim
Puing-puing bangunan pascakejadian kebakaran di RT 34 Kelurahan Sidodadi, Samarinda, Minggu (25/2/2024) lalu. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Kebakaran yang terjadi belum lama ini di Samarinda membuat ratusan jiwa kehilangan temat tinggalnya. Tak hanya sekali, untuk kedua kalinya masyarakat yang ada di Kelurahan Sidodadi lagi-lagi tak punya tempat berteduh akibat di lahap si jago merah.
Kejadian yang menghanguskan puluhan bangunan itu berasal dari satu rumah warga yang diduga akibat kompor. Kawasan yang padat dengan bangunan itu akhirnya membuat api merambat ke rumah-rumah yang lain.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Samarinda, Hendra AH juga mengatakan, meluasnya kebakaran itu terjadi karena konstruksi bangunan yang mayoritas dari kayu. Sehingga api mudah melebar.
“Kalo rumah yang padat penduduk terbakar memang cepat meluas, apalagi bangunannya kayu. Maka dari itu sebaiknya jangan pakai konstruksi kayu,” kata Hendra pada Seputar Fakta, Senin (26/2/2024).
Hendra menyarankan, konstruksi bangunan yang dipakai adalah beton praktis untuk dinding, kemudian atapnya dari baja ringan atau spandek. Menurutnya, harga antara bahan bangunan dari kayu dengan beton atau baja tak jauh berbeda.
Kemudian, bahan bangunan dari kayu juga sekarang sudah sulit untuk dicari, sehingga harganya lebih mahal, dibanding dengan beton praktis atau baja ringan.
“Jadi kalau sudah rumah beton, atapnya baja ringan, insyallah kalau satu rumah kebakar tidak mungkin menyebar ke yang lain. Satu rumah aja yang terbakar, cepat untuk kita tangani,” tuturnya.
Perihal penanganan kebakaran, Hendra juga mengingatkan untuk masyarakat jangan terlalu panik. Ia mengatakan, api yang mulanya kecil bisa jadi membesar karena panik.
“Percikan api yang kecil itu bisa membuat api menjadi besar. Apalagi kalau ada bahan yang mudah terbakar, seperti kayu tadi. Itu bisa merambat kemana-mana,” ujarnya.
Dengan demikian, Hendra menegaskan, apabila ingin mendirikan banguna di kawasan yang padat penduduk, maka disarankan tidak menggunakan konstruksi dari kayu. Kemudian perhatikan juga di sekeliling rumah yang bisa memicu api membesar.
“Tumbuhan di sekitar rumah juga perlu diperhatikan, apalagi yang mudah terbakar, bisa saja itu nanti jadi perantara api masuk ke dalam rumah,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Puing-puing bangunan pascakejadian kebakaran di RT 34 Kelurahan Sidodadi, Samarinda, Minggu (25/2/2024) lalu. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Kebakaran yang terjadi belum lama ini di Samarinda membuat ratusan jiwa kehilangan temat tinggalnya. Tak hanya sekali, untuk kedua kalinya masyarakat yang ada di Kelurahan Sidodadi lagi-lagi tak punya tempat berteduh akibat di lahap si jago merah.
Kejadian yang menghanguskan puluhan bangunan itu berasal dari satu rumah warga yang diduga akibat kompor. Kawasan yang padat dengan bangunan itu akhirnya membuat api merambat ke rumah-rumah yang lain.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Samarinda, Hendra AH juga mengatakan, meluasnya kebakaran itu terjadi karena konstruksi bangunan yang mayoritas dari kayu. Sehingga api mudah melebar.
“Kalo rumah yang padat penduduk terbakar memang cepat meluas, apalagi bangunannya kayu. Maka dari itu sebaiknya jangan pakai konstruksi kayu,” kata Hendra pada Seputar Fakta, Senin (26/2/2024).
Hendra menyarankan, konstruksi bangunan yang dipakai adalah beton praktis untuk dinding, kemudian atapnya dari baja ringan atau spandek. Menurutnya, harga antara bahan bangunan dari kayu dengan beton atau baja tak jauh berbeda.
Kemudian, bahan bangunan dari kayu juga sekarang sudah sulit untuk dicari, sehingga harganya lebih mahal, dibanding dengan beton praktis atau baja ringan.
“Jadi kalau sudah rumah beton, atapnya baja ringan, insyallah kalau satu rumah kebakar tidak mungkin menyebar ke yang lain. Satu rumah aja yang terbakar, cepat untuk kita tangani,” tuturnya.
Perihal penanganan kebakaran, Hendra juga mengingatkan untuk masyarakat jangan terlalu panik. Ia mengatakan, api yang mulanya kecil bisa jadi membesar karena panik.
“Percikan api yang kecil itu bisa membuat api menjadi besar. Apalagi kalau ada bahan yang mudah terbakar, seperti kayu tadi. Itu bisa merambat kemana-mana,” ujarnya.
Dengan demikian, Hendra menegaskan, apabila ingin mendirikan banguna di kawasan yang padat penduduk, maka disarankan tidak menggunakan konstruksi dari kayu. Kemudian perhatikan juga di sekeliling rumah yang bisa memicu api membesar.
“Tumbuhan di sekitar rumah juga perlu diperhatikan, apalagi yang mudah terbakar, bisa saja itu nanti jadi perantara api masuk ke dalam rumah,” pungkasnya.
(Sf/Rs)