Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala BPBD Samarinda, Suwarso. (Foto: Arman/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kualitas udara Kota Samarinda yang masuk kategori tidak sehat sejak Rabu (16/9/2026) membuat Pemerintah Kota Samarinda mengambil langkah darurat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan Pemkot telah memutuskan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa selama tiga hari.
"Pemkot Samarinda juga kan ada upaya-upaya lain. Hari ini kualitas udara kita tidak sehat dimulai tanggal 16/9/2026 kemarin, lalu diambil keputusan tadi malam yang dipimpin Sekda Kota Samarinda memutuskan untuk pembelajaran jarak jauh tanggal 17, 18, 19 September," ujar Suwarso, Kamis (17/9/2026).
Selain PJJ, Pemkot juga berupaya memperbaiki kualitas udara dengan penyemprotan eco enzyme ke udara.
"Untuk memperbaiki kualitas udara juga barusan tadi rapat untuk melakukan penyemprotan eco enzyme ke udara. Tadi dari hasil rapat memutuskan dari Damkar menyiapkan 4 unit tangki 5000 liter ran per tangki menyebar di seluruh Kota Samarinda terutama di jalan-jalan protokol dulu yang kita lakukan karena akan dilaksanakan selama 3 hari," jelasnya.
Suwarso menambahkan, kemarau panjang di Samarinda tidak hanya berdampak pada kebakaran lahan dan buruknya kualitas udara, tetapi juga krisis air bersih akibat intrusi air laut yang mencemari air baku PDAM.
"Kekeringan tidak hanya pada kebakaran lahan, ada dampak lain misalnya karena intrusi air laut lalu air baku PDAM menjadi tercemar sehingga tidak produksi. Akhirnya beberapa wilayah mengalami kekurangan air bersih," katanya.
Hingga Kamis (17/9/2026), BPBD mencatat telah menyalurkan air bersih sebanyak 192 rit dengan total 940.100 liter.
"Hari ini juga kita persiapan menyuplai kembali karena unit tangki terbatas. Kalau kita minta bantuan unit dump truck dari PUPR kota dan PUPR provinsi, sudah sekitar 5 unit bergerak, jadi setiap unit kita isi 2 tandon masing-masing tandon 2.200 liter," tutup Suwarso.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala BPBD Samarinda, Suwarso. (Foto: Arman/Seputarfakta.com)
Samarinda - Kualitas udara Kota Samarinda yang masuk kategori tidak sehat sejak Rabu (16/9/2026) membuat Pemerintah Kota Samarinda mengambil langkah darurat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan Pemkot telah memutuskan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa selama tiga hari.
"Pemkot Samarinda juga kan ada upaya-upaya lain. Hari ini kualitas udara kita tidak sehat dimulai tanggal 16/9/2026 kemarin, lalu diambil keputusan tadi malam yang dipimpin Sekda Kota Samarinda memutuskan untuk pembelajaran jarak jauh tanggal 17, 18, 19 September," ujar Suwarso, Kamis (17/9/2026).
Selain PJJ, Pemkot juga berupaya memperbaiki kualitas udara dengan penyemprotan eco enzyme ke udara.
"Untuk memperbaiki kualitas udara juga barusan tadi rapat untuk melakukan penyemprotan eco enzyme ke udara. Tadi dari hasil rapat memutuskan dari Damkar menyiapkan 4 unit tangki 5000 liter ran per tangki menyebar di seluruh Kota Samarinda terutama di jalan-jalan protokol dulu yang kita lakukan karena akan dilaksanakan selama 3 hari," jelasnya.
Suwarso menambahkan, kemarau panjang di Samarinda tidak hanya berdampak pada kebakaran lahan dan buruknya kualitas udara, tetapi juga krisis air bersih akibat intrusi air laut yang mencemari air baku PDAM.
"Kekeringan tidak hanya pada kebakaran lahan, ada dampak lain misalnya karena intrusi air laut lalu air baku PDAM menjadi tercemar sehingga tidak produksi. Akhirnya beberapa wilayah mengalami kekurangan air bersih," katanya.
Hingga Kamis (17/9/2026), BPBD mencatat telah menyalurkan air bersih sebanyak 192 rit dengan total 940.100 liter.
"Hari ini juga kita persiapan menyuplai kembali karena unit tangki terbatas. Kalau kita minta bantuan unit dump truck dari PUPR kota dan PUPR provinsi, sudah sekitar 5 unit bergerak, jadi setiap unit kita isi 2 tandon masing-masing tandon 2.200 liter," tutup Suwarso.
(Sf/Rs)