Seputar Kaltim

    Kualitas Udara Berau Masuk Kategori Tidak Sehat, DLHK Sebut Bisa Memburuk Jika Tak Ada Hujan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    31 Agustus 2026 pukul 15:46 WITA

    Kondisi kabut asap di Berau pada Senin (31/8/2026). (Foto: Dok Disdik Berau)

    Tanjung Redeb - Kualitas udara di Kabupaten Berau dan sekitarnya mulai memburuk. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Berau menyatakan kondisi udara kini masuk kategori tidak sehat berdasarkan hasil pengukuran selama 24 jam.

    Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan pengukuran dilakukan tim laboratorium pada dua titik di Kantor DLHK, mulai 28 hingga 29 Agustus pukul 14.00 hingga 14.00 WITA. Pengukuran selama 24 jam dilakukan untuk mengetahui perubahan parameter kualitas udara secara lebih akurat, termasuk fluktuasi konsentrasi partikulat di udara.

    "Kenapa kami melakukan pengukuran 24 jam? Karena dalam 24 jam itu sudah terukur parameter yang kami nilai, mulai ada perubahan-perubahan," kata Zulkifli.

    Ia pun memaparkan dari hasil pengukuran, nilai Total Suspended Particulates (TSP) tercatat 193, PM10 sebesar 153, PM2,5 sebesar 131 dan karbon monoksida (CO) sebesar 1,30.

    Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi partikel debu di udara. Dengan rentang ISPU 101 hingga 200 masuk kategori tidak sehat, DLHK memastikan kondisi udara di Tanjung Redeb saat ini berada pada level tersebut.

    "Dari angka yang didapat, tim kami menyebutkan kondisi udara Berau tidak sehat," ujarnya.

    Sementara itu, ia pun mengingatkan kondisi tersebut berpotensi memburuk apabila hujan belum turun. Terlebih, aktivitas karhutla maupun pembakaran sampah secara terbuka masih terjadi. Menurutnya, kualitas udara bahkan berpeluang masuk kategori sangat tidak sehat apabila konsentrasi partikulat terus meningkat.

    "Sepanjang belum ada hujan, ini memungkinkan menjadikan kualitas udara kita tidak sehat dan bisa saja meningkat menjadi sangat tidak sehat," terangnya.

    Oleh karena itu, Zulkifli mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara terbuka. Pihaknya juga berharap hujan segera turun untuk membantu menurunkan konsentrasi partikulat debu di udara.

    "Kami mengimbau seluruh pihak untuk menghentikan aktivitas pembakaran terbuka. Mudah-mudahan hujan segera turun sehingga kualitas udara bisa kembali membaik," pungkasnya. 

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Kualitas Udara Berau Masuk Kategori Tidak Sehat, DLHK Sebut Bisa Memburuk Jika Tak Ada Hujan

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Lodya A
    31 Agustus 2026 pukul 15:46 WITA

    Kondisi kabut asap di Berau pada Senin (31/8/2026). (Foto: Dok Disdik Berau)

    Tanjung Redeb - Kualitas udara di Kabupaten Berau dan sekitarnya mulai memburuk. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Berau menyatakan kondisi udara kini masuk kategori tidak sehat berdasarkan hasil pengukuran selama 24 jam.

    Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan pengukuran dilakukan tim laboratorium pada dua titik di Kantor DLHK, mulai 28 hingga 29 Agustus pukul 14.00 hingga 14.00 WITA. Pengukuran selama 24 jam dilakukan untuk mengetahui perubahan parameter kualitas udara secara lebih akurat, termasuk fluktuasi konsentrasi partikulat di udara.

    "Kenapa kami melakukan pengukuran 24 jam? Karena dalam 24 jam itu sudah terukur parameter yang kami nilai, mulai ada perubahan-perubahan," kata Zulkifli.

    Ia pun memaparkan dari hasil pengukuran, nilai Total Suspended Particulates (TSP) tercatat 193, PM10 sebesar 153, PM2,5 sebesar 131 dan karbon monoksida (CO) sebesar 1,30.

    Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi partikel debu di udara. Dengan rentang ISPU 101 hingga 200 masuk kategori tidak sehat, DLHK memastikan kondisi udara di Tanjung Redeb saat ini berada pada level tersebut.

    "Dari angka yang didapat, tim kami menyebutkan kondisi udara Berau tidak sehat," ujarnya.

    Sementara itu, ia pun mengingatkan kondisi tersebut berpotensi memburuk apabila hujan belum turun. Terlebih, aktivitas karhutla maupun pembakaran sampah secara terbuka masih terjadi. Menurutnya, kualitas udara bahkan berpeluang masuk kategori sangat tidak sehat apabila konsentrasi partikulat terus meningkat.

    "Sepanjang belum ada hujan, ini memungkinkan menjadikan kualitas udara kita tidak sehat dan bisa saja meningkat menjadi sangat tidak sehat," terangnya.

    Oleh karena itu, Zulkifli mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara terbuka. Pihaknya juga berharap hujan segera turun untuk membantu menurunkan konsentrasi partikulat debu di udara.

    "Kami mengimbau seluruh pihak untuk menghentikan aktivitas pembakaran terbuka. Mudah-mudahan hujan segera turun sehingga kualitas udara bisa kembali membaik," pungkasnya. 

    (Sf/Lo)