Cari disini...
Seputar Kaltim
Salah satu tokoh penjual beras di pasar Sangatta Selatan. (foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Beras lokal dari beberapa Kecamatan di Kutai Timur (Kutim) belum menjadi pilihan utama masyarakat Kutim sendiri. Warga disebut lebih suka membeli beras dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi karena dianggap lebih bagus dan lebih murah.
Analis Perdagangan Disperindag Kutim, Benita Yapin, menjelaskan bahwa beras lokal dari segi kualitas dan harganya masih di bawah beras yang di impor dari luar Kutim.
“Justru lebih murah harga beras dari luar Kutim, Beras lokal harganya antara Rp20000 sampai Rp25000 per kilogram, berasnya banyak yang patah-patah. Jadi orang lebih pilih beras dari luar yang lebih bagus dan lebih murah,” kata Benita.
Ia menambahkan Beras Bulog jenis Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga belum banyak beredar di Kutim, karena keuntungannya terlalu kecil bagi distributor.
“Sempat beredar, tapi untungnya tipis sekali untuk distributor sekitar Rp440 per kilogram. Ongkos angkut dan kuli juga ditanggung sendiri, jadi banyak distributor memilih berhenti,” tambahnya.
Selain itu, menurut Banita masyarakat juga kurang tertarik membeli beras SPHP karena kualitasnya dinilai kurang baik. Beberapa bahkan ditemukan berkutu karena terlalu lama disimpan di gudang Bulog.
Benita berharap ada dukungan dari pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas beras lokal, agar bisa bersaing dengan beras dari luar daerah.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Salah satu tokoh penjual beras di pasar Sangatta Selatan. (foto:Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Beras lokal dari beberapa Kecamatan di Kutai Timur (Kutim) belum menjadi pilihan utama masyarakat Kutim sendiri. Warga disebut lebih suka membeli beras dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi karena dianggap lebih bagus dan lebih murah.
Analis Perdagangan Disperindag Kutim, Benita Yapin, menjelaskan bahwa beras lokal dari segi kualitas dan harganya masih di bawah beras yang di impor dari luar Kutim.
“Justru lebih murah harga beras dari luar Kutim, Beras lokal harganya antara Rp20000 sampai Rp25000 per kilogram, berasnya banyak yang patah-patah. Jadi orang lebih pilih beras dari luar yang lebih bagus dan lebih murah,” kata Benita.
Ia menambahkan Beras Bulog jenis Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga belum banyak beredar di Kutim, karena keuntungannya terlalu kecil bagi distributor.
“Sempat beredar, tapi untungnya tipis sekali untuk distributor sekitar Rp440 per kilogram. Ongkos angkut dan kuli juga ditanggung sendiri, jadi banyak distributor memilih berhenti,” tambahnya.
Selain itu, menurut Banita masyarakat juga kurang tertarik membeli beras SPHP karena kualitasnya dinilai kurang baik. Beberapa bahkan ditemukan berkutu karena terlalu lama disimpan di gudang Bulog.
Benita berharap ada dukungan dari pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas beras lokal, agar bisa bersaing dengan beras dari luar daerah.
(Sf/Rs)