Cari disini...
Seputar Kaltim
Tampak banjir yang menggenang di Kota Samarinda (Foto : Umar Daud/Seputarfakta.com)
Samarinda - Peristiwa banjir di Kota Samarinda mendapat sorotan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman (Unmul), Esti Handayani Hardi.
Esti mengkritik kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda yang dinilai lemah dalam perencanaan mitigasi bencana banjir. Menurutnya banjir seharusnya bisa dicegah melalui langkah-langkah preventif sejak dini, apalagi kini Samarinda sudah memasuki musim penghujan
Sepekan menjelang akhir Mei, hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Samarinda, mengakibatkan banjir di 24 titik dan memicu sejumlah kejadian longsor
Menurutnya pemerintah sudah memiliki data kawasan rawan bencana banjir dan longsor guna mempersiapkan rencana mitigasi.
"Pemkot seharusnya sudah punya rencana penanggulangan dengan melibatkan para ahli yang membidangi dan peneliti dari perguruan tinggi," ujar Esti, Sabtu (14/6/2025).
Berdasarkan data BMKG Samarinda, curah hujan saat itu tercatat mencapai 50-85 milimeter per jam. Ditambah fenomena pasang Sungai Mahakam, air sungai meluap dan menggenangi sejumlah ruas jalan.
Dengan data yang akurat, tentu pemerintah sudah memliki rencana penanggulangan bencana banjir yang kerap melanda Kota Tepian ini.
"Perlu adanya tindakan nyata dari pemerintah untuk menjawab keresahan terkait bencana alam selama ini. Sehingga mobilitas masyarakat tidak terhambat dikarenakan banjir," tutupnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Tampak banjir yang menggenang di Kota Samarinda (Foto : Umar Daud/Seputarfakta.com)
Samarinda - Peristiwa banjir di Kota Samarinda mendapat sorotan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman (Unmul), Esti Handayani Hardi.
Esti mengkritik kinerja Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda yang dinilai lemah dalam perencanaan mitigasi bencana banjir. Menurutnya banjir seharusnya bisa dicegah melalui langkah-langkah preventif sejak dini, apalagi kini Samarinda sudah memasuki musim penghujan
Sepekan menjelang akhir Mei, hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Samarinda, mengakibatkan banjir di 24 titik dan memicu sejumlah kejadian longsor
Menurutnya pemerintah sudah memiliki data kawasan rawan bencana banjir dan longsor guna mempersiapkan rencana mitigasi.
"Pemkot seharusnya sudah punya rencana penanggulangan dengan melibatkan para ahli yang membidangi dan peneliti dari perguruan tinggi," ujar Esti, Sabtu (14/6/2025).
Berdasarkan data BMKG Samarinda, curah hujan saat itu tercatat mencapai 50-85 milimeter per jam. Ditambah fenomena pasang Sungai Mahakam, air sungai meluap dan menggenangi sejumlah ruas jalan.
Dengan data yang akurat, tentu pemerintah sudah memliki rencana penanggulangan bencana banjir yang kerap melanda Kota Tepian ini.
"Perlu adanya tindakan nyata dari pemerintah untuk menjawab keresahan terkait bencana alam selama ini. Sehingga mobilitas masyarakat tidak terhambat dikarenakan banjir," tutupnya.
(Sf/Lo)