Seputar Kaltim

    Krisis Guru Agama Non-Muslim di SDN 002 Sambutan, Kepala Sekolah Minta Dukungan Kemenag dan Disdikbud

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    05 November 2025 pukul 14:13 WITA

    Kepala SDN 002 Sambutan, Prihatiningsih saat diwawancarai terkait kosongnya tenaga pendidik di sekolah tersebut. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - SD Negeri 002 Sambutan menghadapi kekosongan guru agama non-Muslim sejak beberapa tahun terakhir. 

    Situasi ini membuat pihak sekolah harus memutar otak agar puluhan siswa beragama Kristen dan Katolik tetap mendapatkan pelajaran sesuai keyakinan mereka.

    Kepala SDN 002 Sambutan, Prihatiningsih, mengatakan bahwa jumlah siswa non-Muslim di sekolahnya mencapai sekitar 70 orang. 

    “Dulu kami pernah dibantu guru dari gereja dekat sekolah. Awalnya digaji pihak gereja, tapi setelah beberapa bulan guru itu berhenti karena tidak lagi menerima honor,” ujar Prihatiningsih, Selasa (5/11/2025).

    Untuk menutupi kekosongan tersebut, sekolah akhirnya meminta iuran sukarela dari orang tua siswa agar ada dana bagi guru pengganti. 

    “Kami tidak tega kalau anak-anak tidak belajar agama. Orang tua pun sepakat, asal anaknya tetap mendapat pelajaran,” katanya.

    Saat ini, tiga guru P3K non-Muslim di SDN 002 Sambutan bersedia membantu dengan mengajar agama setiap Jumat siang, saat siswa lain menunaikan salat Jumat. Namun Prihati menegaskan, kondisi ini bersifat sementara. 

    “Kami tahu ini tidak ideal, tapi daripada anak-anak tidak dapat pelajaran sama sekali,” ucapnya.

    Prihatiningsih menyebut, persoalan ini tidak bisa diselesaikan sendiri oleh sekolah. Ia berharap Kementerian Agama (Kemenag) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) turun tangan mencarikan tenaga pengajar agama non-Muslim yang sesuai kualifikasi dan bisa dibiayai melalui dana BOSDA. 

    “Kami sudah menyampaikan ke Dinas, kami siap menampung guru yang sesuai bidangnya. Sekolah tidak bisa sendirian,” katanya.

    Selain kekurangan tenaga, SDN 002 Sambutan juga kekurangan ruang belajar khusus untuk siswa non-Muslim. Selama ini, pelajaran agama dilakukan berpindah-pindah dari perpustakaan hingga ruang UKS. 

    “Kalau ada ruangan sendiri, kegiatan belajar pasti lebih tertib,” ujarnya.

    Meski dihadapkan pada keterbatasan, SDN 002 Sambutan tetap mencatat banyak prestasi mulai dari Adiwiyata Nasional hingga O2SN dan FLS2N. 

    “Sekolah kami banyak diminati. Kami hanya ingin semua anak mendapat hak belajar yang sama,” tuturnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Krisis Guru Agama Non-Muslim di SDN 002 Sambutan, Kepala Sekolah Minta Dukungan Kemenag dan Disdikbud

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    05 November 2025 pukul 14:13 WITA

    Kepala SDN 002 Sambutan, Prihatiningsih saat diwawancarai terkait kosongnya tenaga pendidik di sekolah tersebut. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)

    Samarinda - SD Negeri 002 Sambutan menghadapi kekosongan guru agama non-Muslim sejak beberapa tahun terakhir. 

    Situasi ini membuat pihak sekolah harus memutar otak agar puluhan siswa beragama Kristen dan Katolik tetap mendapatkan pelajaran sesuai keyakinan mereka.

    Kepala SDN 002 Sambutan, Prihatiningsih, mengatakan bahwa jumlah siswa non-Muslim di sekolahnya mencapai sekitar 70 orang. 

    “Dulu kami pernah dibantu guru dari gereja dekat sekolah. Awalnya digaji pihak gereja, tapi setelah beberapa bulan guru itu berhenti karena tidak lagi menerima honor,” ujar Prihatiningsih, Selasa (5/11/2025).

    Untuk menutupi kekosongan tersebut, sekolah akhirnya meminta iuran sukarela dari orang tua siswa agar ada dana bagi guru pengganti. 

    “Kami tidak tega kalau anak-anak tidak belajar agama. Orang tua pun sepakat, asal anaknya tetap mendapat pelajaran,” katanya.

    Saat ini, tiga guru P3K non-Muslim di SDN 002 Sambutan bersedia membantu dengan mengajar agama setiap Jumat siang, saat siswa lain menunaikan salat Jumat. Namun Prihati menegaskan, kondisi ini bersifat sementara. 

    “Kami tahu ini tidak ideal, tapi daripada anak-anak tidak dapat pelajaran sama sekali,” ucapnya.

    Prihatiningsih menyebut, persoalan ini tidak bisa diselesaikan sendiri oleh sekolah. Ia berharap Kementerian Agama (Kemenag) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) turun tangan mencarikan tenaga pengajar agama non-Muslim yang sesuai kualifikasi dan bisa dibiayai melalui dana BOSDA. 

    “Kami sudah menyampaikan ke Dinas, kami siap menampung guru yang sesuai bidangnya. Sekolah tidak bisa sendirian,” katanya.

    Selain kekurangan tenaga, SDN 002 Sambutan juga kekurangan ruang belajar khusus untuk siswa non-Muslim. Selama ini, pelajaran agama dilakukan berpindah-pindah dari perpustakaan hingga ruang UKS. 

    “Kalau ada ruangan sendiri, kegiatan belajar pasti lebih tertib,” ujarnya.

    Meski dihadapkan pada keterbatasan, SDN 002 Sambutan tetap mencatat banyak prestasi mulai dari Adiwiyata Nasional hingga O2SN dan FLS2N. 

    “Sekolah kami banyak diminati. Kami hanya ingin semua anak mendapat hak belajar yang sama,” tuturnya.

    (Sf/Rs)