Seputar Kaltim

    Krisis Budaya dan Sampah: Jerat Ganda Kaltim Menuju Energi Hijau dan Zero Emisi

    Penulis:seputarfaka.com|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Salah satu workshop yang dilakukan YMH, membahas pengelolaan sampah, libatkan warga, akademisi, pemerintah hingga pelaku usaha. (Istimewa)

    Samarinda - Di tengah ambisi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk bertransformasi menjadi poros ekonomi hijau pasca-era batu bara dan mencapai target Net Zero Emission (NZE), provinsi ini menghadapi musuh yang lebih mendasar: masalah budaya dan manajemen limbah. 

    Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau (YMH), Doddy S. Sukadri, menyoroti bahwa transisi energi tidak akan berhasil tanpa perubahan paradigma di tingkat individu dan tata kelola sampah yang serius.
    YMH, sebuah LSM yang fokus pada perubahan iklim sejak 2013, saat ini memimpin program Just Energy Transition (JET) di Kaltim dan Sumatera Selatan. Program ini krusial karena bertujuan memastikan peralihan dari energi kotor ke energi bersih dilakukan secara "Berkeadilan," di mana semua pihak dilibatkan dan "tidak akan ada yang tertinggal" (no one left behind). 

    Transisi ini sangat mendesak mengingat Kaltim harus melepaskan ketergantungan dari batu bara dan melakukan transformasi ekonomi yang berkelanjutan.
    Namun, transisi yang ideal ini terganjal masalah fundamental yang dirangkum Doddy S. Sukadri: kultur.

    “Masalah utama dari urusan lingkungan di Indonesia adalah kultur. Jadi kultur pribadi, tidak mementingkan masa depan, lebih banyak bagaimana gua dapat. Kultur seperti itu. Jadi kami mulai dengan berusaha mengubah paradigma berpikirnya,” ungkap Doddy, ditemui di Samarinda, Rabu (10/12/2025). 

    Kultur "buang saja" ini tercermin dalam pengelolaan sampah nasional. Dari total timbulan sampah 37.311.750,55 ton/tahun, hanya 32,2\ persen yang terkelola. Sampah yang tidak terkelola mencapai 67,8\ persen atau 25.297.270,65 ton/tahun. Data ini menunjukkan bahwa upaya penurunan emisi, yang harus diawali dengan langkah mudah seperti menghindari kegiatan yang menimbulkan emisi dan hemat energi, gagal di tingkat dasar.

    Sebagai Koordinator Climate Action Network (CAN) di Indonesia, YMH melakukan berbagai upaya advokasi dan edukasi di Kaltim untuk mengubah budaya ini. Mulai dari pelatihan teknis pemetaan energi terbarukan, peningkatan kapasitas pemerintah daerah (Bappeda), hingga edukasi terhadap jurnalis, generasi muda, kelompok perempuan, dan pelaku usaha. 

    Tujuannya adalah memastikan pelestarian lingkungan menjadi "ruh" dalam rencana pembangunan jangka pendek hingga panjang.
    Salah satu solusi yang sering digembar-gemborkan, yaitu pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy atau WTE), juga disoroti Doddy sebagai solusi yang penuh risiko jika diterapkan secara gegabah. 

    WTE, khususnya yang melibatkan pembakaran sampah plastik, berpotensi menimbulkan polusi berbahaya seperti zat dioksin, furan, mikroplastik, dan logam berat.
    Doddy menyebut, kehati-hatian adalah mutlak.  "Pembiayaan yang murah dan efisien, dan aman bagi lingkungan dan kesehatan harus menjadi pertimbangan utama dalam pembangunan WTE" katanya. 

    Di atas segalanya, masyarakat wajib dilibatkan untuk mengantisipasi dampak lingkungan agar tidak menimbulkan masalah baru, seperti yang terjadi pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Dengan program JET yang dibiayai IKI-JET (Jerman) hanya berlangsung hingga 2026, tantangan terbesar bagi Kaltim adalah merancang strategi jangka panjang untuk menjawab pertanyaan utama yakni, apa yang harus  diperbuat setelah batu bara habis? 

    "Ekonomiya bagaimana? Lingkungan bagaimana?," tukasnya.
     
    Jawaban tersebut sangat bergantung pada apakah Kaltim mampu mengatasi krisis budaya pribadi dan mengelola sampahnya, sebelum beralih ke investasi besar energi hijau.
    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Krisis Budaya dan Sampah: Jerat Ganda Kaltim Menuju Energi Hijau dan Zero Emisi

    Penulis:seputarfaka.com|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Salah satu workshop yang dilakukan YMH, membahas pengelolaan sampah, libatkan warga, akademisi, pemerintah hingga pelaku usaha. (Istimewa)

    Samarinda - Di tengah ambisi Kalimantan Timur (Kaltim) untuk bertransformasi menjadi poros ekonomi hijau pasca-era batu bara dan mencapai target Net Zero Emission (NZE), provinsi ini menghadapi musuh yang lebih mendasar: masalah budaya dan manajemen limbah. 

    Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau (YMH), Doddy S. Sukadri, menyoroti bahwa transisi energi tidak akan berhasil tanpa perubahan paradigma di tingkat individu dan tata kelola sampah yang serius.
    YMH, sebuah LSM yang fokus pada perubahan iklim sejak 2013, saat ini memimpin program Just Energy Transition (JET) di Kaltim dan Sumatera Selatan. Program ini krusial karena bertujuan memastikan peralihan dari energi kotor ke energi bersih dilakukan secara "Berkeadilan," di mana semua pihak dilibatkan dan "tidak akan ada yang tertinggal" (no one left behind). 

    Transisi ini sangat mendesak mengingat Kaltim harus melepaskan ketergantungan dari batu bara dan melakukan transformasi ekonomi yang berkelanjutan.
    Namun, transisi yang ideal ini terganjal masalah fundamental yang dirangkum Doddy S. Sukadri: kultur.

    “Masalah utama dari urusan lingkungan di Indonesia adalah kultur. Jadi kultur pribadi, tidak mementingkan masa depan, lebih banyak bagaimana gua dapat. Kultur seperti itu. Jadi kami mulai dengan berusaha mengubah paradigma berpikirnya,” ungkap Doddy, ditemui di Samarinda, Rabu (10/12/2025). 

    Kultur "buang saja" ini tercermin dalam pengelolaan sampah nasional. Dari total timbulan sampah 37.311.750,55 ton/tahun, hanya 32,2\ persen yang terkelola. Sampah yang tidak terkelola mencapai 67,8\ persen atau 25.297.270,65 ton/tahun. Data ini menunjukkan bahwa upaya penurunan emisi, yang harus diawali dengan langkah mudah seperti menghindari kegiatan yang menimbulkan emisi dan hemat energi, gagal di tingkat dasar.

    Sebagai Koordinator Climate Action Network (CAN) di Indonesia, YMH melakukan berbagai upaya advokasi dan edukasi di Kaltim untuk mengubah budaya ini. Mulai dari pelatihan teknis pemetaan energi terbarukan, peningkatan kapasitas pemerintah daerah (Bappeda), hingga edukasi terhadap jurnalis, generasi muda, kelompok perempuan, dan pelaku usaha. 

    Tujuannya adalah memastikan pelestarian lingkungan menjadi "ruh" dalam rencana pembangunan jangka pendek hingga panjang.
    Salah satu solusi yang sering digembar-gemborkan, yaitu pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy atau WTE), juga disoroti Doddy sebagai solusi yang penuh risiko jika diterapkan secara gegabah. 

    WTE, khususnya yang melibatkan pembakaran sampah plastik, berpotensi menimbulkan polusi berbahaya seperti zat dioksin, furan, mikroplastik, dan logam berat.
    Doddy menyebut, kehati-hatian adalah mutlak.  "Pembiayaan yang murah dan efisien, dan aman bagi lingkungan dan kesehatan harus menjadi pertimbangan utama dalam pembangunan WTE" katanya. 

    Di atas segalanya, masyarakat wajib dilibatkan untuk mengantisipasi dampak lingkungan agar tidak menimbulkan masalah baru, seperti yang terjadi pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Dengan program JET yang dibiayai IKI-JET (Jerman) hanya berlangsung hingga 2026, tantangan terbesar bagi Kaltim adalah merancang strategi jangka panjang untuk menjawab pertanyaan utama yakni, apa yang harus  diperbuat setelah batu bara habis? 

    "Ekonomiya bagaimana? Lingkungan bagaimana?," tukasnya.
     
    Jawaban tersebut sangat bergantung pada apakah Kaltim mampu mengatasi krisis budaya pribadi dan mengelola sampahnya, sebelum beralih ke investasi besar energi hijau.
    (Sf/Rs)