Seputar Kaltim

    Konservasi Mandiri di Pulau Gusung, KOMPAK PPU Andalkan Donasi dan Wisata Edukasi

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    15 Mei 2026 pukul 17:25 WITA

    Hamparan terumbu karang di perairan Pulau Gusung, PPU, yang menjadi fokus konservasi masyarakat dan nelayan pesisir. (Foto: Istimewa)

    Penajam - Masyarakat pesisir dan nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Peduli Konservasi (KOMPAK) Nusa Bahari terus menggencarkan upaya pelestarian terumbu karang di Pulau Gusung.

    Pulau yang menjadi satu-satunya kawasan terumbu karang di PPU itu kini tengah dijaga keberlanjutannya melalui berbagai kegiatan konservasi yang dilakukan secara swadaya.

    Sekretaris KOMPAK Nusa Bahari, M Razil Fauzan mengatakan, kelompok tersebut lahir dari keresahan masyarakat pesisir terhadap kondisi ekosistem Pulau Gusung yang dinilai rentan rusak akibat aktivitas manusia.

    "Berangkat dari keprihatinan kita akan kondisi di Gusung, kami memulai konservasi di sana dari kelompok kecil, sekarang sudah berbadan hukum dengan nama KOMPAK Nusa Bahari," ujarnya, Selasa (5/5/2026). 

    Menurut Fauzan, Pulau Gusung selama ini menjadi lintasan para nelayan yang melaut mencari ikan. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak terhadap keberlangsungan terumbu karang yang memiliki nilai ekologis tinggi bagi ekosistem laut.

    Selama dua tahun terakhir, KOMPAK aktif menjalankan berbagai kegiatan konservasi mulai dari pembibitan, transplantasi hingga restorasi area terumbu karang yang rusak.

    "Kami konsen kepada area terumbu karang yang hilang. Bagaimana memastikan kelangsungan dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang bagi generasi mendatang," katanya.

    Namun di tengah upaya tersebut, pihaknya masih menemukan aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem laut. 

    Mulai dari pemasangan belat nelayan di atas area terumbu karang hingga praktik illegal fishing seperti pengeboman dan pembiusan ikan di sekitar kawasan itu.

    "Apabila hal itu dibiarkan, ekosistem terumbu karang akan bergeser," ucapnya.

    Ia menjelaskan, seluruh kegiatan konservasi dijalankan secara mandiri tanpa dukungan hibah dari lembaga tertentu. 

    Untuk memenuhi kebutuhan operasional dan kegiatan penanaman karang, KOMPAK membuka donasi hingga menyediakan paket open trip wisata ke Pulau Gusung.

    "Tetap membutuhkan modal buat penanaman dan operasional ke sana, sehingga kami melakukan donasi sampai open trip wisata ke Gusung," tambah Fauzan.

    Ia menilai lewat penyedia jasa perjalanan wisata juga membuka peluang baru bagi pengembangan wisata bahari di PPU, khususnya wisata bawah laut.

    "Ini strategi kami menggali sumber pendanaan, sekaligus menunjukkan adanya potensi wisata bahari baru di PPU, yakni wisata bawah air," ujarnya.

    Melalui agenda perjalanan wisata yang dijalankan KOMPAK, yang diberi nama Jelajah Nusantara Kaltim (JNK), peserta tidak hanya diajak menikmati keindahan Pulau Gusung, tetapi juga diberikan edukasi terkait pentingnya menjaga ekosistem laut.

    Sebelum menuju lokasi, peserta terlebih dahulu diberikan pengarahan agar tidak menyentuh maupun menginjak terumbu karang. Penggunaan sunscreen juga diingatkan agar tidak berlebihan karena dikhawatirkan berdampak terhadap biota laut.

    "Trip akan dihentikan dan peserta diblacklist apabila melakukan itu. Peserta juga dilarang membawa pulang biota laut," katanya.

    Fauzan berharap, upaya konservasi yang dilakukan KOMPAK dapat menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya dalam pengelolaan wisata bahari di Pulau Gusung.

    Menurutnya, diperlukan koordinasi dan edukasi yang lebih luas terhadap para penyedia jasa perjalanan wisata agar aktivitas kunjungan tidak justru merusak kawasan konservasi yang tengah dijaga masyarakat.

    "Karena penyedia jasa perjalanan wisata ke Gusung bukan hanya kami. Harapannya pemerintah bisa mengoordinir teman-teman di industri wisata Pulau Gusung agar dihimpun dan diedukasi," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Konservasi Mandiri di Pulau Gusung, KOMPAK PPU Andalkan Donasi dan Wisata Edukasi

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdianto
    15 Mei 2026 pukul 17:25 WITA

    Hamparan terumbu karang di perairan Pulau Gusung, PPU, yang menjadi fokus konservasi masyarakat dan nelayan pesisir. (Foto: Istimewa)

    Penajam - Masyarakat pesisir dan nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Peduli Konservasi (KOMPAK) Nusa Bahari terus menggencarkan upaya pelestarian terumbu karang di Pulau Gusung.

    Pulau yang menjadi satu-satunya kawasan terumbu karang di PPU itu kini tengah dijaga keberlanjutannya melalui berbagai kegiatan konservasi yang dilakukan secara swadaya.

    Sekretaris KOMPAK Nusa Bahari, M Razil Fauzan mengatakan, kelompok tersebut lahir dari keresahan masyarakat pesisir terhadap kondisi ekosistem Pulau Gusung yang dinilai rentan rusak akibat aktivitas manusia.

    "Berangkat dari keprihatinan kita akan kondisi di Gusung, kami memulai konservasi di sana dari kelompok kecil, sekarang sudah berbadan hukum dengan nama KOMPAK Nusa Bahari," ujarnya, Selasa (5/5/2026). 

    Menurut Fauzan, Pulau Gusung selama ini menjadi lintasan para nelayan yang melaut mencari ikan. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak terhadap keberlangsungan terumbu karang yang memiliki nilai ekologis tinggi bagi ekosistem laut.

    Selama dua tahun terakhir, KOMPAK aktif menjalankan berbagai kegiatan konservasi mulai dari pembibitan, transplantasi hingga restorasi area terumbu karang yang rusak.

    "Kami konsen kepada area terumbu karang yang hilang. Bagaimana memastikan kelangsungan dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang bagi generasi mendatang," katanya.

    Namun di tengah upaya tersebut, pihaknya masih menemukan aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem laut. 

    Mulai dari pemasangan belat nelayan di atas area terumbu karang hingga praktik illegal fishing seperti pengeboman dan pembiusan ikan di sekitar kawasan itu.

    "Apabila hal itu dibiarkan, ekosistem terumbu karang akan bergeser," ucapnya.

    Ia menjelaskan, seluruh kegiatan konservasi dijalankan secara mandiri tanpa dukungan hibah dari lembaga tertentu. 

    Untuk memenuhi kebutuhan operasional dan kegiatan penanaman karang, KOMPAK membuka donasi hingga menyediakan paket open trip wisata ke Pulau Gusung.

    "Tetap membutuhkan modal buat penanaman dan operasional ke sana, sehingga kami melakukan donasi sampai open trip wisata ke Gusung," tambah Fauzan.

    Ia menilai lewat penyedia jasa perjalanan wisata juga membuka peluang baru bagi pengembangan wisata bahari di PPU, khususnya wisata bawah laut.

    "Ini strategi kami menggali sumber pendanaan, sekaligus menunjukkan adanya potensi wisata bahari baru di PPU, yakni wisata bawah air," ujarnya.

    Melalui agenda perjalanan wisata yang dijalankan KOMPAK, yang diberi nama Jelajah Nusantara Kaltim (JNK), peserta tidak hanya diajak menikmati keindahan Pulau Gusung, tetapi juga diberikan edukasi terkait pentingnya menjaga ekosistem laut.

    Sebelum menuju lokasi, peserta terlebih dahulu diberikan pengarahan agar tidak menyentuh maupun menginjak terumbu karang. Penggunaan sunscreen juga diingatkan agar tidak berlebihan karena dikhawatirkan berdampak terhadap biota laut.

    "Trip akan dihentikan dan peserta diblacklist apabila melakukan itu. Peserta juga dilarang membawa pulang biota laut," katanya.

    Fauzan berharap, upaya konservasi yang dilakukan KOMPAK dapat menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya dalam pengelolaan wisata bahari di Pulau Gusung.

    Menurutnya, diperlukan koordinasi dan edukasi yang lebih luas terhadap para penyedia jasa perjalanan wisata agar aktivitas kunjungan tidak justru merusak kawasan konservasi yang tengah dijaga masyarakat.

    "Karena penyedia jasa perjalanan wisata ke Gusung bukan hanya kami. Harapannya pemerintah bisa mengoordinir teman-teman di industri wisata Pulau Gusung agar dihimpun dan diedukasi," pungkasnya.

    (Sf/Rs)