Seputar Kaltim

    Komunitas Nortside Gelar Kartanegara Coffee Event 24-27 April

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Lodya A
    16 April 2025 pukul 15:01 WITA

    Flyer Kartanegara Coffee Event. (Foto: Yudha)

    Tenggarong - Komunitas Kopi Northside Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang tergabung di bawah naungan Asosiasi Ebca Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar bakal menggelar event pada 24-27 April 2025 di Pendopo Bupati Kukar. 

    Event ini menjadi panggung pertemuan pertama kalinya di Kukar antara para peracik kopi, seniman dan pencinta budaya. Dalam setiap tegukan kopi, tersimpan kisah panjang tentang tanah, tangan, tradisi serta sejarah Kutai yang kaya. Kini event ini siap menjadi simpul baru dalam narasi perkopian Indonesia, khususnya Kukar. 

    Ketua Komunitas Northside, Yudha mengatakan event ini tidak hanya sekadar kompetisi menyeduh kopi, tetapi juga merupakan ruang dialog antara teknik dan rasa, cara mengulik biji kopi dengan perjalanan waktu yang panjang. 

    Ia menyebut para barista terbaik se-Borneo akan unjuk kepiawaian dalam brewers competition. Sesi cup tester membuka kesempatan bagi para penikmat kopi untuk menyelami karakter rasa yang lahir dari tanah Kalimantan. 

    "Workshop interaktif nantinya menghadirkan pengalaman langsung memahami seni menyeduh, dari teknik manual hingga eksplorasi cita rasa," kata Yudha, Selasa (16/4/2025).

    Yudha menyebut sudah ada 10 peserta yang mendaftar untuk bermain dalam kompetisi brewers dan cup taster. "Ada juga latte art sisa dua slot dan battle menyeduh hampir full peserta. Kami juga masih membuka pendaftraan untuk peserta lainnya," tambahnya. 

    Kata Yudha, kopi merupakan budaya hidup, hulu dan hilir industri perkopian sebagai komite di festival ini juga menghadirkan pertunjukan seni dari musik hingga monolog yang menjelaskan kopi telah menjadi bagian dari peradaban.

    “Dalam tiap denting nada dan bait dialog itu tersirat jejak kopi yang bukan hanya tumbuh dari tanah, tetapi juga dari perjumpaan manusia dengan sejarahnya," ujarnya. 

    Ia menjelaskan kopi liberika yang jejaknya tidak terlupakan memiliki potensi menanti di tengah riuh rendah industri kopi nasional, satu varietas yang jarang disebut ini mulai menunjukkan wajahnya kembali. 

    Kemudian, tidak lupa juga dengan varietas kopi arabika yang bercerita tentang dataran tinggi dan keseimbangan rasa. Jika robusta menandai ketahanan dan intensitas, maka liberika adalah kisah keteguhan di tanah rendah.

    Northside, komplotan pegiat kopi di Kukar, menilai kopi liberika adalah harta yang belum sepenuhnya digali di Kalimantan.

    "Kopi liberika tumbuh di dataran rendah, melawan arus dominasi arabika dan robusta, tetapi menyimpan keunikan yang belum banyak dikenal," ucapnya.

    Sejarah mencatat, jejak kopi di Kalimantan ada sejak 1962 di Linggang Melapeh, dibawa oleh transmigran dari Jawa. Pada 1977, kopi liberika mulai berkembang di Kecamatan Sepaku melalui para perantau dari Pacitan. Sejak saat itu, liberika pelan tapi pasti berakar di berbagai wilayah Kaltim, dari Kukar hingga Berau.

    Kini dunia kopi sedang bergerak menuju keberagaman. Ketika industri mulai jenuh dengan dominasi dua varietas besar, kopi liberika dari Kaltim bisa menjadi babak baru dalam peta perkopian global. Ketahanannya terhadap perubahan iklim dan keunikannya dalam profil rasa menjadikannya pilihan yang layak untuk dikembangkan lebih lanjut.

    Festival Kopi Borneo bukan hanya ajang perayaan, tetapi sebuah upaya menegaskan bahwa Kaltim bukan sekadar penonton dalam skena kopi Indonesia. 

    "Dengan pendekatan yang tepat, baik dari sisi budi daya, distribusi, promosi budaya, maupun kompetisi, liberika dari tanah Borneo akan menjadi identitas baru, sebuah kisah yang tidak hanya diseduh, tetapi juga diceritakan dari generasi ke generasi selanjutnya," pungkasnya. 

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Komunitas Nortside Gelar Kartanegara Coffee Event 24-27 April

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Lodya A
    16 April 2025 pukul 15:01 WITA

    Flyer Kartanegara Coffee Event. (Foto: Yudha)

    Tenggarong - Komunitas Kopi Northside Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang tergabung di bawah naungan Asosiasi Ebca Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar bakal menggelar event pada 24-27 April 2025 di Pendopo Bupati Kukar. 

    Event ini menjadi panggung pertemuan pertama kalinya di Kukar antara para peracik kopi, seniman dan pencinta budaya. Dalam setiap tegukan kopi, tersimpan kisah panjang tentang tanah, tangan, tradisi serta sejarah Kutai yang kaya. Kini event ini siap menjadi simpul baru dalam narasi perkopian Indonesia, khususnya Kukar. 

    Ketua Komunitas Northside, Yudha mengatakan event ini tidak hanya sekadar kompetisi menyeduh kopi, tetapi juga merupakan ruang dialog antara teknik dan rasa, cara mengulik biji kopi dengan perjalanan waktu yang panjang. 

    Ia menyebut para barista terbaik se-Borneo akan unjuk kepiawaian dalam brewers competition. Sesi cup tester membuka kesempatan bagi para penikmat kopi untuk menyelami karakter rasa yang lahir dari tanah Kalimantan. 

    "Workshop interaktif nantinya menghadirkan pengalaman langsung memahami seni menyeduh, dari teknik manual hingga eksplorasi cita rasa," kata Yudha, Selasa (16/4/2025).

    Yudha menyebut sudah ada 10 peserta yang mendaftar untuk bermain dalam kompetisi brewers dan cup taster. "Ada juga latte art sisa dua slot dan battle menyeduh hampir full peserta. Kami juga masih membuka pendaftraan untuk peserta lainnya," tambahnya. 

    Kata Yudha, kopi merupakan budaya hidup, hulu dan hilir industri perkopian sebagai komite di festival ini juga menghadirkan pertunjukan seni dari musik hingga monolog yang menjelaskan kopi telah menjadi bagian dari peradaban.

    “Dalam tiap denting nada dan bait dialog itu tersirat jejak kopi yang bukan hanya tumbuh dari tanah, tetapi juga dari perjumpaan manusia dengan sejarahnya," ujarnya. 

    Ia menjelaskan kopi liberika yang jejaknya tidak terlupakan memiliki potensi menanti di tengah riuh rendah industri kopi nasional, satu varietas yang jarang disebut ini mulai menunjukkan wajahnya kembali. 

    Kemudian, tidak lupa juga dengan varietas kopi arabika yang bercerita tentang dataran tinggi dan keseimbangan rasa. Jika robusta menandai ketahanan dan intensitas, maka liberika adalah kisah keteguhan di tanah rendah.

    Northside, komplotan pegiat kopi di Kukar, menilai kopi liberika adalah harta yang belum sepenuhnya digali di Kalimantan.

    "Kopi liberika tumbuh di dataran rendah, melawan arus dominasi arabika dan robusta, tetapi menyimpan keunikan yang belum banyak dikenal," ucapnya.

    Sejarah mencatat, jejak kopi di Kalimantan ada sejak 1962 di Linggang Melapeh, dibawa oleh transmigran dari Jawa. Pada 1977, kopi liberika mulai berkembang di Kecamatan Sepaku melalui para perantau dari Pacitan. Sejak saat itu, liberika pelan tapi pasti berakar di berbagai wilayah Kaltim, dari Kukar hingga Berau.

    Kini dunia kopi sedang bergerak menuju keberagaman. Ketika industri mulai jenuh dengan dominasi dua varietas besar, kopi liberika dari Kaltim bisa menjadi babak baru dalam peta perkopian global. Ketahanannya terhadap perubahan iklim dan keunikannya dalam profil rasa menjadikannya pilihan yang layak untuk dikembangkan lebih lanjut.

    Festival Kopi Borneo bukan hanya ajang perayaan, tetapi sebuah upaya menegaskan bahwa Kaltim bukan sekadar penonton dalam skena kopi Indonesia. 

    "Dengan pendekatan yang tepat, baik dari sisi budi daya, distribusi, promosi budaya, maupun kompetisi, liberika dari tanah Borneo akan menjadi identitas baru, sebuah kisah yang tidak hanya diseduh, tetapi juga diceritakan dari generasi ke generasi selanjutnya," pungkasnya. 

    (Sf/Lo)