Seputar Kaltim

    Koalisi Masyarakat Sipil Setara Bergerak: Suara Perempuan untuk Demokrasi

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    09 Maret 2024 pukul 08:48 WITA

    Koalisi Masyarakat Sipil Setara sedang menyemarakkan Internasional Women's Day yang diselenggarakan di Taman Samarendah, Samarinda, Jum'at, 8 Maret 2024. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dalam semarak perayaan Internasional Women's Day, Koalisi Masyarakat Sipil Setara mengambil langkah nyata dengan turun ke jalan, menyuarakan seruan demokrasi bagi perempuan di seluruh penjuru dunia. Sejumlah 30 aktivis berkumpul di Taman Samarendah pada Jumat (8/3/2024) sore, membawa poster dan aspirasi untuk perubahan yang lebih inklusif.

    Dengan tema "Perempuan Selamatkan Demokrasi," mereka menyerukan kesadaran akan pentingnya hari ini dan mengajak masyarakat untuk mendukung hak-hak perempuan. 

    Salah satu anggota koalisi, Devy menegaskan masyarakat menyadari pentingnya Internasional Women's Day. "Kami di sini untuk mengangkat suara perempuan dalam menyelamatkan demokrasi," ungkap Devy.

    Aksi ini tidak hanya sekadar demonstrasi, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah. Tuntutan tersebut mencakup pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), RUU Perlindungan Masyarakat Adat, dan pembuatan kebijakan yang melarang diskriminasi berbasis gender dan orientasi seksual. "Kami berharap ada ruang aman bagi perempuan dan masyarakat menjadi lebih peduli terhadap hak-hak perempuan," ujarnya.

    Kegiatan Koalisi Masyarakat Sipil Setara terbagi menjadi dua. Pertama, gerakan short march mengelilingi Taman Samarendah sebagai simbol solidaritas. Kedua, mimbar ekspresi yang memberikan kesempatan bagi anggota untuk menyuarakan pendapat, bernyanyi, dan menari, merayakan keberagaman dan kekuatan perempuan.

    Simbolisme juga hadir melalui pita ungu yang dipasang oleh para peserta, menandai identitas dan semangat perempuan dalam memperingati hari ini. "Pita ungu merupakan lambang dari perjuangan dan keberanian perempuan dalam menghadapi tantangan," tambahnya.

    Meski kebebasan berpendapat bagi perempuan dinilai sudah membaik, Devy menekankan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan. "RUU PPRT akan sangat bermanfaat bagi pekerja rumah tangga jika disahkan. Kami juga ingin menegaskan pentingnya kesetaraan gender dan menghapus stigma bahwa perempuan hanya sebatas pengurus rumah," jelasnya.

    Devy juga menyoroti kasus kekerasan seksual yang masih kerap terjadi, menuntut agar masalah ini segera ditangani dan dicegah. Di akhir wawancara, ia memberikan pesan khusus kepada perempuan di seluruh dunia. "Hargai diri sendiri. Itu adalah kunci agar suara perempuan dapat terdengar dan dihormati," tuturnya.

    Dengan semangat Internasional Women's Day, Koalisi Masyarakat Sipil Setara berharap pesan dan tuntutan mereka didengar, membuka jalan bagi perubahan yang lebih adil dan setara bagi perempuan di mana pun mereka berada.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Koalisi Masyarakat Sipil Setara Bergerak: Suara Perempuan untuk Demokrasi

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    09 Maret 2024 pukul 08:48 WITA

    Koalisi Masyarakat Sipil Setara sedang menyemarakkan Internasional Women's Day yang diselenggarakan di Taman Samarendah, Samarinda, Jum'at, 8 Maret 2024. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dalam semarak perayaan Internasional Women's Day, Koalisi Masyarakat Sipil Setara mengambil langkah nyata dengan turun ke jalan, menyuarakan seruan demokrasi bagi perempuan di seluruh penjuru dunia. Sejumlah 30 aktivis berkumpul di Taman Samarendah pada Jumat (8/3/2024) sore, membawa poster dan aspirasi untuk perubahan yang lebih inklusif.

    Dengan tema "Perempuan Selamatkan Demokrasi," mereka menyerukan kesadaran akan pentingnya hari ini dan mengajak masyarakat untuk mendukung hak-hak perempuan. 

    Salah satu anggota koalisi, Devy menegaskan masyarakat menyadari pentingnya Internasional Women's Day. "Kami di sini untuk mengangkat suara perempuan dalam menyelamatkan demokrasi," ungkap Devy.

    Aksi ini tidak hanya sekadar demonstrasi, tetapi juga sebagai medium untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah. Tuntutan tersebut mencakup pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (PPRT), RUU Perlindungan Masyarakat Adat, dan pembuatan kebijakan yang melarang diskriminasi berbasis gender dan orientasi seksual. "Kami berharap ada ruang aman bagi perempuan dan masyarakat menjadi lebih peduli terhadap hak-hak perempuan," ujarnya.

    Kegiatan Koalisi Masyarakat Sipil Setara terbagi menjadi dua. Pertama, gerakan short march mengelilingi Taman Samarendah sebagai simbol solidaritas. Kedua, mimbar ekspresi yang memberikan kesempatan bagi anggota untuk menyuarakan pendapat, bernyanyi, dan menari, merayakan keberagaman dan kekuatan perempuan.

    Simbolisme juga hadir melalui pita ungu yang dipasang oleh para peserta, menandai identitas dan semangat perempuan dalam memperingati hari ini. "Pita ungu merupakan lambang dari perjuangan dan keberanian perempuan dalam menghadapi tantangan," tambahnya.

    Meski kebebasan berpendapat bagi perempuan dinilai sudah membaik, Devy menekankan bahwa masih ada ruang untuk perbaikan. "RUU PPRT akan sangat bermanfaat bagi pekerja rumah tangga jika disahkan. Kami juga ingin menegaskan pentingnya kesetaraan gender dan menghapus stigma bahwa perempuan hanya sebatas pengurus rumah," jelasnya.

    Devy juga menyoroti kasus kekerasan seksual yang masih kerap terjadi, menuntut agar masalah ini segera ditangani dan dicegah. Di akhir wawancara, ia memberikan pesan khusus kepada perempuan di seluruh dunia. "Hargai diri sendiri. Itu adalah kunci agar suara perempuan dapat terdengar dan dihormati," tuturnya.

    Dengan semangat Internasional Women's Day, Koalisi Masyarakat Sipil Setara berharap pesan dan tuntutan mereka didengar, membuka jalan bagi perubahan yang lebih adil dan setara bagi perempuan di mana pun mereka berada.

    (Sf/Rs)