Seputar Kaltim

    Keunikan Labuan Cermin Diuji, Penentu Langkah Geopark Sangkulirang Mangkalihat ke Tingkat Nasional

    Redaktur:Lodya A
    09 Juli 2026 pukul 10:23 WITA

    Tanjung Redeb - Kejernihan air Labuan Cermin yang memantulkan bayangan bak cermin bukan sekadar menyuguhkan panorama alam. 

    Danau unik dengan dua lapisan air berbeda rasa itu kini menjadi salah satu geosite yang diverifikasi dalam proses pengusulan Geopark Sangkulirang Mangkalihat (GSM) menjadi Geopark Nasional.

    Tim Verifikasi Lapangan Geopark Sangkulirang Mangkalihat tiba di Labuan Cermin, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Rabu (8/7/2026), setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dari kawasan Gua Mengkuris di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Sebelum menuju lokasi, rombongan terlebih dahulu disambut Sekretaris Daerah Berau, Muhammad Said, di Kecamatan Batu Putih.

    Tim verifikasi terdiri atas Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sv., PJd. dari Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A., Ketua Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, serta Aries Kusworo, S.T., M.T., Ketua Tim Kerja Warisan Geologi dan Geopark Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM.

    Setibanya di Labuan Cermin, rombongan disambut Camat Biduk-Biduk Tjipto, kepala kampung dan pengelola kawasan wisata. Tim kemudian menerima pemaparan mengenai sejarah kawasan, filosofi penamaan Labuan Cermin, sistem pengelolaan wisata, hingga karakteristik geologi yang menjadi dasar penetapannya sebagai geosite.

    Nama Labuan Cermin sendiri memiliki makna yang erat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Kata labuan berarti tempat bersandarnya kapal atau perahu nelayan, sedangkan cermin menggambarkan kejernihan air yang mampu memantulkan bayangan layaknya kaca.

    Keunikan utama kawasan ini terletak pada fenomena alam berupa dua lapisan air dalam satu danau. Lapisan permukaan merupakan air asin yang dipengaruhi intrusi air laut, sedangkan lapisan di bawahnya adalah air tawar yang berasal dari mata air yang muncul melalui celah-celah batuan karst di sekitar kawasan.

    Fenomena tersebut membuat Labuan Cermin dikenal sebagai “Danau Dua Rasa” sekaligus menjadi salah satu geosite penting dalam bentang alam Geopark Sangkulirang Mangkalihat.

    Tak hanya memiliki nilai ilmiah, Labuan Cermin juga menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Berau. Pada 2007, kawasan ini pernah masuk dalam 10 Destinasi Wisata Favorit Indonesia versi Kementerian Pariwisata.

    Selama sekitar satu jam, tim melakukan observasi lapangan sekaligus berdiskusi dengan pengelola mengenai berbagai aspek yang menjadi indikator penilaian geosite. Penilaian tersebut meliputi nilai warisan geologi, upaya konservasi, tata kelola kawasan, keterlibatan masyarakat, hingga potensi pengembangan geowisata dan edukasi berbasis konservasi.

    Dalam kegiatan itu, tim turut didampingi jajaran Pemerintah Kabupaten Berau, di antaranya Asisten III Setda Berau Hj. Maulidiyah, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Dr. H. Andi Marawangeng, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Ir. Endah Ernani, serta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Ir. Hj. Tenteram Rahayu.

    Usai melakukan verifikasi di Labuan Cermin, rombongan bermalam di Biduk-Biduk sebelum melanjutkan peninjauan ke Kompleks Batuan Tersier Batu Sinondok di Kampung Teluk Sumbang pada Kamis (9/7/2026). Kawasan tersebut merupakan salah satu geosite penting yang diperkirakan memiliki batuan berumur sekitar 135 juta tahun.

    Selama berada di Kabupaten Berau, tim akan melakukan verifikasi terhadap sejumlah geosite di Kecamatan Biduk-Biduk, Batu Putih, Talisayan dan Biatan. Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan pemaparan hasil verifikasi oleh Tim Geopark Sangkulirang Mangkalihat Kabupaten Berau sebelum rombongan diterima Bupati Berau di rumah jabatan pada Jumat (10/7/2026).

    Verifikasi lapangan ini menjadi tahapan penting dalam proses pengusulan Geopark Sangkulirang Mangkalihat sebagai Geopark Nasional. Melalui proses tersebut, kekayaan geologi, keanekaragaman hayati dan warisan budaya kawasan Sangkulirang Mangkalihat diharapkan memperoleh pengakuan yang lebih luas sekaligus mendorong pengelolaan kawasan secara berkelanjutan melalui konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Keunikan Labuan Cermin Diuji, Penentu Langkah Geopark Sangkulirang Mangkalihat ke Tingkat Nasional

    Redaktur:Lodya A
    09 Juli 2026 pukul 10:23 WITA

    Tanjung Redeb - Kejernihan air Labuan Cermin yang memantulkan bayangan bak cermin bukan sekadar menyuguhkan panorama alam. 

    Danau unik dengan dua lapisan air berbeda rasa itu kini menjadi salah satu geosite yang diverifikasi dalam proses pengusulan Geopark Sangkulirang Mangkalihat (GSM) menjadi Geopark Nasional.

    Tim Verifikasi Lapangan Geopark Sangkulirang Mangkalihat tiba di Labuan Cermin, Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Rabu (8/7/2026), setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dari kawasan Gua Mengkuris di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Sebelum menuju lokasi, rombongan terlebih dahulu disambut Sekretaris Daerah Berau, Muhammad Said, di Kecamatan Batu Putih.

    Tim verifikasi terdiri atas Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sv., PJd. dari Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A., Ketua Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, serta Aries Kusworo, S.T., M.T., Ketua Tim Kerja Warisan Geologi dan Geopark Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM.

    Setibanya di Labuan Cermin, rombongan disambut Camat Biduk-Biduk Tjipto, kepala kampung dan pengelola kawasan wisata. Tim kemudian menerima pemaparan mengenai sejarah kawasan, filosofi penamaan Labuan Cermin, sistem pengelolaan wisata, hingga karakteristik geologi yang menjadi dasar penetapannya sebagai geosite.

    Nama Labuan Cermin sendiri memiliki makna yang erat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Kata labuan berarti tempat bersandarnya kapal atau perahu nelayan, sedangkan cermin menggambarkan kejernihan air yang mampu memantulkan bayangan layaknya kaca.

    Keunikan utama kawasan ini terletak pada fenomena alam berupa dua lapisan air dalam satu danau. Lapisan permukaan merupakan air asin yang dipengaruhi intrusi air laut, sedangkan lapisan di bawahnya adalah air tawar yang berasal dari mata air yang muncul melalui celah-celah batuan karst di sekitar kawasan.

    Fenomena tersebut membuat Labuan Cermin dikenal sebagai “Danau Dua Rasa” sekaligus menjadi salah satu geosite penting dalam bentang alam Geopark Sangkulirang Mangkalihat.

    Tak hanya memiliki nilai ilmiah, Labuan Cermin juga menjadi destinasi wisata unggulan Kabupaten Berau. Pada 2007, kawasan ini pernah masuk dalam 10 Destinasi Wisata Favorit Indonesia versi Kementerian Pariwisata.

    Selama sekitar satu jam, tim melakukan observasi lapangan sekaligus berdiskusi dengan pengelola mengenai berbagai aspek yang menjadi indikator penilaian geosite. Penilaian tersebut meliputi nilai warisan geologi, upaya konservasi, tata kelola kawasan, keterlibatan masyarakat, hingga potensi pengembangan geowisata dan edukasi berbasis konservasi.

    Dalam kegiatan itu, tim turut didampingi jajaran Pemerintah Kabupaten Berau, di antaranya Asisten III Setda Berau Hj. Maulidiyah, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Dr. H. Andi Marawangeng, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Ir. Endah Ernani, serta Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Ir. Hj. Tenteram Rahayu.

    Usai melakukan verifikasi di Labuan Cermin, rombongan bermalam di Biduk-Biduk sebelum melanjutkan peninjauan ke Kompleks Batuan Tersier Batu Sinondok di Kampung Teluk Sumbang pada Kamis (9/7/2026). Kawasan tersebut merupakan salah satu geosite penting yang diperkirakan memiliki batuan berumur sekitar 135 juta tahun.

    Selama berada di Kabupaten Berau, tim akan melakukan verifikasi terhadap sejumlah geosite di Kecamatan Biduk-Biduk, Batu Putih, Talisayan dan Biatan. Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan pemaparan hasil verifikasi oleh Tim Geopark Sangkulirang Mangkalihat Kabupaten Berau sebelum rombongan diterima Bupati Berau di rumah jabatan pada Jumat (10/7/2026).

    Verifikasi lapangan ini menjadi tahapan penting dalam proses pengusulan Geopark Sangkulirang Mangkalihat sebagai Geopark Nasional. Melalui proses tersebut, kekayaan geologi, keanekaragaman hayati dan warisan budaya kawasan Sangkulirang Mangkalihat diharapkan memperoleh pengakuan yang lebih luas sekaligus mendorong pengelolaan kawasan secara berkelanjutan melalui konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

    (Sf/Lo)