Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua PPK Sambutan, Aan Ansori (kanan) dan didampingi oleh pihak kecamatan Hendy Suryanata (kiri), menyampaikan klarifikasi tentang keracunan makanan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Panitia Pelaksanaan Kecamatan (PPK) Sambutan membantah adanya keracunan makanan yang menimpa sebagian peserta pelantikan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu 2024 di TJIU Palace, Samarinda, Kamis (25/1/2024).
Ketua PPK Sambutan, Aan Anshori, mengatakan bahwa belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa peserta pelantikan mengalami keracunan makanan. Ia mengklaim bahwa hasil uji laboratorium dari beberapa korban menunjukkan bahwa mereka hanya mengalami peningkatan asam lambung.
"Sebetulnya bukan keracunan, tapi diduga keracunan, karena sampai saat ini pihak terkait seperti uji lab belum menyampaikan kalau itu keracunan. Memang ada beberapa korban yang menguji labnya itu tidak keracunan, hasil lab menunjukkan, hanya asam lambungnya meningkat," ujarnya di Swiss-Belhotel Samarinda, Senin (29/1/2024).
Anshori menambahkan bahwa tidak ada instansi resmi yang menyatakan bahwa peserta pelantikan mengalami keracunan makanan setelah melakukan uji laboratorium. Ia juga meminta agar masyarakat tidak mudah percaya dengan isu yang tidak berdasar.
"Bahkan, menurutnya dari satu dan beberapa yang menyampaikan dokter itu bukan keracunan. Belum ada, jadi tolong diperhatikan itu, belum ada instansi yang menyatakan itu keracunan setelah melakukan uji lab," tegasnya.
Anshori menjelaskan bahwa gejala yang dialami oleh sebagian peserta pelantikan baru muncul pada hari berikutnya, bukan langsung setelah mengkonsumsi makanan yang disediakan. Ia mengatakan bahwa pihak PPK baru mendapat informasi tentang hal itu pada hari Jumat (26/1/2024).
"Jadi tidak semerta-merta hari kamis mengkonsumsi langsung sakit, keesokan harinya baru kami mendapatkan informasi. Kondisinya dari 588 peserta KPPS yang bimtek ditambah panitia itu 600 yang mengalami cuman 47 KPPS yang terdata," ungkapnya.
Anshori mengatakan bahwa pihak PPK, PPS dan Kelurahan langsung berkoordinasi untuk menangani masalah tersebut. Ia mengatakan bahwa 47 KPPS yang tidak hadir pada pelantikan akan di bimbing teknis ulang.
"Jadi kemaren itu jumlah yang di bimtek dari KPPS sambutan itu totalnya 87 TPS total ada 588 orang dan yang hadir itu 541 tersisa 47, untuk 47 itu akan di bimtek ulang," ujarnya.
Anshori berharap bahwa kejadian ini tidak akan terulang lagi di masa depan. Ia mengatakan bahwa pihak PPK akan lebih selektif dalam memilih menu makanan yang disajikan. Ia juga mengatakan bahwa pelaksanaan pemilu harus direncanakan dengan matang, sesuai dengan tahapan yang sudah ditetapkan.
"Saya pikir memang dalam pelaksanaan pemilu kita tidak merencanakan acara mendadak. Bahwa tahapan pemilu itu sudah ada, tinggal bagaimana anggaran yang kita tunggu dari KPU Samarinda," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua PPK Sambutan, Aan Ansori (kanan) dan didampingi oleh pihak kecamatan Hendy Suryanata (kiri), menyampaikan klarifikasi tentang keracunan makanan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Panitia Pelaksanaan Kecamatan (PPK) Sambutan membantah adanya keracunan makanan yang menimpa sebagian peserta pelantikan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu 2024 di TJIU Palace, Samarinda, Kamis (25/1/2024).
Ketua PPK Sambutan, Aan Anshori, mengatakan bahwa belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa peserta pelantikan mengalami keracunan makanan. Ia mengklaim bahwa hasil uji laboratorium dari beberapa korban menunjukkan bahwa mereka hanya mengalami peningkatan asam lambung.
"Sebetulnya bukan keracunan, tapi diduga keracunan, karena sampai saat ini pihak terkait seperti uji lab belum menyampaikan kalau itu keracunan. Memang ada beberapa korban yang menguji labnya itu tidak keracunan, hasil lab menunjukkan, hanya asam lambungnya meningkat," ujarnya di Swiss-Belhotel Samarinda, Senin (29/1/2024).
Anshori menambahkan bahwa tidak ada instansi resmi yang menyatakan bahwa peserta pelantikan mengalami keracunan makanan setelah melakukan uji laboratorium. Ia juga meminta agar masyarakat tidak mudah percaya dengan isu yang tidak berdasar.
"Bahkan, menurutnya dari satu dan beberapa yang menyampaikan dokter itu bukan keracunan. Belum ada, jadi tolong diperhatikan itu, belum ada instansi yang menyatakan itu keracunan setelah melakukan uji lab," tegasnya.
Anshori menjelaskan bahwa gejala yang dialami oleh sebagian peserta pelantikan baru muncul pada hari berikutnya, bukan langsung setelah mengkonsumsi makanan yang disediakan. Ia mengatakan bahwa pihak PPK baru mendapat informasi tentang hal itu pada hari Jumat (26/1/2024).
"Jadi tidak semerta-merta hari kamis mengkonsumsi langsung sakit, keesokan harinya baru kami mendapatkan informasi. Kondisinya dari 588 peserta KPPS yang bimtek ditambah panitia itu 600 yang mengalami cuman 47 KPPS yang terdata," ungkapnya.
Anshori mengatakan bahwa pihak PPK, PPS dan Kelurahan langsung berkoordinasi untuk menangani masalah tersebut. Ia mengatakan bahwa 47 KPPS yang tidak hadir pada pelantikan akan di bimbing teknis ulang.
"Jadi kemaren itu jumlah yang di bimtek dari KPPS sambutan itu totalnya 87 TPS total ada 588 orang dan yang hadir itu 541 tersisa 47, untuk 47 itu akan di bimtek ulang," ujarnya.
Anshori berharap bahwa kejadian ini tidak akan terulang lagi di masa depan. Ia mengatakan bahwa pihak PPK akan lebih selektif dalam memilih menu makanan yang disajikan. Ia juga mengatakan bahwa pelaksanaan pemilu harus direncanakan dengan matang, sesuai dengan tahapan yang sudah ditetapkan.
"Saya pikir memang dalam pelaksanaan pemilu kita tidak merencanakan acara mendadak. Bahwa tahapan pemilu itu sudah ada, tinggal bagaimana anggaran yang kita tunggu dari KPU Samarinda," tutupnya.
(Sf/Rs)