Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono, mengungkapkan keprihatinannya terhadap menurunnya pemahaman masyarakat terhadap demokrasi.
Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan dan harus menjadi perhatian bersama.
“Kami ketahui saat ini pemahaman demokrasi mulai turun, tetapi itu tidak bisa kami biarkan jatuh lebih dalam. Ini tugas kami bersama. Intinya, pemilih cerdas akan melahirkan pemimpin yang berkualitas,” ucap Yudho kepada media, Selasa (23/9/2025).
Tidak hanya itu, KPU juga memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai pentingnya hak pilih. Oleh karena itu, sejak dini mereka harus memahami pentingnya peran dalam menentukan arah pembangunan melalui pemilu.
“Partisipasi masyarakat dalam pemilu sangat penting. Sebagai warga kota, kami punya kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, listrik, hingga keamanan. Semua itu adalah hasil dari kebijakan politik,” jelas Yudho.
Ia menegaskan bahwa sikap apatis atau skeptis terhadap politik justru akan merugikan masyarakat sendiri. Rendahnya partisipasi bisa berdampak pada lemahnya legitimasi pemimpin, baik di eksekutif maupun legislatif.
“Semakin tinggi partisipasi masyarakat, semakin kuat pula legitimasi pemimpin,” tambahnya.
Yudho juga mengingatkan agar masyarakat, khususnya pemilih pemula, lebih cermat dalam memilih calon pemimpin. Ia menekankan pentingnya memperhatikan rekam jejak serta visi dan misi calon, bukan hanya terpaku pada janji atau iming-iming sesaat.
“Melalui sosialisasi ini, kami berharap kesadaran politik dapat tumbuh sejak dini, sehingga demokrasi di Kota Balikpapan berjalan lebih sehat dan partisipatif,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Yudho menekankan perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan tata kelola pemerintahan agar demokrasi dapat berkembang lebih baik.
“Jika tidak dibangun bersama, tantangan demokrasi akan terus seperti perdebatan klasik “mana lebih dulu, ayam atau telur,” paparnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan, Prakoso Yudho Lelono, mengungkapkan keprihatinannya terhadap menurunnya pemahaman masyarakat terhadap demokrasi.
Menurutnya, hal ini tidak bisa dibiarkan dan harus menjadi perhatian bersama.
“Kami ketahui saat ini pemahaman demokrasi mulai turun, tetapi itu tidak bisa kami biarkan jatuh lebih dalam. Ini tugas kami bersama. Intinya, pemilih cerdas akan melahirkan pemimpin yang berkualitas,” ucap Yudho kepada media, Selasa (23/9/2025).
Tidak hanya itu, KPU juga memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai pentingnya hak pilih. Oleh karena itu, sejak dini mereka harus memahami pentingnya peran dalam menentukan arah pembangunan melalui pemilu.
“Partisipasi masyarakat dalam pemilu sangat penting. Sebagai warga kota, kami punya kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, kesehatan, listrik, hingga keamanan. Semua itu adalah hasil dari kebijakan politik,” jelas Yudho.
Ia menegaskan bahwa sikap apatis atau skeptis terhadap politik justru akan merugikan masyarakat sendiri. Rendahnya partisipasi bisa berdampak pada lemahnya legitimasi pemimpin, baik di eksekutif maupun legislatif.
“Semakin tinggi partisipasi masyarakat, semakin kuat pula legitimasi pemimpin,” tambahnya.
Yudho juga mengingatkan agar masyarakat, khususnya pemilih pemula, lebih cermat dalam memilih calon pemimpin. Ia menekankan pentingnya memperhatikan rekam jejak serta visi dan misi calon, bukan hanya terpaku pada janji atau iming-iming sesaat.
“Melalui sosialisasi ini, kami berharap kesadaran politik dapat tumbuh sejak dini, sehingga demokrasi di Kota Balikpapan berjalan lebih sehat dan partisipatif,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, Yudho menekankan perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan tata kelola pemerintahan agar demokrasi dapat berkembang lebih baik.
“Jika tidak dibangun bersama, tantangan demokrasi akan terus seperti perdebatan klasik “mana lebih dulu, ayam atau telur,” paparnya.
(Sf/Rs)