Seputar Kaltim

    Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Soroti Evaluasi Jam Belajar Sekolah, Usulkan Formula yang Seimbang

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 Januari 2025 pukul 13:27 WITA

    Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie menyampaikan pandangannya terkait evaluasi jam belajar sekolah di Samarinda. Menurutnya, wacana evaluasi jam belajar sebenarnya telah lama diusulkan, bahkan beberapa kali juga menjadi usulan dari tingkat dewan. Namun, hingga kini belum ada pembahasan yang detail terkait hal tersebut.  

    Belum lama ini, wacana tersebut mencuat kembali setelah Wali Kota Samarinda, Andi Harun meminta adanya evaluasi jam belajar kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis. Andi Harun menilai bahwa jam belajar yang terlalu diforsir di sekolah kurang efektif, karena dapat berdampak pada perkembangan sosial dan psikis anak. 

    Selaras dengan itu, Novan juga menilai bahwa terlalu panjangnya waktu belajar di sekolah bisa berdampak negatif pada anak, terutama di tingkat sekolah dasar. "Kalau anak dari pagi sampai sore di sekolah, saya rasa itu dapat merampas hak bermain mereka. Kita yang bekerja seharian saja merasa jenuh, apalagi mereka yang masih butuh waktu bermain," ujar Novan.  

    Namun, ia juga memahami adanya kebutuhan orang tua yang bekerja sehingga mendukung anak berada di sekolah hingga sore. "Di sisi lain, beberapa orang tua senang anaknya di sekolah lebih lama karena mereka tidak ada yang menjaga di rumah. Tetapi, kita harus memastikan apakah sistem ini memberikan dampak positif bagi anak atau justru sebaliknya," ungkapnya.

    Ia menegaskan bahwa kajian yang mendalam diperlukan untuk menentukan dampak jam belajar terhadap kondisi psikologis anak. 

    Politisi Partai Golkar ini juga menyoroti bahwa permasalahan jam belajar tidak hanya terjadi di Samarinda, melainkan hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan untuk memastikan kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan anak. 

    Koordinasi dengan sekolah swasta juga perlu dilakukan. Sebab, ia melihat sebagian besar dari sekolah swasta memakan waktu belajar di sekolah lebih banyak dibandingkan dengan sekolah negeri. 

    "Nanti kita lihat, pasti ada studi dan indikator yang terkait dengan jam belajar ini. Jika memang terbukti memberikan pengaruh besar pada psikis anak-anak, maka harus ada langkah konkret untuk mengatur ulang durasi belajarnya," katanya.  

    Novan menekankan pentingnya keseimbangan dalam durasi jam belajar dan waktu bermain. Ia mengusulkan agar metode belajar di sekolah juga mencakup waktu bermain, tidur siang, atau kegiatan santai lainnya, tergantung pada fasilitas yang disediakan sekolah, jika memang waktu di sekolah dari pagi hingga sore. 

    "Saya tidak setuju jika anak-anak hanya belajar penuh dari pagi hingga sore tanpa waktu bermain. Hak bermain anak, terutama di sekolah dasar, harus tetap dijaga," pungkasnya.  

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Soroti Evaluasi Jam Belajar Sekolah, Usulkan Formula yang Seimbang

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 Januari 2025 pukul 13:27 WITA

    Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda – Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie menyampaikan pandangannya terkait evaluasi jam belajar sekolah di Samarinda. Menurutnya, wacana evaluasi jam belajar sebenarnya telah lama diusulkan, bahkan beberapa kali juga menjadi usulan dari tingkat dewan. Namun, hingga kini belum ada pembahasan yang detail terkait hal tersebut.  

    Belum lama ini, wacana tersebut mencuat kembali setelah Wali Kota Samarinda, Andi Harun meminta adanya evaluasi jam belajar kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis. Andi Harun menilai bahwa jam belajar yang terlalu diforsir di sekolah kurang efektif, karena dapat berdampak pada perkembangan sosial dan psikis anak. 

    Selaras dengan itu, Novan juga menilai bahwa terlalu panjangnya waktu belajar di sekolah bisa berdampak negatif pada anak, terutama di tingkat sekolah dasar. "Kalau anak dari pagi sampai sore di sekolah, saya rasa itu dapat merampas hak bermain mereka. Kita yang bekerja seharian saja merasa jenuh, apalagi mereka yang masih butuh waktu bermain," ujar Novan.  

    Namun, ia juga memahami adanya kebutuhan orang tua yang bekerja sehingga mendukung anak berada di sekolah hingga sore. "Di sisi lain, beberapa orang tua senang anaknya di sekolah lebih lama karena mereka tidak ada yang menjaga di rumah. Tetapi, kita harus memastikan apakah sistem ini memberikan dampak positif bagi anak atau justru sebaliknya," ungkapnya.

    Ia menegaskan bahwa kajian yang mendalam diperlukan untuk menentukan dampak jam belajar terhadap kondisi psikologis anak. 

    Politisi Partai Golkar ini juga menyoroti bahwa permasalahan jam belajar tidak hanya terjadi di Samarinda, melainkan hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan untuk memastikan kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan anak. 

    Koordinasi dengan sekolah swasta juga perlu dilakukan. Sebab, ia melihat sebagian besar dari sekolah swasta memakan waktu belajar di sekolah lebih banyak dibandingkan dengan sekolah negeri. 

    "Nanti kita lihat, pasti ada studi dan indikator yang terkait dengan jam belajar ini. Jika memang terbukti memberikan pengaruh besar pada psikis anak-anak, maka harus ada langkah konkret untuk mengatur ulang durasi belajarnya," katanya.  

    Novan menekankan pentingnya keseimbangan dalam durasi jam belajar dan waktu bermain. Ia mengusulkan agar metode belajar di sekolah juga mencakup waktu bermain, tidur siang, atau kegiatan santai lainnya, tergantung pada fasilitas yang disediakan sekolah, jika memang waktu di sekolah dari pagi hingga sore. 

    "Saya tidak setuju jika anak-anak hanya belajar penuh dari pagi hingga sore tanpa waktu bermain. Hak bermain anak, terutama di sekolah dasar, harus tetap dijaga," pungkasnya.  

    (Sf/Rs)