Seputar Kaltim

    Ketua ISNU Kaltim Sayangkan Siswa Sering Gunakan Chat GPT untuk Tugas Harian

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    01 April 2023 pukul 19:19 WITA

    Pengaruh Chat GPT pada Siswa yang dipaparkan oleh Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Timur, Prof Susilo. (Ilustrasi : ukdaily.news)

    Samarinda - Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Timur (Kaltim), Prof Susilo  mengutarakan banyaknya siswa menggunakan mesin pencarian yang tengah populer saat ini, yakni Chat GPT.

    Chat GPT ini dapat menjawab pertanyaan dari user secara langsung, seperti manusia pada umumnya, akan tetapi dalam bentuk teks.

    Adapun fitur yang di dalam Chat GPT ini memberikan akses kepada penggunanya untuk dapat membantu mendeskripsikan sesuatu, menulis esai hingga membantu koding.

    Prof Susilo pun sangat menyayangkan hal demikian. Sebab anak muda saat ini, terutama pada siswa yang mrngakses untuk mengerjakan tugas sekolah, seperti merangkum pelajaran.

    "Chat GPT ini dari Open AI yang seluruhnya menggunakan teknologi canggih, sehingga semua ada di situ dimanfaatkan oleh siswa untuk tugas hariannya," ungkapnya kepada seputarfakta.com 

    Lebih lanjut, Prof Susilo mengaku ini karena kurangnya kreatifitas guru dalam memberikan media pembelajaran yang mumpuni untuk siswa.

    "Seorang guru atau orang tua siswa harus bisa manage. Di sini peran guru sentral, artinya dapat menengahi dan memberi arahan kepada siswa, mana materi yang baik atau buruk sehingga ketika dieksplore lebih lanjut sudah ada rambu-rambunya," jelasnya.

    Ia pun mengkhawatirkan sebagian besar anak muda sekarang ketika menentukan materi benar atau tidaknya di internet itu dalam kebingungan, sebab banyaknya perbandingan materi yang dishare, termasuk dalam Chat GPT ini.

    "Dalam penelitian bahwa 67 persen anak muda itu yakin mereka itu harus mengecek yang mana benar atau tidaknya di online," terangnya.

    Tapi, Prof Susilo menegaskan siswa juga tidak harus takut dalam bayang-bayang kecanggihan digital AI.

    "Yang penting jangan dihantui dengan digital, guru-guru jangan takut digital, semua itu hanya alat. Kedepan guru-guru itu tetap mendidik, dan digital sebagai alat bantu, jadi guru harus kreatifitas bisa gunakan sistem blended online atau offline," tutupnya.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Ketua ISNU Kaltim Sayangkan Siswa Sering Gunakan Chat GPT untuk Tugas Harian

    Penulis:Maulana|Redaktur:Buniyamin
    01 April 2023 pukul 19:19 WITA

    Pengaruh Chat GPT pada Siswa yang dipaparkan oleh Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Timur, Prof Susilo. (Ilustrasi : ukdaily.news)

    Samarinda - Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Timur (Kaltim), Prof Susilo  mengutarakan banyaknya siswa menggunakan mesin pencarian yang tengah populer saat ini, yakni Chat GPT.

    Chat GPT ini dapat menjawab pertanyaan dari user secara langsung, seperti manusia pada umumnya, akan tetapi dalam bentuk teks.

    Adapun fitur yang di dalam Chat GPT ini memberikan akses kepada penggunanya untuk dapat membantu mendeskripsikan sesuatu, menulis esai hingga membantu koding.

    Prof Susilo pun sangat menyayangkan hal demikian. Sebab anak muda saat ini, terutama pada siswa yang mrngakses untuk mengerjakan tugas sekolah, seperti merangkum pelajaran.

    "Chat GPT ini dari Open AI yang seluruhnya menggunakan teknologi canggih, sehingga semua ada di situ dimanfaatkan oleh siswa untuk tugas hariannya," ungkapnya kepada seputarfakta.com 

    Lebih lanjut, Prof Susilo mengaku ini karena kurangnya kreatifitas guru dalam memberikan media pembelajaran yang mumpuni untuk siswa.

    "Seorang guru atau orang tua siswa harus bisa manage. Di sini peran guru sentral, artinya dapat menengahi dan memberi arahan kepada siswa, mana materi yang baik atau buruk sehingga ketika dieksplore lebih lanjut sudah ada rambu-rambunya," jelasnya.

    Ia pun mengkhawatirkan sebagian besar anak muda sekarang ketika menentukan materi benar atau tidaknya di internet itu dalam kebingungan, sebab banyaknya perbandingan materi yang dishare, termasuk dalam Chat GPT ini.

    "Dalam penelitian bahwa 67 persen anak muda itu yakin mereka itu harus mengecek yang mana benar atau tidaknya di online," terangnya.

    Tapi, Prof Susilo menegaskan siswa juga tidak harus takut dalam bayang-bayang kecanggihan digital AI.

    "Yang penting jangan dihantui dengan digital, guru-guru jangan takut digital, semua itu hanya alat. Kedepan guru-guru itu tetap mendidik, dan digital sebagai alat bantu, jadi guru harus kreatifitas bisa gunakan sistem blended online atau offline," tutupnya.

    (Sf/By)