Cari disini...
Seputar Kaltim
Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Ketua DPRD Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Jimmi, menegaskan pentingnya peningkatan kesejahteraan guru, khususnya guru honorer yang hingga kini masih menerima tunjangan dan penghasilan jauh di bawah standar.
Menurutnya, meski guru ASN atau guru negeri sudah lebih terjamin, kondisi guru honorer justru masih memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
“Yang paling penting itu guru honorer. Guru negeri sudah cukup, tinggal yang honorer ini yang harus didorong. Mungkin regulasinya perlu dibahas ulang karena tunjangan mereka masih kecil. Ini harus kita sesuaikan dengan kondisi keuangan daerah,” ujar Jimmi.
Ia juga menegaskan bahwa alokasi anggaran 20 persen untuk pendidikan harus benar-benar dimaksimalkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk kesejahteraan para tenaga pendidik.
Jimmi menyebut guru memiliki peran besar dalam membangun kualitas SDM di Kutai Timur. Menurutnya, guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa” yang menjalankan tugas mulia dalam mendidik generasi bangsa, meskipun kesejahteraan mereka masih terbatas.
“Mereka murni mendidik masyarakat dan bangsa. Mereka tidak punya banyak kesempatan untuk pekerjaan lain karena tanggung jawab mereka besar. Ini tugas mulia yang harus kita apresiasi dengan memperhatikan kesejahteraan mereka,” tutupnya.
Ia berharap pemerintah daerah terus mencari solusi untuk meningkatkan dukungan bagi guru honorer, disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ketua DPRD Kutim, Jimmi. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Ketua DPRD Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Jimmi, menegaskan pentingnya peningkatan kesejahteraan guru, khususnya guru honorer yang hingga kini masih menerima tunjangan dan penghasilan jauh di bawah standar.
Menurutnya, meski guru ASN atau guru negeri sudah lebih terjamin, kondisi guru honorer justru masih memerlukan perhatian serius dari pemerintah.
“Yang paling penting itu guru honorer. Guru negeri sudah cukup, tinggal yang honorer ini yang harus didorong. Mungkin regulasinya perlu dibahas ulang karena tunjangan mereka masih kecil. Ini harus kita sesuaikan dengan kondisi keuangan daerah,” ujar Jimmi.
Ia juga menegaskan bahwa alokasi anggaran 20 persen untuk pendidikan harus benar-benar dimaksimalkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk kesejahteraan para tenaga pendidik.
Jimmi menyebut guru memiliki peran besar dalam membangun kualitas SDM di Kutai Timur. Menurutnya, guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa” yang menjalankan tugas mulia dalam mendidik generasi bangsa, meskipun kesejahteraan mereka masih terbatas.
“Mereka murni mendidik masyarakat dan bangsa. Mereka tidak punya banyak kesempatan untuk pekerjaan lain karena tanggung jawab mereka besar. Ini tugas mulia yang harus kita apresiasi dengan memperhatikan kesejahteraan mereka,” tutupnya.
Ia berharap pemerintah daerah terus mencari solusi untuk meningkatkan dukungan bagi guru honorer, disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
(Sf/Rs)