Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Ilustrasi pemuda yang sedang kebingungan untuk mencari pekerjaan tambahan. (Foto: Freepik)
Samarinda – Kini, malam di Samarinda bukan lagi sekadar waktu untuk beristirahat.
Bagi banyak anak muda, terutama Generasi Z, malam justru menjadi awal dari shift kedua mereka.
Fenomena mengambil pekerjaan sampingan kini menjadi pemandangan umum, sebuah strategi bertahan hidup di tengah status baru Samarinda sebagai gerbang utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
Denyut pembangunan IKN yang kian cepat ternyata mengirimkan getaran ekonomi kuat ke kota tetangganya. Sayangnya, getaran itu tidak selalu terasa manis.
Bagi anak muda yang baru merintis karier, gaji dari pekerjaan utama sering kali terasa seperti air yang coba digenggam, selalu kurang untuk memenuhi semua kebutuhan.
Berikut adalah lima fakta seputar tren kerja sampingan Gen Z Samarinda di tengah kepungan efek ekonomi IKN.
*Kenaikan Biaya Hidup yang Tak Terelakkan*
Sejak Samarinda ditetapkan sebagai kota penyangga IKN, harga berbagai kebutuhan pokok perlahan merangkak naik.
Peningkatan paling signifikan terasa pada harga sewa kamar kos dan kontrakan yang melonjak drastis akibat meningkatnya permintaan dari para pekerja pendatang.
Tidak hanya itu, harga makanan di warung hingga tarif transportasi ikut terkerek naik. Kondisi ini membuat alokasi gaji bulanan menjadi semakin berat.
*Tekanan Gaya Hidup dari Lingkungan Sekitar*
Citra Samarinda sebagai beranda IKN turut melahirkan pusat-pusat gaya hidup baru yang menuntut pengeluaran lebih besar. Namun tekanan tidak hanya datang dari sana.
Dorongan untuk memiliki penghasilan tambahan juga muncul dari lingkungan pertemanan. Hal ini diakui oleh Dzakkya Putri, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kemenag Kaltim.
Ia merasa gaji yang didapat sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan dasar, namun kebiasaan dan gaya hidup teman sebayanya seringkali menciptakan kebutuhan baru yang tak terhindarkan.
“Sebenarnya cukup saja dari gaji yang saya dapatkan, tapi banyak dari kami Gen Z, teman-teman juga membawa kebiasaan belanja,” ungkapnya.
Untuk mengatasinya, Dzakkya memilih solusi produktif dengan mulai membangun personal branding sebagai konten kreator, sebuah pekerjaan tambahan yang sejalan dengan hobinya.
*Gengsi Dikesampingkan, Semua Peluang Diambil*
Prinsip ‘selagi halal dan menghasilkan’ menjadi pegangan banyak anak muda Samarinda. Mereka tidak ragu mengambil berbagai jenis pekerjaan.
Mitha Aprilia misalnya, seorang pekerja lepas sekaligus pedagang, mengaku tidak akan pilih-pilih pekerjaan. Baginya yang terpenting adalah bisa memenuhi tuntutan gaya hidup masa kini yang serba mahal.
“Karena gaya hidup sekarang mahal ya, untuk memenuhi itu, selagi kita bisa kerjakan ya gaskan aja,” katanya dengan lugas.
Kisah lain datang dari Akbar, seorang atlet yang juga bekerja sebagai barista di Harmo Coffee. Ia menjalani pekerjaan sebagai peracik kopi sejak 1 Agustus 2025 untuk menambah penghasilan.
Baginya, tantangan terbesar adalah membagi waktu antara pekerjaan dan jadwal latihan yang padat.
“Kerja jadi barista tantangannya membagi waktu dengan latihan. Tapi saya harus bisa,” jelasnya, menunjukkan determinasi untuk sukses di dua bidang sekaligus.
*Cerminan Ekonomi yang Rentan Menurut Akademisi*
Fenomena ini mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Sosiolog yang mendalami kajian budaya pemuda, Fajar Junaedi menjelaskan bahwa tren ini adalah respons cerdas generasi muda dalam melihat peluang.
Namun di sisi lain, hal ini juga memperlihatkan adanya kerentanan pada sistem ekonomi yang ada. Ketergantungan pada pekerjaan tambahan mengindikasikan bahwa upah dari pekerjaan formal belum mampu memberikan rasa aman dan jaminan finansial yang layak.
“Ini menunjukkan bahwa jaring pengaman dari pekerjaan formal utama mereka tidak cukup kuat,” ujarnya dalam sebuah diskusi publik, Sabtu (4/10/2025).
*Adaptasi Sekaligus Peringatan Dini*
Kemampuan Gen Z Samarinda untuk beradaptasi dengan mengambil dua pekerjaan patut diapresiasi sebagai bentuk ketahanan dan kreativitas.
Mereka menolak pasrah pada keadaan dan proaktif mencari solusi. Akan tetapi, tren ini juga berfungsi sebagai peringatan dini.
Jika kenaikan biaya hidup terus melampaui kenaikan upah, maka generasi muda produktif di kota ini berisiko mengalami kelelahan fisik dan mental, yang pada akhirnya dapat memengaruhi produktivitas mereka secara keseluruhan.
(Sf/Lo)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Ilustrasi pemuda yang sedang kebingungan untuk mencari pekerjaan tambahan. (Foto: Freepik)
Samarinda – Kini, malam di Samarinda bukan lagi sekadar waktu untuk beristirahat.
Bagi banyak anak muda, terutama Generasi Z, malam justru menjadi awal dari shift kedua mereka.
Fenomena mengambil pekerjaan sampingan kini menjadi pemandangan umum, sebuah strategi bertahan hidup di tengah status baru Samarinda sebagai gerbang utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
Denyut pembangunan IKN yang kian cepat ternyata mengirimkan getaran ekonomi kuat ke kota tetangganya. Sayangnya, getaran itu tidak selalu terasa manis.
Bagi anak muda yang baru merintis karier, gaji dari pekerjaan utama sering kali terasa seperti air yang coba digenggam, selalu kurang untuk memenuhi semua kebutuhan.
Berikut adalah lima fakta seputar tren kerja sampingan Gen Z Samarinda di tengah kepungan efek ekonomi IKN.
*Kenaikan Biaya Hidup yang Tak Terelakkan*
Sejak Samarinda ditetapkan sebagai kota penyangga IKN, harga berbagai kebutuhan pokok perlahan merangkak naik.
Peningkatan paling signifikan terasa pada harga sewa kamar kos dan kontrakan yang melonjak drastis akibat meningkatnya permintaan dari para pekerja pendatang.
Tidak hanya itu, harga makanan di warung hingga tarif transportasi ikut terkerek naik. Kondisi ini membuat alokasi gaji bulanan menjadi semakin berat.
*Tekanan Gaya Hidup dari Lingkungan Sekitar*
Citra Samarinda sebagai beranda IKN turut melahirkan pusat-pusat gaya hidup baru yang menuntut pengeluaran lebih besar. Namun tekanan tidak hanya datang dari sana.
Dorongan untuk memiliki penghasilan tambahan juga muncul dari lingkungan pertemanan. Hal ini diakui oleh Dzakkya Putri, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kemenag Kaltim.
Ia merasa gaji yang didapat sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan dasar, namun kebiasaan dan gaya hidup teman sebayanya seringkali menciptakan kebutuhan baru yang tak terhindarkan.
“Sebenarnya cukup saja dari gaji yang saya dapatkan, tapi banyak dari kami Gen Z, teman-teman juga membawa kebiasaan belanja,” ungkapnya.
Untuk mengatasinya, Dzakkya memilih solusi produktif dengan mulai membangun personal branding sebagai konten kreator, sebuah pekerjaan tambahan yang sejalan dengan hobinya.
*Gengsi Dikesampingkan, Semua Peluang Diambil*
Prinsip ‘selagi halal dan menghasilkan’ menjadi pegangan banyak anak muda Samarinda. Mereka tidak ragu mengambil berbagai jenis pekerjaan.
Mitha Aprilia misalnya, seorang pekerja lepas sekaligus pedagang, mengaku tidak akan pilih-pilih pekerjaan. Baginya yang terpenting adalah bisa memenuhi tuntutan gaya hidup masa kini yang serba mahal.
“Karena gaya hidup sekarang mahal ya, untuk memenuhi itu, selagi kita bisa kerjakan ya gaskan aja,” katanya dengan lugas.
Kisah lain datang dari Akbar, seorang atlet yang juga bekerja sebagai barista di Harmo Coffee. Ia menjalani pekerjaan sebagai peracik kopi sejak 1 Agustus 2025 untuk menambah penghasilan.
Baginya, tantangan terbesar adalah membagi waktu antara pekerjaan dan jadwal latihan yang padat.
“Kerja jadi barista tantangannya membagi waktu dengan latihan. Tapi saya harus bisa,” jelasnya, menunjukkan determinasi untuk sukses di dua bidang sekaligus.
*Cerminan Ekonomi yang Rentan Menurut Akademisi*
Fenomena ini mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Sosiolog yang mendalami kajian budaya pemuda, Fajar Junaedi menjelaskan bahwa tren ini adalah respons cerdas generasi muda dalam melihat peluang.
Namun di sisi lain, hal ini juga memperlihatkan adanya kerentanan pada sistem ekonomi yang ada. Ketergantungan pada pekerjaan tambahan mengindikasikan bahwa upah dari pekerjaan formal belum mampu memberikan rasa aman dan jaminan finansial yang layak.
“Ini menunjukkan bahwa jaring pengaman dari pekerjaan formal utama mereka tidak cukup kuat,” ujarnya dalam sebuah diskusi publik, Sabtu (4/10/2025).
*Adaptasi Sekaligus Peringatan Dini*
Kemampuan Gen Z Samarinda untuk beradaptasi dengan mengambil dua pekerjaan patut diapresiasi sebagai bentuk ketahanan dan kreativitas.
Mereka menolak pasrah pada keadaan dan proaktif mencari solusi. Akan tetapi, tren ini juga berfungsi sebagai peringatan dini.
Jika kenaikan biaya hidup terus melampaui kenaikan upah, maka generasi muda produktif di kota ini berisiko mengalami kelelahan fisik dan mental, yang pada akhirnya dapat memengaruhi produktivitas mereka secara keseluruhan.
(Sf/Lo)