Cari disini...
Seputar Kaltim
Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana ke-XXI Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur (STIPER Kutim). (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Ketergantungan Kutai Timur (Kutim) terhadap sektor pertambangan yang tidak terbarukan dinilai perlu dikurangi secara bertahap. Lulusan Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur (STIPER) diminta mengambil bagian dalam pengembangan pertanian, termasuk mengolah hasil produksi agar memiliki nilai tambah di daerah.
Hal tersebut disampaikan Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, Idham Cholid, saat menghadiri wisuda sarjana ke-21 STIPER Kutim, Rabu (7/10/2026).
Idham mengatakan pertanian dalam arti luas, mulai dari ketahanan pangan, perkebunan, peternakan, perikanan hingga sektor produktif lainnya, perlu menjadi salah satu fondasi perekonomian Kutim ke depan.
Menurutnya, penguatan pertanian tidak cukup hanya dengan menghasilkan komoditas. Hasil pertanian perlu diolah di daerah sehingga tidak berhenti sebagai produk mentah.
“Kunci utamanya terletak pada hilirisasi. Hasil pertanian kita tidak boleh lagi dijual mentah, melainkan harus diolah di daerah kita sendiri agar memiliki nilai tambah yang tinggi bagi perekonomian lokal,” ujar Idham.
Pengembangan pertanian juga tidak terlepas dari perkembangan teknologi. Idham menyebut pengelolaan data, penggunaan drone, otomasi hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat digunakan untuk membantu pengelolaan pertanian.
Namun, ia mengingatkan penggunaan teknologi tetap membutuhkan peran manusia, terutama dalam penerapannya di lapangan.
“AI dan teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Gunakan teknologi dengan kreativitas, etika, dan keberpihakan yang nyata kepada para petani di lapangan,” katanya.
Idham juga meminta lulusan STIPER tidak berhenti pada upaya mencari pekerjaan. Mereka dapat mengembangkan inovasi, membuka usaha dan menciptakan lapangan kerja baru dengan menjadi agripreneur.
“Jangan menjadi generasi yang hanya menyaksikan perubahan Kutim. Jadilah generasi yang menentukan ke mana Kutai Timur bergerak, dari daerah yang kaya sumber daya alam menjadi daerah yang kaya akan sumber daya manusia, teknologi, pangan, dan nilai tambah,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua I Bidang Akademik STIPER Kutim, Kahar, menyampaikan 65 mahasiswa mengikuti wisuda sarjana ke-21 tahun 2026.
“Wisuda Sarjana ke-21 STIPER Kutim diikuti oleh 65 orang wisudawan dan wisudawati dari lima program studi,” kata Kahar.
Para lulusan tersebut berasal dari Program Studi Agroteknologi, Kehutanan, Teknik Pertanian, Ilmu Kelautan, Peternakan, serta Konsentrasi Studi Agribisnis pada Program Studi Agroteknologi.
Kahar mengatakan para mahasiswa yang diwisuda telah menyelesaikan proses pendidikan dan tugas akhir sesuai ketentuan akademik yang berlaku di STIPER Kutai Timur.
Ia menyebut, lulusan tahun ini meraih predikat dengan pujian dan sangat memuaskan. Penetapan lulusan terbaik dilakukan berdasarkan evaluasi indeks prestasi kumulatif, masa studi, dan nilai mata kuliah selama menempuh pendidikan.
“Rata-rata lama studi wisudawan secara keseluruhan mencapai 4 tahun 11 bulan,” ucapnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana ke-XXI Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur (STIPER Kutim). (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Ketergantungan Kutai Timur (Kutim) terhadap sektor pertambangan yang tidak terbarukan dinilai perlu dikurangi secara bertahap. Lulusan Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur (STIPER) diminta mengambil bagian dalam pengembangan pertanian, termasuk mengolah hasil produksi agar memiliki nilai tambah di daerah.
Hal tersebut disampaikan Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, Idham Cholid, saat menghadiri wisuda sarjana ke-21 STIPER Kutim, Rabu (7/10/2026).
Idham mengatakan pertanian dalam arti luas, mulai dari ketahanan pangan, perkebunan, peternakan, perikanan hingga sektor produktif lainnya, perlu menjadi salah satu fondasi perekonomian Kutim ke depan.
Menurutnya, penguatan pertanian tidak cukup hanya dengan menghasilkan komoditas. Hasil pertanian perlu diolah di daerah sehingga tidak berhenti sebagai produk mentah.
“Kunci utamanya terletak pada hilirisasi. Hasil pertanian kita tidak boleh lagi dijual mentah, melainkan harus diolah di daerah kita sendiri agar memiliki nilai tambah yang tinggi bagi perekonomian lokal,” ujar Idham.
Pengembangan pertanian juga tidak terlepas dari perkembangan teknologi. Idham menyebut pengelolaan data, penggunaan drone, otomasi hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat digunakan untuk membantu pengelolaan pertanian.
Namun, ia mengingatkan penggunaan teknologi tetap membutuhkan peran manusia, terutama dalam penerapannya di lapangan.
“AI dan teknologi adalah alat bantu, bukan pengganti peran manusia. Gunakan teknologi dengan kreativitas, etika, dan keberpihakan yang nyata kepada para petani di lapangan,” katanya.
Idham juga meminta lulusan STIPER tidak berhenti pada upaya mencari pekerjaan. Mereka dapat mengembangkan inovasi, membuka usaha dan menciptakan lapangan kerja baru dengan menjadi agripreneur.
“Jangan menjadi generasi yang hanya menyaksikan perubahan Kutim. Jadilah generasi yang menentukan ke mana Kutai Timur bergerak, dari daerah yang kaya sumber daya alam menjadi daerah yang kaya akan sumber daya manusia, teknologi, pangan, dan nilai tambah,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua I Bidang Akademik STIPER Kutim, Kahar, menyampaikan 65 mahasiswa mengikuti wisuda sarjana ke-21 tahun 2026.
“Wisuda Sarjana ke-21 STIPER Kutim diikuti oleh 65 orang wisudawan dan wisudawati dari lima program studi,” kata Kahar.
Para lulusan tersebut berasal dari Program Studi Agroteknologi, Kehutanan, Teknik Pertanian, Ilmu Kelautan, Peternakan, serta Konsentrasi Studi Agribisnis pada Program Studi Agroteknologi.
Kahar mengatakan para mahasiswa yang diwisuda telah menyelesaikan proses pendidikan dan tugas akhir sesuai ketentuan akademik yang berlaku di STIPER Kutai Timur.
Ia menyebut, lulusan tahun ini meraih predikat dengan pujian dan sangat memuaskan. Penetapan lulusan terbaik dilakukan berdasarkan evaluasi indeks prestasi kumulatif, masa studi, dan nilai mata kuliah selama menempuh pendidikan.
“Rata-rata lama studi wisudawan secara keseluruhan mencapai 4 tahun 11 bulan,” ucapnya.
(Sf/Rs)