Seputar Kaltim

    Kerap Dilanda Banjir, Aktivitas Belajar di SDN 013 Samarinda Utara Terganggu

    Penulis:Tria|Redaktur:Buniyamin
    17 Agustus 2024 pukul 15:52 WITA

    Sosok pembawa bendera sang saka merah putih, Diva Febriani. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Sekolah Dasar Negeri (SDN) 013 Samarinda Utara, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali diterjang banjir setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut pada Sabtu (17/8/2024) pagi tadi.

    Kepala SDN 013 Samarinda Utara, Rasidi mengaku ketinggian banjir kali ini diperkirakan mencapai satu meter dan masuk ke dalam ruang kelas.

    Kondisi ini, kata dia, bukan pertama kali terjadi. Sebab setiap hujan deras, sekolah tersebut kerap dilanda banjir. “Setiap kali hujan deras, pasti banjir," ungkap Rasidi. 

    Pihaknya selalu mengantisipasi anak-anak agar tidak sampai merasakan banjir di sekolah, sehingga ketika proses belajar mengajar berlangsung dan cuaca di luar tampak mendung, orang tua akan segera diberi tahu untguk menjemput anak-anaknya. 

    "Jangan sampai hujan turun dan anak-anak masih berada di sekolah,” bebernya. 

    Rasidi menuturkan, banjir yang melanda sekolahnya tidak berlangsung lama. Biasanya, air akan surut dalam waktu tiga jam.

    Meski begitu, ia menilai jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka akan sangat mengganggu proses belajar di sekolah tersebut.

    Belum lagi setelah banjir surut, lumpur tebal sering kali tertinggal dan memaksa guru, siswa hingga orang tua untuk bekerjasama membersihkan sisa-sisa kotoran dari banjir. 

    “Jika lumpur tebal, biasanya ada relawan yang datang membantu dan orang tua murid juga ikut serta bergotong royong. Tapi kondisi ini kalau dibiarkan terus sangat mengganggu proses belajar,” tambahnya.

    Terkait upaya perbaikan, Rasidi mengaku Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah membangun satu unit bangunan baru dengan empat ruang kelas. 

    Rencananya, kata dia, akan ada lanjutan pembangunan pada bangunan lainnya yang ditingkatkan menjadi dua lantai dengan anggaran Rp5,5 miliar pada 2024 ini.

    Namun, Rasidi menyebut rencana tersebut batal karena adanya pengalihan dana untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak. 

    “Saya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda pada awal tahun 2024 dan mereka menginformasikan nominal anggaran untuk bangunan baru. Tetapi setelah waktu berjalan, pembangunan tersebut dibatalkan karena dana dialihkan,” jelasnya.

    Bangunan yang terdampak banjir ini merupakan bangunan sekolah lama yang terdiri dari tiga kelas dan rencananya akan dibangun dua tingkat pada pembangunan yang akan datang. 

    Menurutnya, banjir yang sering melanda sekolah yang berada di Jalan Sukorejo, Kelurahan Lempake ini disebabkan oleh lokasi sekolah yang berada di daerah rendah serta tersumbatnya saluran air di muara. 

    Ia berharap agar segera ada pembangunan pondasi keliling untuk sekolah tersebut agar lahan bisa ditinggikan sehingga setidaknya setara dengan halaman masjid yang berada di dekat sekolah. 

    “Jika sudah seperti itu, insyaallah tidak akan tergenang lagi,” tutupnya.

    (Sf/By)

    Seputar Kaltim

    Kerap Dilanda Banjir, Aktivitas Belajar di SDN 013 Samarinda Utara Terganggu

    Penulis:Tria|Redaktur:Buniyamin
    17 Agustus 2024 pukul 15:52 WITA

    Sosok pembawa bendera sang saka merah putih, Diva Febriani. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Sekolah Dasar Negeri (SDN) 013 Samarinda Utara, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali diterjang banjir setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut pada Sabtu (17/8/2024) pagi tadi.

    Kepala SDN 013 Samarinda Utara, Rasidi mengaku ketinggian banjir kali ini diperkirakan mencapai satu meter dan masuk ke dalam ruang kelas.

    Kondisi ini, kata dia, bukan pertama kali terjadi. Sebab setiap hujan deras, sekolah tersebut kerap dilanda banjir. “Setiap kali hujan deras, pasti banjir," ungkap Rasidi. 

    Pihaknya selalu mengantisipasi anak-anak agar tidak sampai merasakan banjir di sekolah, sehingga ketika proses belajar mengajar berlangsung dan cuaca di luar tampak mendung, orang tua akan segera diberi tahu untguk menjemput anak-anaknya. 

    "Jangan sampai hujan turun dan anak-anak masih berada di sekolah,” bebernya. 

    Rasidi menuturkan, banjir yang melanda sekolahnya tidak berlangsung lama. Biasanya, air akan surut dalam waktu tiga jam.

    Meski begitu, ia menilai jika hal ini dibiarkan terus-menerus, maka akan sangat mengganggu proses belajar di sekolah tersebut.

    Belum lagi setelah banjir surut, lumpur tebal sering kali tertinggal dan memaksa guru, siswa hingga orang tua untuk bekerjasama membersihkan sisa-sisa kotoran dari banjir. 

    “Jika lumpur tebal, biasanya ada relawan yang datang membantu dan orang tua murid juga ikut serta bergotong royong. Tapi kondisi ini kalau dibiarkan terus sangat mengganggu proses belajar,” tambahnya.

    Terkait upaya perbaikan, Rasidi mengaku Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah membangun satu unit bangunan baru dengan empat ruang kelas. 

    Rencananya, kata dia, akan ada lanjutan pembangunan pada bangunan lainnya yang ditingkatkan menjadi dua lantai dengan anggaran Rp5,5 miliar pada 2024 ini.

    Namun, Rasidi menyebut rencana tersebut batal karena adanya pengalihan dana untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak. 

    “Saya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda pada awal tahun 2024 dan mereka menginformasikan nominal anggaran untuk bangunan baru. Tetapi setelah waktu berjalan, pembangunan tersebut dibatalkan karena dana dialihkan,” jelasnya.

    Bangunan yang terdampak banjir ini merupakan bangunan sekolah lama yang terdiri dari tiga kelas dan rencananya akan dibangun dua tingkat pada pembangunan yang akan datang. 

    Menurutnya, banjir yang sering melanda sekolah yang berada di Jalan Sukorejo, Kelurahan Lempake ini disebabkan oleh lokasi sekolah yang berada di daerah rendah serta tersumbatnya saluran air di muara. 

    Ia berharap agar segera ada pembangunan pondasi keliling untuk sekolah tersebut agar lahan bisa ditinggikan sehingga setidaknya setara dengan halaman masjid yang berada di dekat sekolah. 

    “Jika sudah seperti itu, insyaallah tidak akan tergenang lagi,” tutupnya.

    (Sf/By)