Seputar Kaltim

    Kepala SDN 018 Samarinda Tepis Isu Praktik Jual Beli Buku di Sekolahnya

    Penulis:Firzatullah Akbar|Redaktur:Rusdianto
    15 Juli 2024 pukul 17:35 WITA

    SDN 018 Samarinda Ulu. (Firza/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 018 Samarinda, Mieke Eliana menepis informasi yang beredar di media sosial (Medsos) terkait dugaan jual beli buku dengan harga yang memberatkan orang tua murid. Diberitakan sebelumnya, seorang wali murid curhat di Medsos karena harga buku belajar anaknya yang mahal dan mempertanyakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang tidak jelas, karena kondisi sekolah masih cukup memperihatinkan.

    Mieke menjelaskan, bahwa sekolah hanya menyampaikan harga buku yang dikeluarkan penerbit, tetapi belum mengetahui informasi terkait buku yang digunakan penerbitnya apa.

    "Terkait buku kami tidak pernah menjual, kami hanya meneruskan informasi list harga dari penerbit," ucap Mieke saat dikonfirmasi pada Senin, (15/7/2024) siang tadi.

    Ia menuturkan, buku yang disarankan dari penerbit lalu diinformasikan ke wali murid melalui wali kelas supaya buku yang dibeli tidak berbeda agar memudahkan proses belajar di kelas.

    "Melalui wali kelas, lalu diteruskan ke wali murid, biasanya inisiatif dari wali kelas untuk di dikumpulkan uangnya nanti dibelikan ke satu tempat supaya tidak berbeda jenis buku yang dibeli nanti," jelasnya.

    Saat ditanya terkait buku yang disediakan oleh sekolah, Mieke mengatakan, memang ada anggaran dari pemerintah dan disediakan buku di perpustakaan. Tetapi, tidak cukup untuk digunakan oleh semua murid. Maka dari itu, disarankan untuk membeli buku sendiri dari luar sekolah.

    "Ada anggaran dari pemerintah dan Kita ada sediakan buku di perpustakaan untuk dipinjamkan ke murid tapi jumlah murid kita kan ada 500 lebih jadi kita sarankan juga untuk beli diluar juga, kalau dari sekolah saja tidak cukup," katanya.

    Melalui penuturannya buku yang disediakan sekolah bisa dipakai murid untuk belajar dikelas tetapi tidak boleh dibawa pulang karena ditakutkan hilang atau robek.

    Mieke juga menyampaikan, dirinya sempat di panggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Kota Samarinda terkait masalah ini. Dalam pertemuan tersebut dirinya disuruh oleh kepala dinas, Asli Nuryadin, menyelesaikan masalah yang ada agar kedepan tidak terjadi lagi hal seperti ini.

    "Saya sempat dipanggil ke Disdik, saya jelaskan kalau tidak benar ada jual beli buki, dan disuruh selesaikan dengan musyawarah supaya tidak ada masalah lagi," jelasnya.

    Hasil dari pertemuan dengan Disdik, dirinya mengaku mendapat bantuan untuk perbaikan lapangan sekolah yang mana kondisinya cukup memperihatinkan.

    "Ada hikmahnya juga, alhamdulilah sekolah dapat bantuan perbaikan lapangan yang kondisinya kurang baik,"sampainya.

    Dalam pertemuan di sekolah, sempat terjadi cekcok antara guru-guru dengan pihak yang bersangkutan sebab pihak sekolah merasa tersinggung dengan informasi yang beredar karena menurut mereka informasinya tidak benar.

    "Guru-guru naik pitam karena baca komen-komen di sosmed itu banyak menyudutkan guru-guru, makanya sempat emosi ke yang bersangkutan," tutur Mieke.

    Menengahi persoalan tersebut, dirinya menegaskan kalau masalah ini sudah selesai dan yang terpenting adalah solusi kedepan agar proses belajar mengejar bisa lebih nyaman.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Kepala SDN 018 Samarinda Tepis Isu Praktik Jual Beli Buku di Sekolahnya

    Penulis:Firzatullah Akbar|Redaktur:Rusdianto
    15 Juli 2024 pukul 17:35 WITA

    SDN 018 Samarinda Ulu. (Firza/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 018 Samarinda, Mieke Eliana menepis informasi yang beredar di media sosial (Medsos) terkait dugaan jual beli buku dengan harga yang memberatkan orang tua murid. Diberitakan sebelumnya, seorang wali murid curhat di Medsos karena harga buku belajar anaknya yang mahal dan mempertanyakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang tidak jelas, karena kondisi sekolah masih cukup memperihatinkan.

    Mieke menjelaskan, bahwa sekolah hanya menyampaikan harga buku yang dikeluarkan penerbit, tetapi belum mengetahui informasi terkait buku yang digunakan penerbitnya apa.

    "Terkait buku kami tidak pernah menjual, kami hanya meneruskan informasi list harga dari penerbit," ucap Mieke saat dikonfirmasi pada Senin, (15/7/2024) siang tadi.

    Ia menuturkan, buku yang disarankan dari penerbit lalu diinformasikan ke wali murid melalui wali kelas supaya buku yang dibeli tidak berbeda agar memudahkan proses belajar di kelas.

    "Melalui wali kelas, lalu diteruskan ke wali murid, biasanya inisiatif dari wali kelas untuk di dikumpulkan uangnya nanti dibelikan ke satu tempat supaya tidak berbeda jenis buku yang dibeli nanti," jelasnya.

    Saat ditanya terkait buku yang disediakan oleh sekolah, Mieke mengatakan, memang ada anggaran dari pemerintah dan disediakan buku di perpustakaan. Tetapi, tidak cukup untuk digunakan oleh semua murid. Maka dari itu, disarankan untuk membeli buku sendiri dari luar sekolah.

    "Ada anggaran dari pemerintah dan Kita ada sediakan buku di perpustakaan untuk dipinjamkan ke murid tapi jumlah murid kita kan ada 500 lebih jadi kita sarankan juga untuk beli diluar juga, kalau dari sekolah saja tidak cukup," katanya.

    Melalui penuturannya buku yang disediakan sekolah bisa dipakai murid untuk belajar dikelas tetapi tidak boleh dibawa pulang karena ditakutkan hilang atau robek.

    Mieke juga menyampaikan, dirinya sempat di panggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Kota Samarinda terkait masalah ini. Dalam pertemuan tersebut dirinya disuruh oleh kepala dinas, Asli Nuryadin, menyelesaikan masalah yang ada agar kedepan tidak terjadi lagi hal seperti ini.

    "Saya sempat dipanggil ke Disdik, saya jelaskan kalau tidak benar ada jual beli buki, dan disuruh selesaikan dengan musyawarah supaya tidak ada masalah lagi," jelasnya.

    Hasil dari pertemuan dengan Disdik, dirinya mengaku mendapat bantuan untuk perbaikan lapangan sekolah yang mana kondisinya cukup memperihatinkan.

    "Ada hikmahnya juga, alhamdulilah sekolah dapat bantuan perbaikan lapangan yang kondisinya kurang baik,"sampainya.

    Dalam pertemuan di sekolah, sempat terjadi cekcok antara guru-guru dengan pihak yang bersangkutan sebab pihak sekolah merasa tersinggung dengan informasi yang beredar karena menurut mereka informasinya tidak benar.

    "Guru-guru naik pitam karena baca komen-komen di sosmed itu banyak menyudutkan guru-guru, makanya sempat emosi ke yang bersangkutan," tutur Mieke.

    Menengahi persoalan tersebut, dirinya menegaskan kalau masalah ini sudah selesai dan yang terpenting adalah solusi kedepan agar proses belajar mengejar bisa lebih nyaman.

    (Sf/Rs)