Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati sebut peran ibu dalam keluarga sangat penting untuk mencegah stunting. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menyoroti penyebab utama kasus stunting di sejumlah wilayah. Menariknya, stunting di kota ini tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan, melainkan lebih disebabkan oleh pola asuh dan rendahnya kesadaran gizi dalam keluarga.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati menyampaikan, bahwa banyak kasus stunting justru ditemukan pada keluarga yang tergolong mampu secara ekonomi.
“Tidak semua stunting berasal dari keluarga miskin. Kadang ibunya kurang memperhatikan cara memberi makan anak. Ini bukan soal mampu atau tidak, tetapi soal pola asuh dan kesadaran,” ucap Alwiati kepada media, Minggu (12/10/2025).
Menurutnya, peran ibu dalam keluarga sangat penting untuk mencegah stunting. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menyiapkan makanan bergizi dari bahan yang tersedia di rumah, tanpa harus mahal atau menggunakan perlengkapan khusus.
“Ibu harus kreatif membuat makanan sendiri agar anak mau makan. Tidak perlu mahal, yang penting bergizi dan higienis,” imbuhnya.
Ia juga menyarankan agar anak dibiasakan makan bersama keluarga, karena momen tersebut tak hanya meningkatkan nafsu makan, tetapi juga membangun hubungan emosional yang positif antara anak dan orang tua.
“Biasakan anak makan makanan rumahan bersama keluarga. Jangan dipisahkan, karena makan bersama itu penting sekali,” tambahnya.
Terkait tren perlengkapan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kini banyak dibeli ibu muda, Alwiati menilai hal tersebut tidak terlalu diperlukan. Menurutnya, alat sederhana di rumah sudah cukup, asal kebersihannya terjaga.
Sebagai contoh menu, ia menyebut makanan rumahan seperti palumara (sup ikan khas Sulawesi) atau tahu telur bisa menjadi pilihan sehat dan bergizi, asal disesuaikan teksturnya dan tidak diberi cabai.
“Tahu telur itu bagus karena mengandung protein ganda. Cocok untuk anak kecil, tinggal disesuaikan saja,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ditambahkan, selain pola makan dan pola asuh, sanitasi lingkungan yang buruk juga berkontribusi terhadap kasus stunting, karena anak-anak yang sering mengalami diare akibat lingkungan tidak bersih akan sulit mengalami pertambahan berat badan.
“Kalau sanitasinya jelek, anak bisa sering diare. Berat badan susah naik, dan itu bisa memicu stunting,” tegasnya.
Dinkes Balikpapan akan terus menggencarkan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, khususnya para ibu muda, agar lebih peduli terhadap pola asuh, gizi anak, serta kebersihan lingkungan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menekan angka stunting di Kota Beriman.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati sebut peran ibu dalam keluarga sangat penting untuk mencegah stunting. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menyoroti penyebab utama kasus stunting di sejumlah wilayah. Menariknya, stunting di kota ini tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan, melainkan lebih disebabkan oleh pola asuh dan rendahnya kesadaran gizi dalam keluarga.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan, Alwiati menyampaikan, bahwa banyak kasus stunting justru ditemukan pada keluarga yang tergolong mampu secara ekonomi.
“Tidak semua stunting berasal dari keluarga miskin. Kadang ibunya kurang memperhatikan cara memberi makan anak. Ini bukan soal mampu atau tidak, tetapi soal pola asuh dan kesadaran,” ucap Alwiati kepada media, Minggu (12/10/2025).
Menurutnya, peran ibu dalam keluarga sangat penting untuk mencegah stunting. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menyiapkan makanan bergizi dari bahan yang tersedia di rumah, tanpa harus mahal atau menggunakan perlengkapan khusus.
“Ibu harus kreatif membuat makanan sendiri agar anak mau makan. Tidak perlu mahal, yang penting bergizi dan higienis,” imbuhnya.
Ia juga menyarankan agar anak dibiasakan makan bersama keluarga, karena momen tersebut tak hanya meningkatkan nafsu makan, tetapi juga membangun hubungan emosional yang positif antara anak dan orang tua.
“Biasakan anak makan makanan rumahan bersama keluarga. Jangan dipisahkan, karena makan bersama itu penting sekali,” tambahnya.
Terkait tren perlengkapan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kini banyak dibeli ibu muda, Alwiati menilai hal tersebut tidak terlalu diperlukan. Menurutnya, alat sederhana di rumah sudah cukup, asal kebersihannya terjaga.
Sebagai contoh menu, ia menyebut makanan rumahan seperti palumara (sup ikan khas Sulawesi) atau tahu telur bisa menjadi pilihan sehat dan bergizi, asal disesuaikan teksturnya dan tidak diberi cabai.
“Tahu telur itu bagus karena mengandung protein ganda. Cocok untuk anak kecil, tinggal disesuaikan saja,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ditambahkan, selain pola makan dan pola asuh, sanitasi lingkungan yang buruk juga berkontribusi terhadap kasus stunting, karena anak-anak yang sering mengalami diare akibat lingkungan tidak bersih akan sulit mengalami pertambahan berat badan.
“Kalau sanitasinya jelek, anak bisa sering diare. Berat badan susah naik, dan itu bisa memicu stunting,” tegasnya.
Dinkes Balikpapan akan terus menggencarkan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, khususnya para ibu muda, agar lebih peduli terhadap pola asuh, gizi anak, serta kebersihan lingkungan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menekan angka stunting di Kota Beriman.
(Sf/Rs)